Rindu ... Yang Memabukkan

Rindu ... Yang Memabukkan
Berita Bahagia


__ADS_3

Pukul delapan malam rindu tiba di rumahnya. Terlihat aichel dan ayahnya sedang asyik mengobrol di teras samping rumah mereka.


Rindu dan herdy menghampiri kedua pria tampan namun berbeda usia itu.


"Kalian sudah tiba...pasti kamu lelah ya nak?" melihat rindu.


"Banget yah...lain kali rindu ga mau achh ikut perjalanan ke luar kota." duduk di sebelah ayah dan aichel.


"Bagaimana nak herdy...? semua lancar??."


"Alhamdulillah pak lancar." sambil duduk di arah yang bersebrangan dengan rindu.


"Lo rin...coba aja punya hubungan sama herdy pasti perjalanan jakarta bandung terlalu singkat deh buat lo." ucap aichel mengejek temennya itu.


"Sama aja ai....itu mah ga akan merubah." sahut rindu mendekatkan wajahnya ke wajah aichel.


"Sudah...sudah...kalian ini sama saja tidak ada bedanya." lerai ayah rindu


" Herdy...kamu ga keburu mau pulang kan?"


"Kalau sudah tak ada lagi yang mau dibicarakan, herdy mau ijin pamit pak."


"Ya elaa...emang lo mau nemuin siapa sih keburu amat." meneguk teh.


"Ga ada ai..., mama gue di rumah. lagian gue ngerasa udah gerah banget ni ai." mencium ke arah bahunya.


"Ya udah nak herdy boleh pulang istirahat." Pak rayhan melihat ke arah anak gadisnya yang tiada perubahan mimik sama sekali.


"Sampai besok pak...rin.." berdiri dari duduknya.


"Herdy....berani lo ya ga pamit sama gue, ga bakalan deh gue jodohin lo sama adik tersayang gue." sambil tertawa puas.


Wajah rindu dan herdy tiba-tiba menjadi merah, keduanya tertunduk malu dan saling berlalu. Ayah rindu yang menyadari perubahan pada rindu dan herdy pun tersenyum. Sampai kapan kalian berdua bis menutupinya ucapnya dalam hati.


Dari arah pintu samping terlihat bik ojah berlari panik menghampiri aichel.


"Den....aden..."


"Ada apa bik..?"


"Itu den...non ocha pingsan." panik

__ADS_1


Aichel dan ayah rindu kaget dan berlari menuju kediaman aichel.


Mereka mendapati ocha yang telah berbaring di atas sofa.


"Bik... panggil rindu bik, suruh buruan kemari." titah ayah rindu.


Bik ojah pun berlari menuju kediaman pak rayhan dan langsung menaiki anak tangga untuk menemui rindu yang berada di kamarnya.


"Non....non...rindu..." mengetuk pintu terburu-buru. Rindu pun membukakan pintu dan melihat bik ojah yang nafasnya ngos-ngosan.


Bik ojah menyampaikan kabar kalau ocha pingsan. Rindu berlari menuruni anak tangga dan menghampiri ibunya yang berda di kamar untuk memberikan kabar, rindu tak kalah paniknya seperti bik ojah dan yang lain.


Aichel menggendong ocha ke dalam mobil. Rindu dan aichel duduk di depan sedangkan ocha mereka baringkan di bangku belakang.


Pak rayhan dan ibu rianti menyusul dengan mobil yang di kendarai pak yanto.


Dua puluh menit kemudian mereka tiba di salah satu rumah sakit swasta. Ocha langsung di pindahkan ke atas tandu sorong. Rasa panik dan kwatir jelas terlihat di wajah mereka semua. Setelah di periksa ternyata ocha tidak memiliki sakit yang berat, ocha hanya lemas kurang darah yang merupakan tanda dari kehamilan ocha. Semua mengucap syukur Alhamdulillah mendengar berita kehamilan ocha yang sudah berusia tiga minggu itu. Aichel pun tak lupa langsung menelpon mama dan papanya yang sedang berada di singapura.


Beberapa menit kemudian setelah ocha mendapat suntikan tambah darah ocha di pindah ke ruang inap vip. Dokter menerangkan ocha membutuhkan istirahat dan pantauan untuk dua hari ini.


Setelah ocha siuman, mereka semua mengucap selamat pada ocha. Aichel yang mengecup kening istrinya itu terlihat sangat bahagia. "Saya akan menjadi seorang ayah, trimakasih sayang" ucap aichel pada ocha.


Tak terlihat lepas tangan aichel menggemgam tangan ocha, dan mencium kening istrinya itu.


"Ai...biarin ocha istirahat, kandungannya masih terlalu rentan." mendekati aichel.


"Iya rin gue bahagia banget." memeluk rindu.


"Sama...kita semua bahagia, apalagi gue yang akan punya keponakan." jelas rindu.


Kini rindu dan aichel duduk di sofa yang terdapat di ruangan itu. Mereka mengobrol dengan suara yang pelan karna takut akan mengganggu istirahat ocha.


Rindu yang merasa bersalah menutupi hubungannya dengan herdy pun akhirnya buka suara untuk mengakui hubungannya dengan atasannya itu. Aichel tak sadar berteriak tak percaya dengan apa yang didengarnya sampai membuat ocha terbangun.


"Maaf sayang...kami ngobrol di luar saja." menarik rindu keluar.


"Gila lo berdua yaa...bisa-bisanya nyembunyiin ini dari gue." marah


"Kami awalnya ingin buat surpraise ai...tapi jadi takut mengakuinya." menunduk.


"Sejak kapan rin...??"

__ADS_1


"Kamu di eropah buat honeymoon."


"Gila....udah lebih sebulan dong kalau gitu."


Rindu menganggukkan kepalanya. Aichel mengambil hp yang ada di saku celananya dan menghubungi herdy.


"Lo ga tau waktu ya ai...!" suara orang tidur.


"Berani lo ya...udah ngumpetin hubungan lo." marah.


Herdy terduduk dan langsung tersadar atas perkataan aichel yang telah mengetahui hubungan mereka.


"Lo diam aja. Buruan lo kemari rumah sakit S."


"Siapa yang sakit ai...?" penasaran


"Ga ada. Ocha cuma lemas aja. Rindu bareng gue disini." menutup telpon.


Tiga puluh menit kemudian herdy tiba di rumah sakit S dan langsung menuju ruangan yang telah di chat kan rindu. Dengan kantongan berisi makanan di tangannya herdy mengetuk pintu kamar itu dan masuk ke dalam.


"Gimana keadaan ocha?" melihat ke arah tempat tidur.


"Uda baikan cuma butuh istirahat total buat dua hari ini."


" Emang ocha sakit apa?"


"Sakit karna enak tu si ocha." jawab rindu tertawa yang membuat pria di depannya ini bingung.


"Sakit karna enak...? emang ada rin...? " tanya aichel penasaran.


"Tu si rindu kan sakit karna enak."


Kedua pria tampan ini saling memandang dan tersenyum geli, mengerti arti ucapan rindu.


"Pintar lo sekarang ya...." ucap aichel menarik hidung mancung rindu.


"Sayang...kamu ini asal saja ngomongnya."


"Sekarang lo berani ya panggil-panggil sayang." seru aichel pada herdy.


Suasana ruangan itu pun jadi ramai untuk kedua kalinya ocha terbangun akibat dari kebisingan suami dan sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2