Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 72 Kalimat yang sama


__ADS_3

Malam yang sangat menguras emosiku di saat aku pulang dan ingin berkumpul dengan anak dan istriku. Entah sudah yang ke berapa kali malam-malam seperti ini telah aku lalui. Rasanya liburanku tidak berarti dan hanya menambah emosi serta frustasiku saja.


Cerai, kata itu selalu keluar dari mulutnya. Tapi sebelumnya dia selalu saja mengungkit tentang kesalahanku.


Hingga suatu ketika aku putuskan untuk menyetujui permintaannya. Sebenarnya aku sangat berat menyetujui permintaannya, mengingat ada Dave dan Laura yang masih sangat membutuhkan peran kedua orang tuanya.


Saat itu setelah beberapa minggu dari kejadian terakhir itu aku selalu menjaga emosiku agar tidak terpancing Diana yang lagi-lagi nantinya pasti akan mengungkit-ungkit kesalahanku dan ujung-ujungnya pasti akan meminta untuk bercerai.


Namun kali ini berbeda. Ketika Dave masih belum pulang dari sekolahnya, aku mengajak Laura bermain di halaman rumah kami, sedangkan Diana sibuk dengan tanaman-tanaman mahalnya.


Aku sudah enggan melarangnya untuk membeli ini dan itu karena pasti akan tahu sendiri bagaimana kelanjutannya.


Tanaman-tanaman mahal itu juga hasil dari pemburuannya bersama teman-temannya hingga ke luar kota. Entahlah mengapa mereka bisa segila itu dengan setiap hal yang sedang trend. Mereka tidak mau jika dibilang kudet alias kurang update. Mereka harus selalu update dalam setiap hal yang sedang trend.


Aku memang bukan pencinta tanaman, tapi aku juga suka jika melihat tanaman yang indah, apalagi jika tanaman-tanaman itu membuat rindang sekitar rumahku, pasti Dave dan Laura lebih nyaman jika bermain di sana.


Laura bermain lempar bola denganku. Dan tidak sengaja, bola yang dilempar oleh Laura mengenai pot bunga kesayangan Diana yang harganya jutaan rupiah.


Aku memang tidak mengetahui persis setiap harga daei koleksi tanamannya, hanya saja aku mendengar darinya jika harga-harga semua tanaman bernilai fantastis jika dijual kembali.


Dan tentu saja, aku yang membayar itu semua. Semua tagihan masuk ke dalam akunku. Ternyata semuanya itu pembayarannya seperti biasa, memakai kartu kredit yang aku berikan padanya.


"Laura! Kamu tau tidak ini harganya berapa? Kenapa kamu arahkan bolanya ke sini? Kenapa tidak main di sana saja?" Diana teriak dengan matanya yang melotot kepada Laura.


Tentu saja Laura ketakutan dan menangis sangat keras. Baru kali ini Diana bersikap seperti itu pada Laura, anaknya sendiri yang masih berumur tiga tahun.

__ADS_1


Dan apa yang dia lakukan? Diana bukannya menolong anaknya malahan menolong pot bunganya yang pecah. Dia lebih memilih menolong bunganya untuk ditaruh ke dalam pot lainnya.


Dengan berlari dia segera mengambil pot pengganti dan meletakkan tanah ke dalam pot tersebut dan memasukkan tanamannya ke dalam pot itu.


Gilanya dia hingga seperti itu pada tanamannya dan membiarkan anaknya jatuh ketika mengambil bola dan menangis karena dimarahi olehnya.


Bukannya dia harus menolong terlebih dahulu anaknya daripada tanaman bunganya? Meskipun ada aku yang menolong Laura, tapi bukankah Laura lebih tenang jika ibu yang memarahinya tadi bisa menunjukkan kasih sayangnya padanya dengan menenangkannya?


Tidak ku ambil pusing omelannya, dan aku segera menggendong Laura untuk membawanya masuk dan menenangkannya dengan caraku sendiri.


Setelah beberapa lama Laura tertidur, aku segera mendatangi Diana yang masih sibuk dengan tanamannya.


Ku berdiri di sampingnya dan ku tatap dia untuk menyadarkannya bahwa ada aku di dekatnya. Ternyata memang benar, dia sudah berubah. Pergaulannya yang telah merubahnya seperti sekarang ini.


Dia lebih mementingkan tanaman mahalnya daripada Laura, anak kandungnya yang masih sangat kecil dan harus mendapatkan perhatian ekstra darinya.


"Harusnya aku memarahimu. Kamu yang tidak bisa menjaganya hingga dia memecahkan pot bunga mahalku. Untung saja bunganya masih bisa diselamatkan. Andai tidak bisa, kamu harus menggantinya dua kali lipat!" kini dia memarahiku dan menyalahkanku.


"Kenapa hanya demi bunga sialan ini kamu memarahi anakmu? Laura anakmu dan dia harusnya kamu selamatkan dulu dan menenangkannya, bukannya malah menyelamatkan bunga sialan ini!" amarahku sudah tidak bisa terkontrol lagi.


"Apa kamu bilang, bunga sialan? Kamu yang sialan, kamu tidak tau berapa harganya bunga ini? Aku membelinya dengan harga delapan juta dan jika berhasil aku akan menjualnya sebelas juta. Apa kamu tau itu? Aku rasa tidak. Pasti yang kamu tau hanya masalah wanita saja, karena kamu suka seling-"


"Gak usah dibahas soal itu lagi. Apa kamu gak capek selalu bahas soal itu terus? Aku sudah berubah dan kami sudah tau itu. Kenapa kamu selalu membuatku mendengarmu mengungkit-ungkit masalah itu di setiap kesempatan?" aku tak sadar jika aku bertanya dengan meninggikan suaraku.


"Sampai kapanpun aku gak akan pernah lupa masalah itu. Dan apa orang tuamu tau atas kelakuan anak tersayangnya ini? Anak yang selalu diagung-agungkan oleh kedua orang tuanya? Hahaha... aku rasa mereka akan sangat malu jika mengetahui hal itu," ucapnya yang aku lihat persis seperti orang kesurupan.

__ADS_1


"Kamu sudah gila Diana. Kita ini suami istri yang harus menyelesaikan masalah kita sendiri tanpa campur tangan orang tua kita. Jangan coba-coba kamu menyangkut pautkan mereka dalam masalah yang terjadi dalam keluarga kita!" keringatku padanya.


"Kenapa, kamu takut? Jika kita akan bercerai pasti mereka harus tau masalah-masalah yang harus kita hadapi. Jadi buat apa ditutup-tutupi?" ucapnya dengan angkuh.


Reflek saja aku meninjukan kepalan tanganku pada tiang rumahku dengan penuh emosi sehingga keluar darah dari sela-sela jariku.


"Cerai, cerai, cerai! Kenapa hanya hal itu yang ada dalam pikiranmu? Kenapa hanya kata cerai yang keluar dari mulutmu itu?" tanyaku dengan meninju tiang rumah berkali-kali untuk melampiaskan kekesalanku.


"Lalu apa? Kamu mau selingkuh? Dan asal kamu tau, aku juga bisa saja selingkuh jika kamu memang berselingkuh kembali. Ingat itu!" jawabnya dengan meninggikan suaranya.


Oh God... sungguh aku ingin mencekik wanita ini. Untungnya aku masih waras dan masih sadar jika dia istriku dan ibu dari anak-anakku, ucapku dalam hati dengan ekspresi wajah penuh amarah padanya.


"Kamu tai jika aku tidak lagi melakukannya dan sudah aku buktikan semua itu. Buka matamu dan pikirkan itu semua sebelum kamu asal berbicara," aku menanggapi kembali ucapannya.


"Sudahlah, aku mau mandi dulu. Lanjutkan semua ini atau kamu akan mendapatkan surat ceraimu," Diana memerintahkan aku seenaknya sendiri dengan ancaman yang selalu didengar olehku.


Dan benarlah, dia masuk ke dalam rumah tanpa beban. Lalu apa yang membuatnya marah tadi sudah diatasi?


Ku tatap beberapa bunga kesayangan Diana dan sejujurnya saja aku ingin membuangnya agar Diana tidak lagi mengurusi mereka dan kembali mengurusi anakku.


"Permisi Pak!" seru seseorang dari luar pintu pagar.


Aku mendekatinya dan bertanya padanya,


"Ada perlu apa Pak?"

__ADS_1


"Maaf Pak, apa ini rumah Diana Wardana?"


__ADS_2