
Herdy terus mengetuki pintu kamar rindu. Herdy bingung atas perubahan sikap rindu yang tiba-tiba diam tak berbicara sedikit pun.
Herdy beranjak menuju kamarnya untuk membersihkan diri, berharap setelah ia selesai mandi rindu akan membukakan pintu untuknya.
Lima belas menit kemudian herdy telah selesai mandi dan terlihat sangat tampan bahkan hanya dengan menggunakan baju santai dan celana jeans.
Herdy kembali mengetuk pintu kamar rindu. Rindu yang merasa terganggu dengan suara ketukan akhirnya membuka pintu kamarnya. Dengan wajah yang malas dan kesal rindu kembali berbaring di kasur miliknya.
"Rin...kamu kenapa?" tanya herdy tampa menyadari rindu sedang cemburu kepanya.
"Aku cuma lelah dy..." memalingkan wajah dari tarapan herdy.
"Tapi kamu ga seharusnya kan diemi saya gitu?"
"Jadi kamu mau saya gimana?" meneteskan air mata.
Herdy yang meliht air mata rindu langsung duduk di samping rindu yang masih berbaring. Herdy mengecup lembut kening rindu.
"Saya minta maaf.." ucap herdy memeluk rindu.
Rindu hanya mengangguk mendengar ucapan herdy. "Ya sudah saya bersih-bersih dulu." ucap rindu berdiri dari dekapan herdy.
Setelah beberapa menit rindu telah keluar dari kamar mandi dengan kaos oversize dan celana hotpans membuat rindu terlihat sangat simpel namun tak mengurangi wajah cantiknya...
"Sayang...kita cari makan di luar aja ya?" ucap herdy sambil membantu rindu mengeringkan rambut dengan handuk.
__ADS_1
"Iyaa...tapi ini masih jam berapa?"
"Gapapa dong....sekalian menikmati hari sore." tersenyum tampan.
Rindu dan herdy kini sudah berada di dalam mobil untuk berkeliling menikmati hari sore di darah puncak.
Sesekali terdengar sura mereka mengobrol dan kembali hening begitu lah seterusnya sampai mereka tiba di salah satu rumah makan sederhana namun sangat padat peminatnya.
"Kamu yakin kita akan kedapatan kursi?" tanya rindu yang melihat panjang antrian masuk ke dalam.
"Kita coba saja."
"Bagaimana jika tidak dapat kita bungkus saja dan kita bisa cari tempat untuk menikmatinya." ucap rindu yakin.
Herdy dan rindu turun dari mobil berjalan ke arah rumah makan yang terlihat ramai itu. Herdy yang sangat susah untuk mencari tempat duduk memutuskan untuk membungkus makan malam mereka.
"Luar biasa ya..., jarang sekali bisa lihat rumah makan yang ramenya super duper gitu."
"Iya rin..., untuk mengambil napas saja susah." sahut herdy.
Tibalah mereka di parkiran taman yang tak jauh dari tempat mereka membeli makan malam tadi. Taman yang begitu terang karan banyak lampu-lampu yang memberi pencahayaan, walaupun hari sudah malam namun masih banyak ditemukan orang yang berada di dalam taman ini, bahkan ada yang terlihat seperti herdy dan rindu yang bertujuaan untuk menikmati makan malam di dalam taman.
"Saya minta maaf sama kamu." ucap herdy menatap rindu.
"Buat..?" membuka bungkusan nasi yang masih panas.
__ADS_1
"Tadi siang...dia itu temen saya dari smp sampai kita kuliah." jelas herxy.
"Oh..." sambil mencuci tangan dengan menggunakan air mineral.
"Kamu masih cemburu?"
"Siapa bilang?" wajah yang memerah.
"Wajah kamu yang mengatakan kalo kamu itu cemburu." dengan pede.
Rindu semakin malu mendengar ucapan herdy. "Yang benar saja bisa terlihat dari wajahku" gumam rindu.
"Iya terlihat jelas." ucap herdy lagi menjawab rindu yang seolah tau apa isi hati rindu.
"Maaf saya salah, itu adalah kesalahan saya yang tidak saya sadari dapat membuat kamu marah."
"Yaaa... daya juga minta maaf tak seharusnya saya cemburu." menunduk malu.
"Terimakasih rindu, karna kamu telah memilih untuk menerima saya."
Terlihat bungkusan nasi yang sudah kosong di atas meja taman itu. Rindu menaruh kembali bungkusan kosong ke dalam plastik dan membuang ke tempat sampah yang ada di samping bangku tempat mereka duduk.
Entah berapa lama mereka menikmati malam yang begitu cerah itu, hingga tak terasa taman sudah hampir kosong pengunjungnya.
Herdy dan rindu memutuskan kembali ke resort tempat mereka menginap setelah melihat sunyi di sekitar mereka.
__ADS_1