
Pagi ini aku berangkat ke Malang dengan perasaan yang sangat tidak enak. Semalam aku sudah berpamitan pada kedua orang tuaku dan keluarga istriku. Aku menitipkan Diana dan kedua anakku pada mereka semua. Aku tidak punya banyak waktu sehingga aku hanya bisa berpamitan pada mereka melalui telepon.
Tidak ada lagi Dave yang mengantarkanku ke bandara. Mulai kejadian semalam Diana menghindariku, bahkan dia tidak menemuiku pada saat aku berpamitan padanya.
Aku terima itu semua karena aku tahu Diana pasti sangat kecewa padaku. Sehingga aku tidak mempermasalahkan kembali hal itu. Namun aku hanya ingin melihat wajah putriku, Laura.
Untuk setahun atau dua tahun ini aku terpisah dari mereka. Tapi seperti sebelumnya, aku akan pulang setiap minggu agar anak-anakku tidak jauh dariku.
Kantor ini sekarang menjadi tempatku selama satu atau dua tahun ke depan. Sebenarnya aku sangat senang kembali ke kota asalku jika saja Diana tidak dalam keadaan marah dan dia mau berada di kota ini bersamaku dan kedua anak-anakku. Sayangnya dia tidak mau, dengan alasan pendidikan Dave.
Memang sayang sekali jika Dave harus pindah sekolah. Tapi rumah tangga kami yang menjadi taruhannya. Aku yakin akan terus begini jika Diana tidak mau mengalah untuk mengukutiku. Karena sudah pasti aku akan berpindah-pindah ke kota yang lain untuk melakukan pekerjaanku sesuai dengan perintah. Dan aku sekarang hanya bisa berharap agar tidak lagi ada kejadian lain yang membuatku kehilangan keluargaku.
Bandara ini, bandara yang kini harus aku pijaki jika aku akan pergi dan datang ke kota Malang. Kulihat sekeliling untuk merasakan kembali berada di kota Malang.
"Al!" teriak seorang wanita yang kutahu itu suara dari wanita yang sangat ku rindukan.
Ya, benarlah apa yang ku tebak. Celine kini berada di depanku sekitar lima meter. Dia memanggilku yang sebenarnya aku tidak tahu kehadirannya di sana.
"Celine, apa yang sedang kamu lakukan?" tanyaku ketika aku sudah mendekat padanya.
"Aku baru saja mengantar tanteku ke luar kota Al. Kamu sendiri kenapa ada di kota ini?" Celine mengernyitkan dahinya, sepertinya dia bingung dengan kehadiranku di kota ini.
"Aku ditugaskan di kota ini Cel, mulai hari ini," jawabku yang membuat dia sangat kaget.
"Al, kamu bercanda? Bagaimana mungkin? Al kamu tau kan jika itu berarti kamu akan bertemu kembali dengan....," Celine menggantung kalimatnya, mungkin dia tidak enak padaku karena menyebutkan nama Reni.
"Reni?" tanyaku untuk menyambung ucapan Celine tadi.
__ADS_1
"Ya seperti yang kamu tau," jawabnya membuatku ingin mengatakan bahwa aku juga sebenarnya meankutkan hal itu.
"Aku tidak ada pilihan Cel. Oiya, apa kamu mau menemaniku makan? Aku belum sarapan sedari tadi," ucapku yang membuat Celine kembali kaget.
"Kau gila Al, ini sudah hampir sore dan kau bilang belum sarapan?" Celine kembali heran terhadapku.
"Aku berangkat pagi Cel, tapi aku dapat tiket yang siang, dan aku tidak nafsu makan," aku tersenyum getir.
"Kamu ada maslah Al? Tidak mungkin seorang Alex bisa melewatkan makan," Celine terkekeh mengucapkan kebiasaanku yang tidak pernah melewatkan jam makan sekalipun sedang sibuk.
Aku tersenyum kecut karena merasa ketahuan oleh Celine jika aku sedang ada masalah. Sebenarnya aku merahasiakan darinya kejadian semalam, tapi sepertinya ini tidak akan lagi jadi rahasia untuknya.
"Al, kami merahasiakan sesuatu dariku bukan? Ok lah Al jika itu mau mu," Celine membalikkan badannya untuk berjalan menjauhiku.
"Cel, Cicel. Tunggu!" aku mengejarnya dan berhasil menggapai tangan kanannya.
Celine menghempaskan tanganku yang memegang tangannya. Dia berhenti berjalan dan memandangku dengan penuh pertanyaan.
Celine pun tersenyum padaku dan memandangku dalam, kemudian dia berkata,
"Kamu masih percaya padaku Al?"
"Tentu saja Cel, aku... aku hanya malu mengatakannya padamu," jawabku yang merasa sangat malu jika menceritakan hal semalam pada Celine.
"Ya sudah, ayo kita ke tempat yang tidak akan membuatmu malu," ucapnya sambil menarik tanganku untuk berjalan bersamanya.
Tangan ini, tangan yang enggan aku lepas, tangan yang ingin selalu aku genggam, tangan yang ingin aku sematkan cincin pernikahan untuk menemaniku sampai hidupku usai.
__ADS_1
Aku melihat tangan Celine yang benar-benar ingin aku genggam selamanya untuk mengarungi hidupku bersamanya.
"Yuk Al masuk," ucap Celine dengan menekan kunci mobilnya.
Aku masuk ke dalam mobil Celine dan duduk di samping Celine yang sedang mengemudi. Aku tidak tahu dia akan mengajakku kemana. Seingatku tadi aku mengajaknya untuk pergi makan dan kemudian aku akan menceritakan tapi bukan di tempat umum. Kira-kira Celine akan mengajakku ke mana?
"Cel, kita akan pergi ke mana?" tanyaku sambil melihat pemandangan yang tidak akan membuatku jemu.
Aku melihat wajah Celine yang sama seperti pertama kali kita bertemu kembali sebelum aku menikah. Wajah yang sangat cantik, tapi sayangnya dia tidak mau jika dibilang cantik, dia lebih suka jika dibilang manis, dan alasannya belum aku ketahui. Wajah yang ceria dengan senyum manis menawan itu selalu membuatku merindukannya.
"Udahlah Al, nanti kamu pasti akan tau. Dan tempat ini akan menjadi tempatku untuk mencari nafkah selain kantor tempat aku bekerja," jawab Celine dengan wajah dan senyum penuh keceriaan.
Jujur saja, selama perjalanan aku tidak mengetahui jalan mana yang kami lewati karena mataku hanya tertuju pada Celine, pada satu objek yang sangat aku kagumi.
"Sudah Al, ayo kita turun," Celine mematikan mesin mobilnya dan itu membuatku tersadar jika sekarang kami telah sampai di tempat yang di maksud oleh Celine.
"Ce-LinA Cafe?!" ucapku tanpa sadar membaca tulisan cafe yang berada di depan bangunan cafe tersebut.
"Yuk Al masuk," ucapnya membuyarkan keherananku.
"Tapi Cel aku tidak bisa cerita di sini, kita makan saja di sini, ceritanya di tempat lain ya," ucapku seiring langkahku yang mengikuti langkah Celine karena lagi-lagi dia menarik tanganku.
"Udahlah Al, diem dulu," ucapnya yang merupakan perintah bagiku.
Aku mengatupkan mulutku, seiring langkah kaki kami memasuki cafe tersebut. Cafe ini sangat indah, banyak spot-spot yang sangat intagramable, sangat cocok untuk kaula muda dan bersifat cozy. Namun ada spot tertentu yang sangat romantis. Dan ada pula taman yang bisa dijadikan momen indah untuk acara tertentu.
Siapapun yang memiliki tempat ini dia pasti sangat paham bisnis dan mempunyai selera yang bagus.
__ADS_1
Tunggu, bukannya tadi Celine mengatakan bahwa ini tempatnya mencari nafkah selain di kantor? Apa mungkin dia bekerja di sini setelah pulang dari kantor? Tapi kenapa? Apa dia mengalami masalah keuangan? tidak terasa aku berbicara dalam hatiku selama memasuki cafe ini.
"Al, yuk masuk," ucap Celine ketika membuka sebuah ruangan privat.