Reuni Berujung Perselingkuhan

Reuni Berujung Perselingkuhan
Bab 46 Pernikahan


__ADS_3

Hari ini tiba, hari di mana Gio dan Reni menikah. Aku memang sengaja tidak datang karena aku tidak mau jika mereka berdua tahu jika aku berada di kota ini.


Celine berencana untuk datang karena menghormati mereka berdua yang datang untuk memberikan sendiri undangan pernikahan mereka padanya.


Beruntungnya pernikahan mereka diadakan pada hari kerja, sehingga aku bisa mengantarkan Celine untuk menghadiri pernikahan mereka yang diadakan di sebuah gedung dengan konsep yang mewah dan meriah.


Aku yakin semua itu Reni yang mengurus dan menyiapkannya. Seperti yang kita semua tahu, Reni bukan tipe wanita yang sederhana, dia suka hal yang berbau mewah karena memang latar belakang hidupnya yang jauh dari kata sederhana.


Aku memaksa Celine untuk bisa mengantarkannya menghadiri pernikahan Gio dan Reni karena aku benar-benar khawatir padanya. Apalagi malam ini aku sungguh terpesona ketika menjemput Celine yang sudah bersiap untuk menghadiri acara pernikahan mereka.


Celine sangat cantik dan anggun dengan balutan gaun yang simpel namun terkesan elegan terlihat pas sekali di badannya sehingga lekuk tubuhnya terlihat indah dan rambutnya yang terangkat keatas dengan sedikit curly di bagian depannya. Sungguh mataku seperti menemukan harta karun yang selama ini dicari banyak orang.


"Cel, gak usah masuk ya. Lebih baik kamu batalkan saja niatan untuk masuk ke dalam sana," ucapku ketika mobil sudah berada di parkiran gedung pernikahan Gio dan Reni berlangsung.


"Kamu gak perlu khawatir Al. Aku bisa jaga diri kok. Apa kamu mau ikut ke dalam juga Al?" Celine mengeluarkan candaannya padaku.


"Kamu ini Cel, udah tau aku ogah banget ketemu sama mereka malah diajakin masuk ke dalam. Dan aku benar-benar khawatir sama kamu Cel. Kamu benar-benar cantik hari ini Cel, aku takut Gio kembali mengganggumu setelah ini," tidak ku sangka aku mengucapkan semua kegelisahanku sedari tadi.


Celine tertegun, mungkin dia tidak menyangka jika aku mengatakan itu padanya. Rasanya aku laki-laki yang sedang khawatir dan cemburu ketika pasangannya akan bertemu dengan mantannya.


Beberapa detik kemudian dia tertawa, mungkin agar suasana tidak canggung dan aku tidak merasa malu padanya. Sungguh wanita yang pengertian bukan?


"Hahaha... Al... Al... dia sudah beristri sekarang, dan aku hanya menghormati undangan dari mereka saja. Hanya mengucapkan selamat pada mereka Al, tidak lebih. Dan itu mungkin hanya memakan waktu beberapa menit saja. Kita akan makan malam di luar saja nanti. Kamu tidak perlu khawatir Al," ucapnya untuk menenangkan aku yang terlihat sangat khawatir padanya.


"Tapi Cel kamu-"

__ADS_1


"Aku memang selalu berdandan seperti ini Al ketika datang ke pesta. Dan Gio tahu itu. Jadi, tidak mungkin dia terpesona dengan mantan istrinya yang sudah dikhianatinya ini. Di khianati berarti dia sudah bosan Al. Tenang saja," ucapnya sambil terkekeh.


"Oke hanya sebentar saja Cel, beberapa menit saja, jangan lebih," ucapku memutuskan untuk mengijinkan Celine masuk ke dalam acara tersebut sendirian, tanpa aku.


Aku hanya bisa terdiam dan resah duduk di dalam mobil menunggunya. Sungguh aku gelisah, tidak bisa aku melepas Celine untuk bertemu dengan Gio, meskipun di tempat yang sangat ramai seperti ini.


Untuk mengalihkan pikiranku, ku ambil gawaiku dan ku tekan kontak istriku. Aku menghubungi Diana karena jujur saja aku sangat rindu dengan keluargaku, rindu dengan anak-anakku, Dave dan Laura.


Selama beberapa hari ini Diana tidak pernah menghubungiku, dan aku lah yang selalu menghubunginya dan mengiriminya pesan.


Kini aku melakukan panggilan video dengan Dave dan Laura yang ada di gendongan Diana. Entah kemujuran apa kali ini panggilanku langsung diangkat oleh Diana. Terlebih ini panggilan video. Bisa dibayangkan bukan bagaimana senangnya hatiku saat ini.


Dave berceloteh banyak hal tentang teman dan sekolahnya, sedangkan Laura yang berada di samping Dave terlihat sangat menggemaskan dengan tawanya ketika dijahili oleh kakaknya.


Panggilan video kami berakhir beberapa menit sebelum Celine datang karena Diana menyuruh Dave untuk belajar kembali.


Oh Dave ku yang malang, harusnya dia tidak sekeras itu belajar di usianya yang masih butuh bermain. Aku merasa bersalah padanya karena tidak bisa mendampinginya dan mengajaknya bermain seperti pada saat aku pulang di akhir pekan.


"Hai Al, maaf lama," Celine berkata ketika masuk ke dalam mobilku.


"Gapapa Cel, aku baru saja selesai berbicara dengan Dave," jawabku dengan senyumku yang lebar karena memang aku sedang senang saat ini.


"Kamu sangat senang Al, aku juga ikut senang. Gimana kabar mereka?" ucap Celine dengan senyum manisnya.


"Seperti biasa Cel, kami hanya berbicara sebentar saja karena Diana menyuruhnya untuk belajar kembali," ucapku dengan tersenyum getir.

__ADS_1


"Sabar Al. Bukannya ini awal yang bagus karena istrimu sudah mau mengangkat teleponmu? Mungkin saja setelah ini mereka akan mengikutimu ke kota ini," Celine menghiburku dengan kata-katanya.


"Semoga saja ya Cel. Eh gimana tadi di dalam?" tanyaku dengan antusias.


"Teman-teman yang lain ada di dalam Al. Mereka menanyakanmu dan....," ucapan Celine menggantung, sepertinya dia ragu untuk mengatakannya.


"Dan apa Cel? Apa mereka mengganggumu atau menyudutkanmu?" tanyaku dengan tidak sabar.


"Mereka tau kamu di kota ini Al. Dan mereka tau kalau kita sering bertemu," ucapnya dengan senyum getir.


"Lalu... apa yang mereka katakan? Sepertinya apa yang mereka katakan membuatmu sedih Cel," aku menebak dari raut wajahnya.


Celine melihat ke arah luar jendela mobil, mengalihkan pandanganku dari wajahnya. Sepertinya dia berusaha menutupi sesuatu.


"Sudahlah Al lebih baik kita cari makan aja sekarang, aku lapar," ucapnya dengan senyum terpaksa untuk mengalihkan pembicaraan.


Aku tahu pasti ada yang tidak beres, pasti ada yang terjadi di dalam sana. Aku sungguh menyalahkan diriku sendiri karena tidak bisa melindungi Celine yang pastinya berjuang sendiri untuk menghadapi mereka semua di dalam sana.


Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang mereka katakan dan lakukan pada Celine hingga Celine tidak seceria tadi? pertanyaan-pertanyaan ini hanya dapat aku tanyakan dalam hatiku.


Aku akan mencari tahu apa yang terjadi di dalam sana. Aku akan melindungi Celine apapun yang terjadi. Karena Celine satu-satunya teman wanita yang tulus kepadaku. Dia bisa membimbingku, mengarahkanku agar aku tidak berbuat kesalahan kembali dan dia tidak pernah menggangguku seperti apa yang dilakukan Reni padaku.


"Cel, apa yang sebenarnya terjadi?" tanyaku kembali dengan posisi mengemudikan mobilku.


"Gak ada apa-apa Al. Sudahlah, fokuslah mengemudi," ucapnya dengan suara yang lembut dan tersenyum yang dipaksakan.

__ADS_1


__ADS_2