
Herdy mendatangi farel yang sedang serius bekerja di meja kerjanya. Melihat asistennya itu tidak melihat keberadaannya, herdy sengaja berdehem sedikit agar asistennya itu sadar akan keberadaannya disana.
"Bos." farel berdiri siap menerima perintah.
Herdy hanya diam saja, sebenarnya dia juga bingung mau apa dia ke meja kerja asistennya itu.
"Ada sesuatu yang harus saya lakukan bos?" ucap farel yang bingung pada bosnya itu hanya diam saja.
Tampa menjawab herdy kembali membalikkan badan dan melangkahkan kakinya menjauh dari situ. Farel hanya menatap bingung pada bos dinginnya itu, kembali farel fokus pada kerjaan yang ada di hadapannya.
Saat farel sudah kembali fokus, herdy menghubungi farel melalui sambungan telpon (interkom) yang ada di atas mejanya. "Belikan aku makanan yang lezat"
__ADS_1
Farel begitu bingung dengan perintah ambigu bos dingin itu.
Namun farel tetap melangkahkan kaki keluar dari meja kerjanya, menuju lantai bawah untuk menuju kantin perusahaan itu.
Setibanya di kantin farel semakin bingung harus membeli apa. Farel mondar mandir di depan meja order kantin itu, sehingga petugas kantin merasa bingung melihat asisten bos perusahaan itu.
Farel menyentuh jidatnya yang telah terasa semakin panas. Sebelumnya saja ia harus berpikir keras untuk menaikkan harga saham, ini bos nya itu bertindak ambigu meminta sesuatu yang tidak ia tau kebenarannya.
Akhirnya farel memesankan kentang goreng, spageti, nori rollchiken dan jus jeruk. Farel terus mengetuk ngetuk meja dengan jari jari tangannya sembari menunggu pesanannya selesai.
Setelah semua pesanan itu berada di meja, farel membawa makanan yang tidak diketahui nasibnya itu apa bos dinginnya menyukainya atau tidak, tapi farel tetap membawanya ke lantai atas ruangan manusia dingin itu berada.
__ADS_1
"Kau lama sekali, hanya membeli itu saja." herdy langsung memprotes asistennya walau masih berada di ambang pintu ruangannya.
"Maaf bos. " farel meletakkan bungkusan makanan itu ke atas meja sofa yang berada di ruang kerja herdy, lalu melangkahkan kakinya keluar ingin melanjutkan pekerjaannya.
Herdy yang melihat farel terburu buru keluar dari ruangannya pun semakin memikirkan yang bukan bukan, mengira sang asisten itu sedang menjauhinya karena kejadian perdebatannya dengan sang istri tadi pagi. Tapi sesungguhnya farel tergesa keluar dari ruangan bosnya itu karena masih banyak yang harus ia kerjakan.
"Makanan apa ini yang kau beli, makan saja sendiri." meletakkan makanan makanan itu dia atas meja kerja farel dan herdy segera berlalu dari sana.
"Huh... kalau bukan karena ancaman sayangku, aku tidak akan melakukan tindakan bodoh ini. Aku tidak ingin tidak dapat jatah yang begitu nikmat itu, membuatku candu dan begitu memabukkan saat bersamanya." Herdy berbicara sendiri di ruang kerjanya, dan tersenyum mesum saat membayangkan pergulatan panasnya di atas tempat tidur yang membuat rindu istri tercintanya itu mendesah nikmat di bawah kungkungannya.
Farel yang tidak sengaja melihat bosnya itu tersenyum sendiri merasakan aneh. "Baru saja marah marah tidak jelas, sekarang sudah tersenyum sendiri, dasar bos gila." ucap farel tapi hanya berani di dalam hati.
__ADS_1
Setelah melewati hari yang begitu melelahkan bagi seorang farel akhirnya kini farel bisa menikmati secangkir expreso hangat di meja kerjanya sambil menunggu kehadiran bos dinginnya itu untuk pulang. Farel menatap langit yang hitam di hiasi bintang bintang yang begitu indah bercahaya di atas sana dari balik dinding kaca ruangan kantor itu.