Rindu ... Yang Memabukkan

Rindu ... Yang Memabukkan
Garis Dua


__ADS_3

Herdy masih melihat aneh benda yang ada di tangannya itu tapi setelah membaca tulisan yang ada pada bungkusan benda itu mata herdy membesar dan mengumpat asistennya dalam hati. "Berani sekali farel, aku akan berikan hukuman yang..."


Belum selesai herdy mengumpat, rindu telah mengambil tespek tersebut dari tangan suaminya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Herdy berlari kecil ingin menyusul sang istri tapi herdy kalah cepat, pintu kamar mandi itu tertutup dan mencium hidung mancungnya.


Herdy berdiri di depan pintu kamar mandi menunggu rindu tapi setelah menunggu cukup lama rindu juga belum keluar sehingga membuat herdy cemas..


"Sayang.... Apa pun itu hasilnya tidak masalah... kita akan mencoba dan berusaha lagi, keluarlah ..." sambil terus mengetuk berharap sang istri muncul dari balik pintu itu.


Benar saja baru akan herdy ingin mengetuk lagi kini istrinya itu telah muncul dari balik pintu sambil menangis.


"Sudah...sudah...sayang... akan aku tendangkan si farel lancang itu..." belum siap herdy berkata rindu semakin menangis tersedu dan memeluk sang suami. Herdy semakin merasa bersalah, mengira istrinya tengah kecewa dari hasil tes tersebut.

__ADS_1


Rindu melepaskan pelukannya dan memberikan testpek itu pada suaminya, karena berpikir hasilnya negatif herdy tak melihat tanda garis dua malah mengabaikan alat tersebut.


"Lihat dulu ini..." rindu kembali memberikan alat tes tersebut kepada herdy.


Herdy yang tak ingin melihat istrinya semakin kecewa kini mengalihkan pandangannya ke alat tes tersebut. " Kita akan..." mata herdy berkedip beberapa kali setelah melihat dua garis merah pada alat tersebut. "Kamu..." rindu menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan suaminya yang belum selesai itu tapi ia begitu yakin apa yang akan keluar dari mulut sang suami.


"Aku akan menjadi seorang papi...". memeluk rindu dengan erat dan mencium seluruh wajah rindu.


Berulang kali herdy mengucapkan ia akan menjadi papi dan kembali mencium rindu saat mengucapkan kata kata itu.


Setelah mencurahkan rasa yang begitu bahagia kini rindu telah kembali berbaring di tempat tidur tampa menyentuh sate padang yang di inginkan sebelumnya.


Herdy memeluk rindu dengan posesif, seperti menjaga intan permata yang mahal takut dicuri orang padahal kini mereka sedang berada di atas ranjang kamar tampa ada orang lain di tempat itu.

__ADS_1


"Ini membuatku sesak sayang... kau akan membunuh kami." rindu mencoba melonggarkan pelukan posesif sang suami.


"Maaf...aku hanya terlalu bahagia dan ingin melindungi kalian" sambil melonggarkan sedikit pelukannya.


Herdy dan rindu tertidur dengan senyum bahagia di wajahnya. Begitu indah di pandang mata yang melihat dekapan sepasang suami istri ini, seperti hidup bebas tampa beban dan guratan bahagia begitu jelas terlihat.


Mentari pagi telah menerobos celah celah kain jendela namun sepasang suami istri penghuni kamar tersebut enggan membuka mata. Dekapan hangat masih memberikan rasa yang begitu nyaman bagi keduanya.


Ponsel herdy terus berdering hingga membuat si empunya ponsel meraih dan menjawab panggilan dari asistennya tersebut.


"Bos.."


"pergilah ke kantor dan jangan ganggu aku selama seminggu ini." herdy mematikan panggilan tersebut tampa menunggu jawaban dari sang asisten.

__ADS_1


Farel berjalan ke arah mobil dengan berjuta pertanyaan dalam kepalanya.


__ADS_2