Rindu ... Yang Memabukkan

Rindu ... Yang Memabukkan
Hadiah yang terlupakan


__ADS_3

"Pulang ke rumah mama catryn." ucap herdy yang telah duduk di jok belakang.


Farel hanya menatap sekilas bosnya itu melalui kaca spion, memastikan apa yang di dengarnya tidak salah.


"Istriku disana, tidak mungkin kami tidur terpisah." herdy memberikan penjelasan pada farel yang sudah mulai mengemudikan mobil meninggalkan pelataran parkir galaxy.


Sepanjang perjalanan herdy hanya diam sambil menutup matanya, farel tau bosnya itu tidak sedang tidur melainkan ada sesuatu yang begitu berat mengganggu dalam pikirannya. Farel tau kekuatiran bos dinginnya itu pasti menyangkut orang orang terdekat.


"Sudah sejauh mana langkah mereka?" mata herdy masih tertutup namun kini tangannya berada di ujung pangkal hidungnya.


"Mereka masih mendekati pimpinan cabang kota W bos."


"Katakan pada orang orang kita biarkan dia memakan umpannya, agar kita bisa menangkap dengan mudah."


"Bagaimana dengan tuan besar?"


"Ayah mertuaku begitu cepat tanggap jadi jangan kuatir dia akan baik baik saja."


Farel menganggukkan kepalanya walau herdy tidak melihat itu.


"Yang sangat mengkuatirkan adalah rindu dan calon bayi kami. Beri perlindungan penuh."


"Untuk nona, bos leon yang turun tangan sendiri bos."


Setelah pembicaraan itu suasana dalam mobil kembali hening, roda roda ban mobil itu melaju dengan kecepatan sedang ikut bergabung dalam begitu banyak kendaraan yang berlalu lalang.


"Kamu masih mengidam nak?"


"Tidak mah, hanya saja mood rindu belum terlalu membaik."


"Itu wajar... perlahan"


Rindu hanya menganggukkan kepalanya untuk menanggapi ucapan mama catryn, sedangkan ellis tengah berada di dapur untuk membuatkan minum.


"Kamu sudah beri kabar pada suami kamu?"


"Sudah mah, mungkin sebentar lagi akan datang, karena belakangan ini banyak sekali pekerjaan."

__ADS_1


"Huh...kakak itu kapan sih liburnya? Harusnya ia bisa meluangkan waktu untuk menemanimu kak." ucap ellis yang datang dari arah dapur dengan tiga cangkir teh di atas nampan.


"Hus... kamu itu kalo ngomong asal saja."


"Tidak apa mah..., Kalau kakak kamu sibuk dengan saya saja, bagaimana bisa dia memberikan yang terbaik untuk calon keponakan kamu ini, hem...?" goda rindu sambil mengelus perut buncitnya itu.


"Ck. Kamu ini kak, jangan bawa bawa calon keponakanku... Ellis lebih percaya jika kakak bilang kakak lebih kuatir dengan perusahaan hutama itu."


Mama catryn membesarkan matanya mendengar ucapan putrinya itu, sedangkan rindu hanya mengendikkan bahu sambil memakan cemilan.


"Apakah manusia dingin itu takut dengan istri?" tanya ellis pada rindu, dan menatap rindu lekat menunggu jawaban kakak iparnya itu dengan penasaran.


"Kakakmu ini bukan takut istri, hanya saja sayaaaaaang istri." ucap herdy sambil mengecup kening rindu. Setelah itu herdy menyalim tangan mama catryn lalu duduk di bangku yang sama dengan rindu.


"Ishh... kau ini seperti hantu saja, datang tampa suara." ucap ellis yang kesal. "Jawab kak... apakah kakakku..." Belum sempat ellis menyelesaikan ucapannya.


"Sudah sana, buatkan minum untuk kakak kamu!" perintah mama catryn pada ellis.


"Ma...kau begitu peduli padanya." ellis kesal karena ia masih ingin mendengar jawaban rindu tapi malah di suruh membuatkan minum untuk kakak dinginnya itu.


Walau kesal ellis tetap beranjak dari duduknya dan menuju ke dapur untuk membuatkan minum.


"Dua...?" beo rindu namun dengan intonasi yang berbeda.


"Farel... masih di depan." sambil melirik ke arah pintu bertepatan kemunculan farel dari sana sambil membawa kantongan plastik berisi martabak manis yang tadi mereka beli sebelumnya.


"Duduklah." ucap herdy datar.


Setelah meletakkan bungkusan martabak di atas meja, farel mendudukkan bokongnya di sofa singel yang sebelumnya di duduki oleh ellis.


"Kamu ini... bisa tidak kalau berbicara yang baik dan jangan terlalu arogan seperti itu." ucap mama catryn melihat herdy sambil menggelengkan kepalanya.


"Ma..."


"Kamu ini, bagaimana kalau tidak ada yang betah bekerja dengan kamu?" ucap mama catryn lagi.


"Tanya saja pada farel, dia betah tidak bekerja dengan anak kamu ini." jawab herdy penuh percaya diri.

__ADS_1


"Sebenarnya bekerja denganmu adalah pilihan yang salah bos. Sangat berbahaya bergabung denganmu." farel sendiri yang menjawab pertanyaan herdy namun itu semua hanya dalam hati farel saja.


Mama catryn memperhatikan farel yang begitu tenang tampa ada tekanan di dirinya, padahal kenyataannya ia harus bekerja pada manusia dingin itu lebih dari batas kemampuannya.


Ellis kembali dengan nampan yang berisi dua cangkir teh. Ellis meletakkan teh hangat itu tepat di depan herdy dan satu cangkir lagi ia letakkan di depan farel.


"Waahhh ada martabak...ternyata kau begitu pengertian kak." membuka bungkusan dengan cepat.


"Kalo makanan saja kamu langsung tanggap dan sigap, coba kalo pekerjaan, uh...no belakang."


"Kakak jangan seperti itu ya, aku ini sedang menjadi pelindung kakak ipar." menepuk dada dengan bangga.


Farel yang melihat interaksi kakak adik itu pun tersenyum. Selalu saja ada perdebatan antara dua bersaudara itu, yang satu dingin dan arogan yang satunya lagi gadis bar bar.


"Echh iya kak... gara gara martabak ini, aku jadi ingat kalau kakak ipar melupakan sesuatu." menatap bergantian pada martabak dan herdy.


Rindu yang merasa mendengar namanya di sebut ellis pun tiba tiba menatap ellis penuh tanya. Begitu juga herdy, mama catryn dan juga farel menatap ellis penasaran dengan ucapan gadis bar bar yang tak pernah diam itu.


"Kau melupakan hadiahmu kak." melihat rindu yang sedang bingung menunggu jawaban.


"Astaga kau benar ell.." ucap rindu sambil beranjak dari duduknya teringat hadiah yang hampir terlupakan itu.


Semua mata menatap ke arah rindu yang tengah berjalan menjauh dari mereka.


"Apa yang di lupakan?"


"Kakak tunggu saja..., kakak ipar memang the best" mengacungkan dua jempol.


Rindu kembali ke ruangan itu dengan sebuah paper bag kecil di tangannya. "Ini buat mama.." menyerahkan paper bag itu pada mama catryn.


Semua orang penasaran isi bungkusan itu, terkecuali ellis yang sudah melihat dan mengetahuinya terlihat begitu santai tampa ingin tau.


Mama catryn membuka kotak yang berada dalam bungkusan tas kertas itu dengan penasaran.


"Achh cantik sekali...." puji mama catryn setelah melihat isi dalam kotak bewarna putih itu.


Sedangkan herdy menatap rindu dengan rasa bangga dan cinta sedangkan farel melihatnya dengan penuh rasa kagum pada istri bos nya itu.

__ADS_1


"Pilihan kakak ipar memang terbaik."


__ADS_2