Rindu ... Yang Memabukkan

Rindu ... Yang Memabukkan
Setuju Menikah


__ADS_3

Rindu mendapati ayah dan ibunya duduk di ruang keluarga, dimana ibunya tengah memangku bayi tampan yang bernama Kenzi Wijaya. Rindu merasakan bahwa ayah dan ibunya tengah sangat bahagia dengan kehadiran cucu walau bukan dari darah daging mereka. Namun seketika juga ia merasa kecewa pada dirinya sendiri karna belum bisa memberikan kedua orangtuanya seorang cucu.


Ayah rindu menyadari kedatangan anaknya beserta orang kepercayaannya itu langsung menepuk bangku yang disebelahnya meminta rindu duduk di dekatnya.


Rindu duduk di tempat yang ayahnya inginkan sedangkan herdy memilih duduk di kursi singel di depan rindu dan pak rayhan.


" Bagaimana...?"


" Semua sudah selesai pak." jawab herdy mantap.


" Saya yakin kamu bisa. Dan kenyataannya lebih cepat dari yang saya pikirkan."


"Jika bisa cepat, mengapa kita mesti menunggu lama."


"Nah..kalau begitu, kami juga untuk apa menunggu lama hubungan kalian ini." menatap penuh harap ke arah rindu dan herdy secara bergantian. Ibu rindu juga menunggu jawaban dari keduanya.

__ADS_1


Wajah rindu memerah, tapi tidak dengan herdy. Sepertinya dia telah mengetahui dan bersiap dengan pembicaraan ini.


" Saya sudah siap dan juga mengharapkan secepatnya pak." jawab herdy cepat dan tegas.


Ayah rindu menatap kearah putrinya itu mencari tau jawabannya. Begitu juga ibu rindu.


"E... Rindu akan pikirkan yah." ucap rindu gugup.


"Jangan terlalu lama, nak herdy juga butuh pendamping secepatnya." sambil mengelus kepala rindu.


" Ayah hanya berharap pada sebuah jawaban yang tidak mengecewakan, pikirkan baik-baik nak herdy adalah lelaki yang dewasa. Kamu tau itu."


Wajah rindu merona saat perbuatan mereka sewaktu di rumah herdy terlintas kembali dalam benak pikirannya.


Herdy berdehem untuk mengusir rasa canggungnya." Kalau saya sudah memberitahukan niat saya pada rindu, saya juga sedang menunggu jawaban rindu pak. Saya sadar, dan juga takut hilaf jika terlalu lama berdekatan dengan rindu tampa sebuah ikatan akan dapat merugikan rindu nantinya.

__ADS_1


" Kalau saya punya keputusan saya akan segera menikahkan kalian, namun keputusan sesungguhnya ada pada rindu, karna yang akan menjalaninya itu kalian bukan saya."


Ibu rindu hanya diam dan menganggukkan kepalanya tanda menyetujui ucapan suaminya itu.


Beberapa saat hanya ada keheningan di ruangan itu, hingga akhirnya rindu membuka suara menyampaikan kesetujuannya untuk segera menikah dengan herdy setelah mengingat beberapa kali mereka hampir saja kelepasan mengontrol luapan emosi cinta mereka.


Aichel dan ocha yang masuk ke dalam ruangan tersebut pun sangat kaget dan bahagia mendengar ucapan rindu, dimana sahabatnya ini sebentar lagi akan melepas masa lajangnya.


Pancaran bahagia tersungging dari seluruh anggota keluarga, terlebih lagi herdy yang bahagia bukan kepalang, terbayang sudah kini di pikirannya sebentar lagi sudah tidak akan ada batas lagi antara dirinya dan rindu, sudah tidak akan tersiksa lagi jagoan kecil yang dibawah sana. Membayangkan itu seketika wajah herdy memerah.


Aichel yang melihat perubahan rona wajah herdy, langsung saja menggodanya. " Hai... buang jauh-jauh pikiranmu itu, belum sekarang tunggu waktunya" ucap herdy senyum mengejek dan mengingatkan.


Rindu semakin merona merah sedangkan ayah dan ibu rindu hanya bergeleng kepala. Mereka sangat menyadari hal itu, itu lah membuat mereka kuatir jika sepasang kekasih ini lepas kontrol suatu saat sebelum mereka resmi.


Baby boy kenzi terbangun dari tidurnya akibat mendengar suara tawa para orang dewasa itu begitu keras.

__ADS_1


__ADS_2