
Aura yang begitu mencekam dirasakan oleh beberapa orang yang kini berada di ruang pimpinan mereka yang begitu dingin. Ketegasannya dalam nenyampaikan pendapat tidak dapat satu orangpun untuk membantahnya. Seperti saat ini, beberapa karyawan pembangun resort yang ada di puncak sedang menundukkan kepala dan meremas buku-buku tangannya akibat kemarahan bosnya itu.
Herdy menatap tajam ketiga karyawannya tersebut, yang melakukan kelalaian saat menerima bahan kontruksi yang tidak sesuai dengan perjanjian sebelumnya sehingga membuat kerugian dalam jumlah yang cukup besar bagi perusahaan.
Setelah beberapa kata pedas yang ia lontarkan kepada karyawan tersebut lalu ia memukul meja dengan talapak tangannya sehingga para karyawan tersebut semakin menunduk takut tampa ada yang berani menatap ke arahnya.
Rindu yang duduk di meja kerjanya mencuri pandang kearah ruangan bosnya yang hanya bersekat kaca tersebut pun menggelengkan kepalanya melihat kelakuan bos sekalian kekasihnya itu.
"Mengapa aku bisa jatuh cinta pada pria yang begitu kejam itu?" tanyanya dalam hati. " Cih.. bukan hanya kejam tapi juga dingin. Dia seperti bunglon yang bisa berubah bedasarkan tempatnya." tambahnya lagi. Namun ia melanjutkan pekerjaannya setelah melihat kembali ke ruang kekasihnya.
Para karyawan itu keluar dari ruangan herdy dengan wajah yang tak terbaca, di susul dengan kekasihnya juga berjalan keluar ke arah meja kerjanya. " Aku akan kepuncak, melihat langsung kekacauan yang ada disana, jangan merindukanku."
__ADS_1
"Cih.. siapa yang akan merindukan orang kejam sepertimu."
"Haruskah kamu berangkat hari ini, karna ini sudah sore, tidak bisakah besok pagi saja?"
" Apa kau sudah merindukanku, padahal aku belum pergi, tapi kau sudah merindukanku dan ingin menahanku. Hemm..?!" herdy menggoda rindu dengan menaik turunkan alisnya itu.
"Omong kosong apa itu?" sambil mendesis kesal akibat ucapan kekasih dan juga bosnya itu.
"Katakan sejujurnya, jika kamu tidak ingin berjauhan denganku!" ucap herdy lebih lembut dan menyelipkan rambut yang menutupi sedikit pipi rindu ke belakang telinga.
Setelah melewati beberapa perdebatan akhirnya rindu kini tengah berada di dalam mobil herdy. Herdy akan menghantarkan rindu pulang setelah itu ia akan pergi untuk meninjau proyek resort yang sedang bermasalah tersebut. Ya, sebenarnya rindu ingin pulang sendiri, tapi herdy bersikeras mengantarkan kekasihnya itu, padahal rindu ingin sedikit kebebasan seperti dulu, bisa berjalan kemana saja tampa harus ditemani tapi semenjak ia menjalani hubungan dengan herdy, ia seakan menjadi barang yang begitu beharga dan langka. Kemana saja selalu didampingi dan diawasi, tak jarang terjadi keributan karna herdy menghajar orang-orang yang menatap rindu dengan tatapan ingin memiliki.
__ADS_1
Herdy menahan tangan rindu yang ingin turun dari mobil karena telah sampai di depan rumahnya. Herdy mengecup bibir mungil yang selalu membuatnya gemas itu.
"Jangan macam-macam"
"Aku hanya memberikan vitamin buat kekasihku ini, agar kamu tidur nyenyak dan tak merindukanku nanti" senyum menggoda.
"Alasan saja. Katakan saja kalau kau tak sanggup jauh dariku. Jangan membalikkan kenyataan." Ucap rindu sambil menarik hidung mancung kekasihnya itu gemas.
Rindu turun dari mobil setelah memberi kecupan yang berubah menjadi cumbuan panas dan menggairahkan, sambil membenarkan rambut dan penampilannya.
"Hati-hati. Ingat berikan aku kabar jika kamu telah sampai." dengan lembut dan melambaikan tangannya.
__ADS_1
Herdy menganggukkan kepala lalu mengendarai mobilnya keluar dari pekarangan rumah rindu.
"Cie... Kapan nich mengubah status menjadi nyonya wardana putra. Cuit..cuit...." goda aichel yang rupanya melihat perbuatan sahabatnya itu namun tak semuanya. Kalau saja aichel melihat semua adegan panasnya pasti saja mulutnya itu tidak berhenti memarahinya, dan mengomelinya sepanjang waktu. Rindu berlalu dari hadapan aichel tampa menggubris ucapan sahabatnya itu. " Kenapa mesti dia disini, bukannya dia punya bayi yang harus dijaga" rindu berbicara sendiri setelah berlalu dari hadapan aichel.