
"Selamat pagi sayang.... Cup" herdy mengecup bibir rindu lembut tampa *******.
"Kamu sudah bangun?"
Herdy hanya tersenyum tampa bersuara menjawab istrinya. Herdy memandang rindu yang tengah menatapnya juga dengan tatapan penuh cinta.
"Jam berapa semalam tiba di rumah?"
"Tidak lama, hanya saja istri cantikku ini sudah terlelap." jawab herdy tampa ingin membuat penghuni hatinya itu cemas.
Rindu masih betah berbaring dan semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu, sementara herdy mengelus lembut perut rindu yang sudah kelihatan sedikit membuncit. "Anak papi jangan nakal ya..jangan buat mommy susah." ucapnya seraya mendekatkan kepalanya ke perut rindu dan memberikan kecupan lembut disana.
Herdy terus mengelus lembut perut sang istri, menyalurkan rasa nyaman kepada ibu hamil itu. Rindu yang memang merindukan sentuhan herdy, memejamkan mata menikmati belaian tangan herdy di bagian perutnya itu.
Tok...tok ..
Suara ketukan muncul dari balik pintu kamar, membuat kedua si empunya kamar itu mengerutkan kening secara bersamaan.
Herdy mendekap erat rindu tak mengijinkan istrinya itu bergerak meninggalkan tempat tidur.
Suara ketukan yang lebih rapat lagi kini terdengar kembali di telinga sepasang suami istri itu.
Ellisa yang kesal kepada penghuni kamar yang tak kunjung menampakkan diri, sehingga ellis memutar knop pintu dan mendorongnya ke dalam.
__ADS_1
"Kenapa lancang sekali kamu, masuk sebelum di ijinkan." ucap herdy masih memeluk istrinya membelakangi pintu kamar itu, namun herdy merasa tau benar siapa yang berani mengetuk pintu dengan keras dan menyelonong masuk ke dalam kamar mereka, siapa lagi kalau bukan adiknya yang sangat bar bar itu. Ya itu adalah ellisa.
"Salah siapa tak kunjung keluar." ellis menjawab lebih ketus lagi.
"Terserah." membalikkan badan menatap ellis yang berdiri tak jauh dari pintu kamar.
"Ya...ya... anda yang memiliki wewenang." memutar bola mata malas.
Rindu yang melihat interaksi adik dan kakak ini hanya menggelengkan kepala tak percaya, keduanya begitu keras kepala tidak.
"Katakan ada perlu apa sehingga mengganggu waktuku bersama istriku."
Ellisa kembali memutar bola matanya saat melihat kakaknya itu pamer kemesraan dengan mencium pipi rindu. " Kami hanya menghargai kalian sebagai tuan rumah sehingga kami menunggu kehadiran kalian untuk sarapan bersama."
"Oh... hanya itu ..."
"Oke... kami tunggu di bawah" ucap ellisa keluar dari kamar kakaknya itu sambil menutup kembali pintu yang tadi ia buka.
Setelah menunggu lebih dari sepuluh menit, akhirnya sepasang suami istri pemilik hunian tersebut telah bergabung menduduki kursi ruang makan.
"Huh...kalian begitu lama. Cacing di perutku sudah berdemo minta di beri makan." sambil mengambil dua lembar roti dan telur mata sapi.
Herdy menatap farel yang sejak dari tadi hanya diam saja, biasanya farel juga akan protes pada bosnya itu tapi kali ini farel hanya diam tampa suara.
__ADS_1
"Farel..."
"Ada apa bos?" dengan sigap farel menyahut seperti anggota TNI saja.
"Ck... kau yang ada apa, kenapa diam saja?"
"Tidak ada bos, saya hanya sedang menikmati nasi goreng ini" mengangkat sesuap nasi goreng itu.
"Kamu sakit farel?" tanya rindu dengan intonasi ramah.
"Hai sayang, aku ini suamimu jadi jangan bersikap manis pada pria lain selain padaku" Herdy cemburu pada farel, merasa istrinya memperhatikan asisten nya itu. Membuat farel terbatuk mendengar ucapan bos dingin yang sedang bucin akut itu.
Ellisa memutar bola matanya jengah melihat kekonyolan sang kakak. Jelas jelas rindu hanya menjalankan tanggung jawabnya untuk memperhatikan asisten suaminya itu takut sedang sakit, tapi malah suaminya itu merasa cemburu. Rindu hanya bisa menggelengkan kepala saja melihat tingkah herdy yang begitu manja jika di rumah, tapi jika di luar rumah manusia es itu akan membeku hingga menyebabkan sekitarnya juga merasakan dinginnya.
"Sudah... sudah ayo lanjutkan sarapannya." ucap rindu kembali mempersilahkan asisten suaminya itu untuk melanjutkan sarapannya. Beda dengan ellisa yang terus melanjutkan kunyahan nya meski farel terbatuk juga kakak dan kakak iparnya itu saling menyela.
Hingga sampai di kantor herdy tetap mendiamkan farel. Cemburu herdy sungguh keterlaluan, tidak mungkin asisten dan istrinya itu berani bermacam macam di belakang nya, menatap rindu saja pun farel tidak berani, karena sadar rindu adalah milik bos dinginnya yang terkenal kejam. Lebih baik farel merasakan jomblo seumur hidup saja jikalau wanita di muka bumi ini hanya ada istri bosnya itu.
Padahal wanita di muka bumi ini sangat banyak, tapi farel kok masih jomblo ya....xi...xi...xi...
Ting....
Satu pesan masuk ke ponsel herdy. "Awas saja jika sayang masih mendiamkan farel atau cemburu padanya. TIDAK AKAN ADA JATAH ***- *** 1 BULAN INI."
__ADS_1
Herdy menelan ludahnya kasar membaca ancaman sang istri melalui pesan yang dikirimnya. Herdy tau betul rindu tidak pernah main main dengan ucapannya.
"Sialan ini farel, istri ku lebih berpihak padanya" umpat herdy dalam hati dan tak sadar meremas benda pipih itu kuat.