Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 71 Suami macam apa?


__ADS_3

Malu? Tentu saja, aku sungguh malu menghadapi mata semua orang yang tertuju pada kami.


Ku hentikan langkah kakiku dan berbalik menghadapnya. Terlihat jelas jika dia sangat marah padaku. Dalam hatiku tertawa melihat reaksi Diana padaku di tempat umum kali ini.


Hei! Hanya karena ponsel dia bersikap kurang ajar begitu padaku? Sungguh hatiku menertawakan ketidakberdayaan diriku dalam mendidik seorang istri.


Lalu sekarang aku harus apa? Apa aku harus mendisiplinkannya agar menjadi istri yang baik untuk suaminya dan ibu yang baik untuk anak-anaknya?


Apakah itu bisa ku lakukan sekarang? Aku tidak gila, aku masih tahu malu dan tahu menempatkan diri. Kami sedang berada di tempat umum dan aku tidak mau mempermalukan diriku lebih dalam lagi.


Ku ambil ponselnya yang aku simpan dalam saku celanaku. Ku berikan ponsel itu padanya dan aku tinggalkan dia sendiri di sana.


Tangan kananku masih menggendong Laura dan tangan kiriku yang menggandeng Dave berusaha meraih tas yang berisikan perlengkapan Dave dan Laura.


Dengan perasaan kesal dan amarah yang membludak ku tinggalkan dia sendiri di sana. Entahlah dia akan pergi ke mana, sungguh aku sudah tidak peduli lagi.


Untuk saat ini aku memang berpikiran seperti itu karena aku sedang marah. Dan aku tidak yakin jika aku benar-benar bisa marah padanya karena dia merupakan ibu dari anak-anakku.


Aku tersenyum miring menertawakan nasibku. Ku kira Diana akan mengikuti kami karena Laura ada bersamaku, dan dia merasa menyesal, mungkin?


Namun nyatanya semua itu tidak terjadi. Dalam berapa menit aku menoleh kembali untuk melihat bagaimana reaksinya, namun apa yang terjadi, dia malah berjalan menuju pintu keluar.


Dia pergi meninggalkan kami, meninggalkan Laura yang masih sangat kecil dan selalu butuh sosok ibunya di sampingnya, Dave yang memang sudah mandiri namun masih butuh kasih sayang dan perhatian dari ibunya, serta aku suaminya yang membutuhkannya untuk bekerja sama menyenangkan hati anak-anak kami, membahagiakan mereka agar tidak pernah ada kata sedih dalam kamus kehidupan mereka.


Dadaku bergemuruh menahan amarah. Sungguh harga diriku sebagai pria dan seorang suami telah diinjak-injak olehnya yang notabene nya adalah istriku sendiri.


Oh God... apa aku masih harus mempertahankan hubungan kami yang tidak sehat ini? Tidak ada kebahagiaan, kasih sayang, cinta dan kedamaian dalam keluarga kami, Aku mengeluh dalam hatiku, mengeluarkan semua keluh kesahku.


Dave memang masih kecil, dan lihatlah kini dia kembali ceria bermain di dalam air dan memainkan semua wahana di sana.


Seandainya aku tidak bersama Laura, pasti aku akan bermain bersama Dave di dalam kolam air itu dan memainkan seluruh wahana yang ada hingga dia kelelahan dan bosan.

__ADS_1


Waktu yang bergulir begitu cepat membuat Laura dan Dave kelelahan. Sungguh merepotkan sekali membawa bayi dan anak kecil sendirian mengemudikan mobil.


Dave tertidur nyenyak di kursi penumpang di belakangku. Dan Laura ku dudukkan di kursi sampingku dengan sabuk pengaman yang ku pasangkan padanya.


Aku rasa Diana sudah berada di rumah saat ini. Sekarang sudah malam dan sangat tidak mungkin dia masih bersama teman-temannya mulai dari tadi siang hingga jam segini.


Sangat lelah lahir batin yang aku rasakan saat ini. Belum reda kemarahanku pada Diana, sekarang aku terjebak macetnya ibu kota, hingga malam hari aku belum sampai di rumah.


Hufffttt... ku hela nafasku lega ketika mobilku sudah berada di halaman rumahku. Segera ku bangunkan Dave dan ku gendong Laura untuk masuk ke dalam rumah.


Gelap, sangat gelap keadaan dalam rumahku. Dave menggandeng tanganku dengan erat karena takut.


"Pa... kok gelap sih?" katanya dengan suara yang bergetar.


"Apa mungkin Mama Dave belum pulang?" tanyaku pada Dave yang aku yakin Dave juga tidak tahu jawabannya.


"Nyalakan lampunya Pa," Dave memerintahku masih dengan suara yang bergetar dan tangannya memegangku dengan erat.


Dave dan Laura ku ajak ke kamar Dave dan ku baringkan mereka untuk tidur bersamaku. Untung saja mereka sudah aku ajak makan sebelum kami pulang ke rumah sehingga kini mereka bisa tertidur kembali tanpa harus merisaukan perut mereka.


Tanpa ku sadari aku tertidur di kamar Dave dengan Laura dan Dave yang tidur saling berpelukan. Ku lihat jam di pergelangan tanganku dan ternyata kini jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


Ceklek!


Ku dengar suara pintu terbuka. Aku yakin jika yang membuka pintu tersebut adalah Diana.


Sangat keterlaluan. Dia adalah seorang istri dan seorang ibu dari dua orang anak kecil dan bayi yang masih butuh perhatiannya. Tapi kenapa dia bisa melupakan kodratnya sebagai seorang ibu dengan bepergian lama tanpa anak-anaknya hingga malam hari menjelang pergantian hari?


Apa dia tidak berpikir jika anak-anaknya sangat membutuhkannya? Apa dia tidak merasa khawatir dengan anak-anaknya yang dia tinggalkan untuk bersenang-senang dengan teman-temannya?


Sekilas ada pertanyaan yang terbersit di benakku, sebenarnya apa saja yang dia lakukan dengan teman-temannya hingga larut malam seperti ini? Apakah teman-temannya juga bebas pulang hingga malam hari seperti ini? Apakah mereka tidak dilarang oleh suami mereka?

__ADS_1


Pertanyaan-pertanyaan itu semua ingin sekali aku tanyakan padanya. Entah aku bisa menanyakan padanya atau tidak, dan entah bagaimana Diana akan menanggapinya jika aku mempertanyakan itu semua padanya.


"Kenapa kalian semua ada di sini? Mana Laura? Kenapa tidak kau tempatkan dia di kamarnya?" tiba-tiba saja Diana masuk dan menghujaniku dengan beberapa pertanyaan yang bernada ketus seolah dia menyalahkanku.


Perlahan-lahan aku turun dari matras dan berjalan mendekati Diana. Ku raih tangannya dan ku tarik dia untuk keluar dari kamar Dave.


Tentu saja dia meronta melepaskan tangannya dari tanganku yang memegangnya dengan erat.


"Lepaskan!" dia berseru memerintahku untuk melepaskan tangannya.


Ku hempaskan tangannya ketika kami sudah berada di dalam kamar kami.


"Dari mana saja kamu?" tanyaku padanya tak kalah ketus dengan dirinya.


"Bersama teman-temanku. Kenapa?" tanyanya dengan congkaknya.


"Jam berapa ini? Apa mereka tidak dicari oleh suami dan anak-anaknya?" tanyaku dengan tegas.


"Mereka semua sangat mendukung istrinya. Tidak seperti kamu!"


Sungguh di luar dugaanku, dia berseru di depanku mengeluarkan sindiran yang tentunya menghinaku.


Aku diam menahan amarahku, sebisa mungkin aku tidak akan marah ataupun emosi padanya.


Tolonglah, aku ingin kedamaian! teriakku dalam hati.


"Suami mereka mendukung secara finansial dan selalu menuruti kemauan mereka. Sedangkan kamu? Apa yang kamu lakukan untukku? Kamu hanya bisa -"


"Cukup! Apa maumu sekarang?" tanyaku dengan emosi, rasanya amarahku kini sudah mencapai ubun-ubun.


"Ceraikan aku!"

__ADS_1


__ADS_2