Rindu ... Yang Memabukkan

Rindu ... Yang Memabukkan
Bos Gila


__ADS_3

Niat hati herdy ingin lebih awal berangkat ke kantor namun siapa sangka godaan yang datang lebih berat dari pada beban kerja.Setelah mengguyur tubuhnya untuk yang kedua kalinya pagi ini. Al hasil herdy berangkat kerja seperti jam biasanya.


Tampa banyak bicara farel yang sedang duduk menghadap meja makan, memperhatikan herdy yang menuju ke arahnya. Farel dapat melihat sesuatu yang lain pada wajah bosnya itu, tapi farel tidak tau itu apa. Bos dinginnya itu terlihat lebih bersemangat dari hari hari sebelumnya.


Belum tau saja farel bosnya habis ketiban undian yang luar biasa. Bagaimana manusia dingin itu tidak semangat, sedangkan pagi pagi buta sudah dapat jatah *** ***, mana itu di pimpin oleh sang istri.


Herdy tersenyum mengingat pertempuran panasnya yang baru beberapa menit lalu usai, herdy hanya menikmati dan sangat menikmati pertempuran hangat di atas ranjang yang di pimpin oleh rindu. Ini pertama kalinya rindu yang memegang kendali penuh, dan berinisiatif menggoda untuk memulainya.


"Bos... kau membuatku takut."


Herdy yang merasa terganggu oleh suara farel pun menajamkan mata pada farel.


"Ishhh... kau ini. Tadi senyum senyum tidak jelas, sekarang malah menatapku tajam begitu." ucap farel sambil mengambil dua keping roti untuk dinikmati, tak lupa farel oleskan selai coklat pada salah satu permukaan roti itu.

__ADS_1


"Nikmati saja makananmu, nanti juga jika waktunya kau akan mengerti."


Herdy meneguk segelas susu hingga tandas, untuk sarapan herdy hari ini kurang berselera atau sudah kenyang menikmati sarapan paginya di atas kasur.


Itu hanya dia yang tau


Ellisa yang baru bergabung di meja makan, memperhatikan kakaknya itu yang hanya diam saja, namun ellisa dapat melihat bekas segelas susu sudah tandas di depan kakaknya itu.


"Kakak tidak sarapan?" mengoleskan selai coklat di atas permukaan roti.


"Aneh... hanya melihat ke lantai atas dia bisa sebahagia itu?!" menggelengkan kepala tanda tak percaya dan sesuatu yang tidak masuk akal.


"Itu dia....tadi juga seperti itu, datang senyum senyum, giliran saya berbicara wajahnya langsung berubah menjadi dingin, seperti ingin menerkam." terang farel pada ellisa

__ADS_1


Ellisa yang mendengar penjelasan farel pun memainkan matanya, menelisik kebenaran namun itu yang ia temukan.


"Biar saja, mungkin manusia dingin ini sedang jatuh cinta" melanjutkan sarapannya.


"Heh...saya dengar kalian berbicara apa." menatap tajam pada kedua orang yang ada di bagian sisi kanan herdy.


Tampa menunggu lama setelah farel menghabiskan sarapannya, herdy langsung melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan makan tersebut, tampa memikirkan farel yang belum selesai meneguk minumannya.


Farel terburu menghabiskan minuman hanya sekali tegukan, lalu ikut menyusul bos dinginnya itu yang lebih dulu keluar.


Ellisa yang melihat pun hanya menggelengkan kepala melihat dua manusia yang berkelakuan aneh itu baginya.


"Cih... Aku melupakan apa yang ingin aku sampaikan pada manusia dingin itu." ucap ellisa dalam hati. Ellisa menyapukan penglihatannya ke segala ruang namun ia tidak menemukan seseorang pun ada disana, sehingga ellisa memutuskan kembali ke dalam kamar yang ia tempati. Duduk di atas ranjang sambil memainkan ponsel, membuka chat percakapan dengan sahabat sahabatnya yang tinggal di luar negri. Ellisa memang memutuskan untuk menetap di indonesia setelah menyelesaikan pendidikannya.

__ADS_1


Di dalam perjalanan menuju perusahaan, farel memperhatikan tingkah bos dinginnya itu terlihat sangat berbeda, tidak dapat di tebak, sebentar bahagia sebentar raut wajahnya sangat dingin. "Memang bos gila" ucap farel dalam hati.


Ingatnya hanya dalam hati, karena farel tidak akan berani mengatakannya langsung, bisa jadi gaji dan bonusnya hilang lebih parahnya lagi nyawanya akan jadi taruhannya.


__ADS_2