
Setelah selesai menikmati makan siang, herdy kembali fokus pada pekerjaannya sedangkan rindu dan ellisa asyik duduk di sofa ruangan herdy sambil memainkan ponsel.
Farel terlihat keluar masuk ruangan herdy untuk memberikan laporan, tapi tidak diketahui entah laporan apa itu, hanya saja wajah ke dua orang pekerja keras ini terlihat lebih serius.
Rindu yang melihat kesibukan farel kembali mengingat ucapannya untuk mencarikan suaminya itu sekretaris agar farel tidak terlalu repot merangkap pekerjaan asisten dan sekretaris secara bersamaan. Untuk menjadi sekretaris saja sudah repot di tambah lagi menjadi asisten yang harus siap bertugas selama 24 jam jika di butuhkan, pasti akan lebih membutuhkan banyak tenaga dan kesabaran.
"Sebaiknya memang harus mencari sekretaris baru." ucap rindu sambil melihat farel yang keluar masuk ruangan suaminya itu entah yang keberapa kali padahal masih selama beberapa jam keberadaan rindu berada di ruangan itu.
Melihat kesibukan masing masing orang yang ada di ruangan itu sepertinya tidak mendengar ucapan rindu, sehingga tidak ada yang menanggapi. Membuat rindu menghembuskan nafas kasar.
"Sayang...., tau tidak mood yang tidak baik itu bisa mempengaruhi mood orang orang yang berada di sekeliling kita." herdy menghentikan kegiatannya lalu menatap pada rindu sambil menyatukan kedua jemari tangannya sebagai penopang dagu.
"Yang begitu pelan saja bisa terdengar, tapi kenapa sewaktu saya berbicara tadi tidak ada yang mendengar." ucap rindu kesal.
"Bukan tidak dengar, hanya saja otak dan mata begitu juga lidah ini sedang sejalan bekerja sama untuk menyelesaikan beberapa berkas penting ini."
__ADS_1
"Alasan." rindu memutar bola mata nya tanda kecewa.
"Ayo kak kita jalan, kita shopping saja dari pada tinggal diam tak dianggap disini." ucap ellisa berdiri dan mengulurkan tangannya di hadapan rindu.
"Itu lebih baik." rindu meraih tangan ellisa dan berdiri.
"Sayang, jangan per..."
"Ehem..." farel masuk sambil memberikan kode pada herdy agar mengijinkan dua wanita yang ia sayangi ini pergi, karena mereka ingin melihat rencana orang orang arrai.
"Siap bos." ellisa membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada herdy.
Setelah kepergian rindu dan ellisa, farel menghubungi bos leon. Memberikan informasi jika nyonya nya itu telah meninggalkan kantor menuju salah satu pusat perbelanjaan kota itu.
Selama di perjalanan rindu asyik mengikuti irama lagu yang di putar dari audio mobil yang di kendarai ellis. Tampa sadar sebuah kendaraan lain tengah mengikuti mereka.
__ADS_1
Sebuah mobil van hitam, datang menyelip dan menghadang mobil yang dikendarai ellis tepat di rute jalan yang lebih sunyi, karena jalan ini termaksud jalan menuju akses perumahan elit yang merupakan dimana jalan ini tidak dilintasi kendaraan umum.
Citttt....... suara gesekan ban mobil dengan aspal ketika ellisa menginjak pedal rem secara penuh dan mendadak.
"Auw...."
"Brengsek" ucap ellis dan rindu bersamaan.
Salah seorang turun dari mobil van yang menghadang kendaraan ellis, lalu memerintahkan ellis untuk menurunkan kaca mobil nya.
Sementara itu tampa disadari semua orang, anggota bos leon sedang mengawasi mereka.
"Saya tidak akan membuat keributan, saya hanya memperingatkan agar perusahaan hutama mencabut segala tuntutannya pada bos kami. Kami tunggu dalam 24 jam ini, jika tidak jangan harap orang orang yang dia kasihi akan selamat." seorang yang berpakaian serba hitam itu meninggalkan rindu dan ellis.
"Kau kenal dia?" memperhatikan orang yang baru saja memberikan ancaman itu berlalu menaiki mobil van yang ada di depannya.
__ADS_1
Rindu hanya menggelengkan kepala menandakan ia tidak mengenalinya. Sedangkan anggota bos leon hanya menyeringai melihat dan mendengar ancaman anak buah arrai itu. Lalu ia memberikan laporan kepada bos leon tentang apa yang telah dilihatnya dan di dengarnya.