
"Tenang ya, ada aku di sini."
Aku menenangkan Celine dengan memeluknya. Dia terisak, menangis di pelukanku. Tidak lagi ku pikirkan Celine akan marah padaku nantinya. Yang aku inginkan dia tenang dan tidak menangis lagi.
Entah berapa lama aku memeluknya hingga aku lupa jika masih ada penculik itu di belakangku. Mungkin dia sudah pingsan, atau mungkin sudah mati? Aku tak tahu karena aku masih belum bisa menoleh ke belakang. Celine masih betah menangis dalam pelukanku.
"Jangan bergerak!"
"Angkat tangan kalian!"
Sontak saja aku dan Celine kaget, kami melepaskan pelukan kami. Namun sebelum aku menyingkir dari hadapan Celine, segera ku lepaskan jas ku dan ku pakaikan pada Celine untuk menutupi pakaiannya yang sudah dikoyak oleh si penculik itu.
Aku menoleh ke belakang, namun sialnya aku tidak melihat si penculik itu. Mataku sudah menyusuri seluruh ruangan dan aku pun tidak menemukannya.
"Sial!"
"Gio, brengsek!!!"
Aku berteriak emosi karena kehilangan penculik sialan itu. Aku belum menghukumnya. Dan demi Tuhan aku akan memberikannya pelajaran.
"Silahkan kalian ikut kami ke kantor polisi," ucap salah satu petugas kepolisian pada kami.
Aku pun mengangguk dan membantu Celine untuk berjalan bersamaku keluar dari tempat terkutuk itu.
Sebagian polisi sedang berpencar untuk mencari Gio yang menculik Celine. Dalam hati kami berdua berdoa agar Gio bisa cepat tertangkap dan mendapat hukuman yang sesuai.
"Al, apa Gio akan tertangkap?" Celine bertanya padaku dengan suara yang bergetar.
Aku melihat ketakutan dikedua matanya dan aku harap dia tidak trauma dengan kejadian yang membuatnya terkurung selama kurang lebih dua malam di sana.
Kami dibawa ke kantor polisi untuk memberikan keterangan lebih lanjut. Dan kedua orang tua Celine pun datang bersama dengan tante Shela.
__ADS_1
Ibu Celine menangis melihat keadaan Celine yang menyedihkan. Pakaian, rambut dan wajah Celine terlihat berantakan, serta jejak air mata yang selalu menetes masih saja bisa terlihat oleh ibunya.
Tidak ada yang bisa mengalahkan insting seorang ibu. Semua dia ketahui jika menyangkut tentang anaknya. Apapun itu, tidak terkecuali.
Ibu Celine memeluk tubuh anaknya itu. Bahu Celine bergetar naik turun di pelukan ibunya. Aku yakin, kini Celine kembali menangis di pelukan ibunya.
"Kami masih mencari saudara Gio yang menculik anak Bapak. Untuk sekarang ini Bapak bisa membawa saudari Celine untuk pulang ke rumah. Jika kami membutuhkan kesaksian dari saudari Celine, kami akan datang ke rumah Bapak."
Polisi yang tadinya memberi kami beberapa pertanyaan itu kini menjelaskan pada Ayah Celine untuk membawa Celine pulang ke rumah.
Aku mengantarkan mereka menggunakan mobilku karena Ayah Celine menggunakan mobil tante Shela ketika datang ke kantor polisi. Dan tante Shela segera pulang karena dia meninggalkan anaknya yang masih umur sepuluh tahun terbangun dari tidurnya dan menghubunginya agar cepat pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Celine segera membersihkan badannya dengan ditemani oleh ibunya. Dan aku masih menunggunya di ruang tamu untuk menceritakan semua kejadian itu berawal pada ayah Celine.
"Kami, Ayah dan Ibu Celine mengucapkan terima kasih pada Nak Alex karena sudah menyelamatkan Celine tepat pada waktunya."
Tampak raut kesedihan pada wajah ayah Celine. Beliau menghela nafasnya terasa berat ketika akan melanjutkan kembali ucapannya.
"Kami tidak tau bagaimana nantinya jika Nak Alex tidak mencari tau, tidak lapor polisi dan tidak datang tepat pada waktunya menolong anak kami. Pasti kami akan sangat menyesal."
"Celine... sini Nak, Ayah mau bicara," ayah Celine memanggil Celine untuk datang ke ruang tamu.
Celine pun yang sedang menerima suapan dari ibunya terpaksa harus pindah tempat ke ruang tamu bersama ibunya yang setia menyuapi anaknya.
"Kamu harus tinggal di sini lagi karena Gio masih belum ditemukan," ucap ayah Celine dengan suara yang rendah agar anaknya tidak teringat kembali kejadian penculikan itu.
Celine pun mengangguk menyetujui permintaan ayahnya. Ibu Celine tersenyum dan mengusap rambut Celine dengan lembut setelah menyuapi anaknya itu.
Setelah mendengarkan bahwa Celine akan tinggal di rumah orang tuanya, aku merasa tenang dan meninggalkan rumah kedua orang tua Celine dengan lega.
Entah apa yang akan terjadi jika aku tidak menemukannya. Apa aku bisa tenang menjalani hari-hariku? Aku pasti akan merasa sangat bersalah pada diriku sendiri.
__ADS_1
Janjiku untuk melindunginya dari jauh nyatanya hanya sebuah janji. Dan kini aku kecolongan, Gio si brengsek sialan itu bisa menculik Celine tanpa sepengetahuan siapa pun.
Semua mengira bahwa Gio tidak akan bisa menemukan tempat tinggal Celine. Nyatanya dia menguntit Celine sudah sangat lama. Dan kami sebagai orang terdekat Celine merasa bodoh dan kecolongan karena penculikan ini.
Keesokan harinya aku datang untuk menjenguk Celine di rumah kedua orang tuanya. Aku ingin tahu bagaimana keadaan Celine saat ini.
Masih samakah seperti kemarin ataukah sudah lebih baik? Pertanyaan ini ingin aku jawab dengan datang ke rumahnya secara langsung.
Sudah satu minggu berlalu setelah kasus penculikan itu. Gio masih belum ditemukan, dan hal itu membuat aku dan keluarga Celine menjadi lebih cemas.
Celine masih tinggal di rumah kedua orang tuanya, namun dia sudah mau bekerja lagi.
"Aku gak bisa terus-terusan seperti ini Al. Aku harus melakukan rutinitasku kembali seperti dulu. Dan masa cutiku akan segara berakhir. Biarkan aku bekerja dan menjalani hari-hariku kembali."
Ucapan Celine memang benar. Aku tahu jika dia memang wanita yang hebat, dan tidak lemah meskipun dia hanya berpura-pura tegar dam kuat saja.
"Baiklah, tapi aku harap kamu harus ada yang mengantar jemput Cel. Jika ayahmu tidak bisa mengantar jemputmu, hubungi aku. Aku akan selalu siap untukmu."
"Terima kasih Al. Kamu baik sekali. Mungkin aku gak bisa membalas semua kebaikan kamu," ucapnya sambil tersenyum manis padaku.
"Aku ikhlas Cel. Aku tau jika cara kita saling melindungi itu berbeda. Kamu selalu melindungiku dengan nasehat-nasehatmu. Sedangkan aku tidak pandai dalam menasehati orang lain karena hidupku sendiri seperti ini. Aku hanya bisa melindungi... ya... seperti ini. Jadi aku harap kamu gak risih jika mungkin aku selalu ada di dekatmu," ucapku sambil terkekeh dan disambut tawa oleh Celine.
Kini saru bulan sudah semenjak penculikan itu terjadi. Dan Gio pun masih belum ditemukan. Sedangkan aku, aku juga masih belum bisa menemui anak-anakku.
Tadinya kedua orang tuaku memintaku untuk menuntut hak asuh Dave dan Laura, namun aku berpikir jika Dave dan Laura harus ditanyai terlebih dahulu pendapatnya. Karena jujur saja, meskipun aku sangat menginginkan hak asuh Dave dan Laura, aku tidak ingin mereka merasa terpaksa dan kembali menjadi korban keegoisan kedua orang tuanya.
"Ayah, apa boleh Celine pindah ke apartemen Celine sendiri?"
Celine bertanya pada ayahnya ketika mereka sedang bersantai sambil menonton televisi setelah menyantap makan malam.
"Celine, sebenarnya Ayah mempunyai syarat jika kamu ingin tinggal di luar rumah ini. Dan Ayah harap kamu bisa memikirkannya. Ayah dan Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Dan juga kami tidak ingin kejadian ini kembali terjadi karena Gio belum tertangkap."
__ADS_1
Ayah Celine menjeda ucapannya sambil memandang wajah anaknya untuk meyakinkannya.
"Syarat? Apa itu Ayah?"