Rindu ... Yang Memabukkan

Rindu ... Yang Memabukkan
Hari untuk herdy


__ADS_3

Wajah herdy terlihat begitu pucat saat berada di kantor, rindu juga dapat melihat bahwa bosnya itu sedang tidak enak badan.


Dalam keadaan yang tidak fit pun herdy tetap bekerja seperti biasa, mungkin sifatnya ini yang membuat ayah rindu begitu percaya perusahaannya di pimpin oleh herdy.


" Bapak sakit?" meletakkan teh hangat di meja herdy.


"Mungkin hanya kelelahan saja rin.." menatap rindu dengan sayu.


" Kalau begitu saya akan mematalkan rapat hari ini pak, sebaiknya bapak istirahat saja lebih dulu."


"Tidak rin... saya masih mampu untuk ikut rapat hari ini "


Rindu kembali keluar dari ruangan herdy dengan wajah yang terlihat cemas.


"Ada apa sayang..?"rayhan hutama datang menghampiri rindu di meja kerjanya.


"Ayah...yah. kelihatannya pak herdy tidak enak badan. Saya tadi sudah ngasi saran agar rapat hari ini ditunda tapi beliau menolak." jelas rindu pada ayahnya itu.


"Herdy...herdy wardana putra. ini yang membuat saya yakin padamu." ucap ayah rindu yang membuat rindu sedikit bingung namun memilih diam.


Ayah rindu masuk ke dalam ruangan herdy, entah apa yang sedang mereka bicarakan sudah hampir lima belas menit ayahnya berada di dalam namun belum keluar- keluar juga.


Hampir satu jam berada di dalam ruangan herdy akhirnya ayahnya keluar dengan wajah bahagia, entah apa yang membuatnya bahagia namun rindu tak ingin mencari tau.


"Sayang...hari ini ayah akan ke eropa, sepertinya ayah akan menetap beberapa hari disana bersama ibu"


"Kok mendadak sih yah??"


"Tanya sama sahabat kamu itu...tadinya mau perjalanan bisnis kok keterusan bulan madunya...dia ambil cuti untuk 2 minggu, omm nandar sedang sibuk jadi ayah yang handle, kan itu perusahaan kita juga sayang."


"Oh...ok yah" senyum mengingat kembali bagaimana hubungan kedua sahabatnya itu.


Di dalam kamar hotel ocha dan aichel masih saling mencurahkan rasa kasih sayang mereka yang sempat tertunda. Mungkin mereka tak butuh baju ganti, karna sampai saat ini mereka masih belum beranjak dari kasur empuk hotel itu, kulit mereka saling menggesek, desahan- desahan kenikmatan memenuhi ruangan yang kedap suara itu.


Herdy melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan, ia pun menghentikan aktifitasnya yang berada atas ocha.


"Chaa.... kita cari makan dulu ya. Udah hampir seharian kita main terus" bisik aichel ke telinga ocha yang membuat wajah ocha tersipu malu.


Ocha pun manjawab aichel dengan anggukan, ia tak percaya kalau ia begitu menyukai dan menikmati kegiatannya bersama suaminya dari dini hari sampai siang, tak ada rasa lelahnya namun disaat ia ingin beranjak untuk mandi ia merasakan sakit di bagian selangkangannya.


Rindu hari ini terlihat bahagia semenjak mendapat berita bahwa aichel mengambil cuti 2 minggu untuk bulan madu. Secara diam-diam herdy memperhatikan rindu yang tengah senyum bahagia.


Brukk...terdengar suara jatuh dari ruangan herdy, yang langsung membuat rindu menghampirinya, benar saja herdy tumbang di sebelah mejanya. Rindu mencoba memapah herdy ke sofa untuk berbaring.


Aduu pak...kok bisa gini sih...ucap rindu lirih merasa cemas, rindu mengeluarkan ponsel dari saku blezernya dan menghubungi dokter keluarganya.


Setelah tiga puluh menit dr.benny tiba di ruangan herdy. Dr benny pun memeriksa tekanan darah, mata dan tenggorokan herdy.

__ADS_1


"Gimana dok?"


"Kelelahan" sambil membuka stateskopnya.


"Harus istirahat yang cukup, dan makan yang teratur. Ini saya beri vitamin. Untuk 2 hari ini saya sarankan harus istirahat total."


"Makasih dok"


"Iya rin...sudah menjadi tugas saya. Oh ya...pak rayhan sedang di luar kota ya?"


"Masih di jakarta dok...tapi sebentar lagi mau ke eropa."


"Ya sudah rin...saya balik dulu ya" keluar ruangan.


Gimana sih kamu her...mana ayah mau ke eropa kamunya malah tumbang, gumam rindu.


Terdengar suara pintu di buka. "Loh...herdy kenapa rin..?" tanya ayahnya cemas.


"Kata dokter benny kelelahan yah"


"Apa ayah tunda aja berangkatnya rin??" sambil duduk di sebelah rindu yang tengah panik.


"Emang bisa yah ? entar malah jadi ribet urusannya."


"Kalo hanya menunda satu atau dua hari ayah pikir itu tak masalah nak." membelai rambut rindu.


"Ya udah..."


Herdy sudah siuman, namun ia keliatan bingung kenapa rindu dan pak rayhan ada di ruangannya. "Maaf pak"


"Udah kamu istirahat saja, tadi saya juga udah kasih saran sama kamu biar istirahat dulu her, tapi kamunya ini bandel banged masih mau tetap ngantor." menggelengkan kepala heran dengan pendirian herdy yang teguh.


"Saya tidak tahu pak kalau saya selemah ini" memegang kepala.


"Bapak nggak lemah, hanya kelelahan itu kan wajar sudah beberapa bulan ini perusahaan sedang sibuknya mengurus perusahaan baru, kita-kita semua kan jadi lembur terus." ucap rindu ke arah herdy.


"Benar rindu bilang her...nanti sepulang say dari eropah, kalian akan mendapat hari libur kalian" menatap herdy yang masih lemas.


"Rin...kamu antar nak herdy pulang, pak yanto sedang di luar sama ibu kamu."


Rindu membulatkan matanya mendengar ucapan ayahnya itu tak percaya.


"Rin...kamu dengar kan sayang?"


"Iya yah dengar...rindu dengar."


Rindu pun mengemudikan mobil herdy, herdy masih terus menutup matanya selama perjalanan.Sebelumnya herdy sudah memberikan alamatnya pada rindu.

__ADS_1


Tiga puluh menit kemudian mereka tiba di rumah kediaman herdy.


Bener gak yaa ini rumahnya pak herdy, ucap rindu sambil melihat lihat ke arah rumah yang diyakini sebagai rumah atasannya itu.


"Pak...bener gak sih ini rumah bapak?" berbicara sendiri.


"Iya rin bener..." menjawab rindu yang tengah kaget mendapat sautan dari atasannya yang ia ketahui tidur tadi.


Rindu keluar dari mobil dan mencoba menuntun atasannya itu untuk masuk ke dalam. Masih berada di teras rumah, mamanya herdy keluar dan kaget melihat anaknya itu jalan sambil di papah oleh wanita yang sangat cantik.


"Sayang kamu kenapa?" cemas


"Gak papa ma...cuma sedikit pening aja." sambil masuk ke dalam rumah.


Rindu dan mamanya herdy menuntun herdy hingga masuk ke dalam kamar herdy yang berada di lantai dua dan herdy membaringkan tubuhnya di kasur.


"Sebentar ya saya ambilkan air dulu" meninggalkan herdy dan rindu


"Iya tan..." menutupi herdy dengan selimut.


"Makasi ya rin...udah ngantar saya."


"Iya...tapi jangan di ulangi lagi loh, saya cemas gak pernah liat kamu begini." wajah memerah.


Mamanya herdy masuk ke dalam kamar sambil membawa segelas air putih dan secangkir teh hangat untuk rindu.


"Ini sayang kamu minum dulu" memberikan pada herdy.


"Ini buat..."


"Rindu tan.." sambil tersenyum manis.


"Oh... jadi ini yang namanya rindu..., cantik banget pantes aja...."


"Maaa... "ucap herdy sambil memberi isyarat pada mamanya.


Rindu terlihat bingung atas sikap ibu dan anak di hadapannya ini.


"Pantes apa tan ?" penasaran melihat ke arah mama herdy.


"Ga papa nak...saya tinggal dulu ya, kalian ngobrol aja." keluar dari ruangan herdy.


"kenapa sih dy...?"


"Ga ada kok rin...diminum tehnya keburu dingin."


Rindu pun meminun teh yang diberikan oleh mama herdy. Ia melupakan ucapan mama herdy yang terputus akibat teriakan herdy.

__ADS_1


__ADS_2