Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 62 Masih mengharapkan?


__ADS_3

Jalanan yang macet karena jam pulang kerja tak terasa melelahkan dan membosankan karena di sebelahku kini duduk seorang wanita yang berstatus sebagai sahabatku, namun mamanya masih tertanam sangat dalam di lubuk hatiku yang terdalam.


Aku dan Celine berada dalam satu mobil hanya berdua saja, dan tentunya menggunakan mobilku. Sedangkan Dani dan Rian memakai mobilnya sendiri-sendiri dengan masing-masing wanita incaran mereka yang merupakan teman kerja Celine.


Kami bertiga berkendara layaknya berkendara dengan pasangan kami masing-masing. Dan tempat yang kami tuju adalah cafe milik Celine.


Entahlah mereka tahu atau tidak jika cafe ini milik Celine. Yang aku tahu hanyalah tempat ini merupakan salah satu tempat bersejarah untukku.


"Cel, apa mereka tau jika cafe itu milikmu?" tanyaku ketika masih berada di dalam mobil dan memarkirkan mobilku di depan cafe Celine.


"Mereka tidak tau Al," jawab Celine dengan senyum lebarnya.


"Tidak atau belum?" tanyaku menyelidik.


"Emmm... entahlah, aku hanya takut jikalau mereka akan keceplosan memberitahu Gio saat dia mencariku dan bertanya pada mereka," jawab Celine.


Jawaban Celine ini ada benarnya juga. Gio mampu membayar orang untuk mengawasi Celine. Dan aku juga tahu jika Gio mampu melakukan apa saja karena obsesinya untuk memiliki Celine kembali.


"Kamu memang cerdas Cel," aku memujinya dan dia terkekeh mendengar pujian dariku.


"Yuk Al, akan ku traktir kamu jika kamu bercerita padaku tentang masalahmu," ucap Celine ketika sudah melepas sabuk pengamannya.


Sontak saja aku menghentikan tanganku yang sedang melepas sabuk pengamanku.


See... apa aku bilang, dia pasti bisa mengetahui jika aku sedang memiliki masalah.


Aku tertawa dalam hatiku karena apa yang aku takutkan benar-benar terjadi. Dan kini aku hanya tinggal menghitung detik di mana Celine akan menungguku untuk bercerita.


Celine tersenyum padaku, kemudian di turun dan berkata,


"Gak usah kaget gitu Al. Aku udah hafal betul sikap dan kebiasaanmu."


Kemudian dia berjalan terlebih dahulu menuju cafenya. Aku bergegas berlari dan berhasil berjalan di sampingnya. Herannya, Celine seolah tertawa puas melihatku kaget karena ucapannya.


"Aku heran Cel, kamu bisa tau dari mana jika aku sekarang sedang memiliki masalah?" aku menanyakan apa yang ada di dalam pikiranku dan yang membuatku penasaran selama ini.


Celine menghentikan langkahnya dan menghadap ke arahku. Kemudian dia memandangku lekat dan menunjuk wajahku.

__ADS_1


"Hah, kenapa mukaku?" aku yang bodoh ini malah mempertanyakan penampilanku.


"Terlihat jelas di matamu Al," ucapnya yang membuatku bertambah bingung.


"Bagaimana cara melihatnya Cel? Bahkan istriku sendiri saja tidak pernah tau jika aku sedang mempunyai masalah," ucapku untuk meminta penjelasan dari Celine.


Celine kembali tersenyum dan menaikkan kedua pundaknya, sebagai tanda dia tidak tahu. Kemudian dia kembali berjalan masuk ke dalam cafenya.


Namun, ketika aku mengikutinya di belakangnya, Celine malah menghentikan langkahnya kembali, kemudian dia berkata,


"Terlihat juga dari sikapmu Al. Aku tau kamu sengaja menghindariku. Apa karena kamu gak ingin bercerita padaku Al?" tanyanya padaku.


Skakmat!!! Aku sudah tidak dapat mengelak lagi. Apa yang Celine katakan memanglah benar.


Jauh di belakang kami, Dion, Rian, Levi dan Sari melihat kami dari tempat parkir mobil mereka. Layaknya sedang menonton pertunjukan, mereka hanya mengamati kami tanpa mau mendekat ataupun menyusul kami masuk ke dalam cafe.


"Menurut kalian, mereka sedang apa?" tanya Dani pada Rian, Levi dan Sari.


"Mungkin sedang bertengkar," jawab Rian yang ikut menebak.


"Mereka pasti sedang beda pendapat," Sari menebak apa yang dilihatnya.


Sontak saja Dani, Rian dan Sari menoleh ke arah Levi.


"Kenapa? Bisa aja kan?" ucapnya membuat mereka semua menggeleng.


"Hei... kalian! Cepatlah ke sini!" Celine berteriak memanggil Dani, Rian, Levi dan Sari.


Dan mereka berempat pun segera berjalan cepat menuju dalam cafe. Setelah itu, Celine mengajak kami untuk masuk ke dalam ruang VIP yang biasanya Celine dan aku makan berdua di tempat ini.


Acara makan kami berjalan dengan lancar. Rian, Dani, Levi dan Sari kini mulai dekat. Mungkin sebentar lagi mereka akan pacaran.


Setelah dirasa cukup, mereka beranjak untuk pulang terlebih dahulu. Dan saatnya aku kini di tatap Celine dengan tatapan menyelidikinya.


Aku diam saja untuk mengolah kata-kata hang tepat. Aku tidak mau jika akibat dari ucapanku sendiri, Celine malah mejauhiku.


"Ada apa Al? Apa kamu gak mau bercerita?" Celine kembali bertanya padaku dengan menatapku secara intens.

__ADS_1


"Bukannya begitu Cel. Hanya saja aku gak mau merepotkan kamu dengan ikut memikirkan masalahku," jawabku sambil menggoyang-goyangkan gelasku yang masih berisi separuh orange jus.


"Sejak kapan Al kamu hanya merepotkanku? Bukankah kita berjanji saling membantu?" kulihat Celine kini berubah kesal padaku.


"Maaf Cel, maafkan aku. Sebenarnya aku hanya malu saja akan menceritakan padamu," ucapku untuk menenangkan Celine agar tidak marah padaku.


Celine hanya diam saja sambil menatapku lekat, dan itu merupakan alarm untukku seperti tanda hati-hati karena Celine akan marah padaku jika aku tidak bercerita padanya.


"Baiklah Cel aku akan cerita padamu," ucapku kemudian.


Aku serasa berat menghela nafasku, kemudian aku menceritakan apa yang terjadi. Semuanya aku ceritakan pada Celine. Karena dia memang audah mengetahui semuanya tentang hubunganku dengan istriku.


Celine tetap melihatku, namun kita pandangannya berbeda. Dia nampak sedih ketika mengetahui Diana memintaku untuk menceraikannya.


"Aku bingung Cel harus bagaimana. Aku sudah melakukan semuanya, bahkan aku sekuat tenaga dan dengan sabarnya aku berusaha selama ini untuk menjadi suami dan ayah terbaik bagi mereka. Dan itu juga sesuai dengan yang kamu inginkan dariku," ucapku dengan lirih dan lesu.


"Maaf Al, bukannya aku memaksamu untuk bercerita padaku. Hanya saja aku ingin kamu berbagi kesedihanmu dan masalahmu denganku. Bukankah kita sahabat seperti yang kamu selalu katakan padaku?" Celine menyadarkanku jika aku memang butuh tempat berkeluh kesah dan membagi kegelisahan, masalah dan kesedihanku.


"Tapi aku hanya gak mau kamu ikut pusing memikirkan masalahku Cel," ucapku sambil terkekeh.


"Jadi?"


"Jadi apa Cel?" tanyaku mengulangi ucapannya.


"Apa keputusanmu? Kamu akan mempertahankan keluargamu kan?" tanyanya padaku dengan khawatirnya.


Aku terkekeh melihat raut kekhawatiran di wajah cantik Celine.


"Kamu gak perlu khawatir Cel. Aku akan mempertahankan keluargaku sebisa mungkin. Karema aku gak mau pisah dengan anak-anakku," jawabku untuk menenangkannya.


"Syukurlah Al. Aku takut jika kamu emosi dan menuruti permintaan dari istrimu," ucapnya yang kini menampilkan kelegaannya.


"Sebenarnya aku ingin sekali pisah dengannya Cel karena semakin hari sikapnya semakin aneh, tidak seperti Diana yang aku kenal..Tapi ketika aku mengingat dan terbayang wajah Dave dan Laura, aku mengubur kembali keinginanku itu," ucapku dengan lesu.


"Berusahalah dulu Al untuk mempertahankan keutuhan keluargamu," Celine mengatakan kembali kalimat ini setiap aku ada masalah dengan Diana.


"Seandainya saja Cel istriku itu adalah kamu, pasti aku gak akan mengalami ini semua," kalimat ini tanpa sadar aku ucapkan.

__ADS_1


"Apa kamu masih mengharapkan ku Al?"


__ADS_2