Rindu ... Yang Memabukkan

Rindu ... Yang Memabukkan
Galaxy


__ADS_3

Dari sudut jendela kamar, rindu melihat mobil yang di tumapangi herdy keluar dari halaman rumah mereka menuju jalanan kompleks rumah itu. Mata rindu terus mengikuti pergerakan mobil yang di kemudikan farel itu hingga menghilang di ujung jalan.


Rindu masih saja menginginkan untuk terus berada di dekat sang suami walaupun kini usia kehamilannya telah memasuki trimester dua.


"Cobalah terus mengumpat ku, kalau ingin gaji dan bonus mu habis aku potong."


"Ck...kau kejam sekali bos." merasakan aura dingin.


"Itu aku."


Ting...sambil membuka pesan yang masuk di ponselnya.


" Jangan terlalu lama pulang, aku merindukanmu." isi pesan rindu pada herdy. Herdy yang mendapat pesan dari rindu tersenyum mesum membayangkan istrinya itu. Sedangkan farel yang melihat senyuman mesum si bos dingin hanya menggelengkan kepala tidak ingin berkomentar atau mengumpat yang akan membuatnya rugi saja.


Ellisa memasuki rumah yang di tinggali oleh kakak iparnya itu. Dengan membawa banyak kantongan di tangannya.


"Eh ada non ellis.."


"Iya bik...ada kakak?" sambil memberikan satu kantongan ke pada bik inah.


"Ada non, no. rindu dia atas. Ini apa non...?" melihat bungkusan plastik yang sudah berada di genggaman tangannya itu.


"Itu kwee tiau yang terenak di kota ini bik, cobalah. Saya ke atas menemui kakak." menaiki tangga menuju kamar rindu.

__ADS_1


"Makasi non."


Ellisa menoleh dan mengangguk sembari mengacungkan jari jempolnya pada bik inah.


Ellisa membuka pintu kamar rindu secara perlahan lalu memasukkan sedikit kepalanya mencari keberadaan kakak iparnya itu disana. "Tidak ada...kemana.." ellis bergumam namun ellisa mendengar suara percikan air dari dalam toilet yang ada di kamar rindu.


Ellisa masuk ke dalam kamar itu, mendudukkan dirinya di sofa yang ada disana. Satu persatu ellis mengeluarkan bungkusan makanan yang ia bawa ke atas meja lalu menunggu kemunculan rindu dari balik pintu.


Herdy sedang mengadakan meeting via zoom di ruangannya. Sepertinya herdy sedang dalam mood yang buruk saat ini. Farel dapat merasakan aura dingin di dalam ruangan bos nya itu.


Dengan perlahan farel melangkah menuju meja kerja herdy lalu meletakkan beberapa berkas perusahaan yang ada di negara W ke depan herdy.


Herdy menutup meeting via zoom itu setelah mengucapkan akan disambung setelah istirahat siang ini.


"Sudah kuduga, kalau tidak mereka tidak akan berani keras kepala seperti itu." tersenyum smirk, membuat farel bergidik ngeri melihat bosnya itu dengan rencana yang pastinya sungguh luar biasa.


Farel mengikuti herdy ke sebuah tempat yang terkenal terlarang bagi penduduk kota itu. Tempat yang hanya di masuki oleh kalangan tertentu saja.


Farel yakin bosnya ini memiliki rencana yang akan melenyapkan orang orang yang sengaja mencari masalah kepadanya.


Ya herdy dan farel pergi ke Galaxy, tempat dimana orang orang yang bergerak dari bawah tanah, itulah julukan tempat ini.


Karena masih siang tempat itu terlihat sunyi tidak ada pengunjung. Sekilas tempat itu terlihat biasa saja seperti bar yang biasa di kunjungi anak anak muda.

__ADS_1


Seorang pelayan membukakan pintu suatu ruangan dimana disanalah tujuan mereka mendatangi tempat itu. Leon seorang ketua dunia hitam. Terkenal sadis dan kejam. Tidak ada yang tidak dapat diselesaikan oleh leon.


Memasuki ruangan leon terasa aura yang begitu dingin sama halnya dengan bos nya itu. Tak ada yang tau herdy memiliki perkumpulan seperti itu. Hingga saat ini hanya rayhan hutama, Ellisa dan farel saja yang tau identitas herdy sesungguhnya. Ternyata herdy adalah kumpulan orang yang dapat membunuh tampa menyentuh.


"Hal apa yang membawamu kemari" mengsap dalam cerutu yang ada di sela jarinya itu.


"Ck..kau tau, tak perlu aku berbicara. Aku hanya ingin mereka habis dan beri peringatan pada keluarganya." membuka minumann kaleng yang tersedia di atas meja ruangan itu, dan melemparkan satu kaleng ke arah farel yang berdiri tak jauh darinya.


"Orang bodoh mana yang berani bermain denganmu. Bosan hidup." berpindah duduk ke sofa panjang yang diduduki herdy.


Farel mengusap lehernya merasakan akan dingin dan ngeri di waktu yang bersamaan. "Oh..tuhan semoga keputusanku ikut bos tidak salah." ucapnya dalam hati merasakan suasana yang begitu ngeri.


Herdy melihat farel yang masih berdiri dengan minuman kaleng yang belum terbuka masih berada di tangan kirinya. Herdy bisa merasakan farel sedang melawan rasa takutnya. Ya herdy baru kali ini membawa farel ke tempat itu, tempat yang siapa saja tau itu bukan tempat sembarangan.


"Mau sampai kapan kau berdiri disana."


"Iya bos." dengan cepat farel melangkahkan kakinya ke sofa singel yang berada di dekatnya.


Disini farel hanya berbicara seperlunya saja, menjawab apa yang di tanyakan oleh leon dan herdy. Memberitahukan apa yang ingin di ketahui oleh kedua orang yang beraura dingin itu.


"Pantas saja auranya begitu dingin, ternyata si bos menutupi dalam identitasnya." ucap farel dalam hati.


Setelah Herdy, leon dan farel selesai menikmati makan siang yang disajikan tempat itu, ( Di tempat yang sama namun ruangan yang berbeda tepatnya di meja sebrang bartender.) herdy dan farel memutuskan kembali ke perusahaan untuk melanjutkan meeting yang telah ditunda sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2