
Langit sudah menampakkan kilatan cahaya senja. Seusai membersihkan diri kedua pasang ini memutuskan keluar dari kamar. Entah sudah berapa kali mereka berperang hangat di atas ranjang sehingga lupa akan waktu.
Rindu dan herdy bergandengan tangan saat menuruni tangga, namun setelah sampai ke lantai satu mereka melihat ke semua ruang tidak ada tanda- tanda penghuninya, karena bingung dan merasakan kelelahan rindu memutuskan duduk di sofa ruang keluarga sambil memikirkan kemungkinan yang terjadi.
" Mama juga kok ga kelihatan ya" ucap herdy sambil terus mencari keberadaan keluarga.
Rindu hanya menggerakkan bahunya sebagai jawaban tidak tahu.
Setelah beberapa menit kedua pengantin baru itu duduk, terdengar suara tawa yang begitu keras dari arah rumah aichel, membuat seketika dua insan ini saling menatap dan tersenyum.
"Cie....cie.....lemas ya...." Goda aichel pada pengantin baru itu yang baru saja memasuki pintu rumah aichel.
Wajah rindu merona merah, merasakan malu namun itu tidak berlaku pada herdy. Herdy terlihat begitu santai dan biasa saja.
" Apaan sih, udah deh..." kesal rindu lalu mendudukkan tubuhnya disamping sang suami.
" Udah... ga usah malu, semua yang di ruangan ini sudah merasakannya." ucap sang ibu yang membuat pipi rindu semakin merona merah dan malu.
Herdy yang menyadari kegugupan sang istri mencoba menenangkan rindu dengan membelai kepala rindu dan membawanya masuk ke dalam dekapannya. Tampa sadar perbuatannya semakin memancing keributan saat itu.
" Baru keluar aja, udah mau nyosor lagi aja. Ingat yang lainnya masih pada disini..." goda aichel lagi membuat rindu semakin membunyikan wajahnya di balik punggung herdy.
" Sudah... sudah.... Mumpung sang pengantin baru sudah datang mari kita makan." sambung papa aichel memberhentikan godaan kepada pengantin baru.
" Benar, perutku juga sudah minta diisi. Ha..ha...ha " ucap ayah rindu semangat. Tak dapat ia sembunyikan rasa bahagianya karena ia merasa telah memenuhi kewajibannya sebagai seorang ayah.
__ADS_1
Semua bergegas berkumpul ke ruang makan. Melihat semua sudah berkumpul dan duduk herdy merasakan ada yang kurang namun ia belum menyadari apa itu sampai setelah selesai doa makan di ucapkan baru ia menyadari bahwa sang mama tidak terlihat bersama mereka.
" Mama kemana ya bu..?"
Semua anggota keluarga saling memandang dan tertawa kencang.
" Gimana sih kalian ini, sudah dari tadi baru kecarian ya..?! " goda ibu rindu sambil menggelengkan kepalanya.
Herdy kembali menatap aichel namun sang sahabat hanya menaik turunkan alisnya.
" Mama kamu sudah pulang, tadi dianterin sama aichel." jawab ayah rindu karena semua anggota keluarganya semakin menggoda pengantin baru ini tampa berniat menjawab kebingungan sang menantu.
" Tadi mbak Catryn sudah mencoba mengetuk kamar kalian, hendak pamit tapi kalian ga jawab, ya sudah mbak catryn tinggalin pesan pada kalian agar jangan lupa lusa jemput adik kamu ke bandara. " sambung sang ibu mertua.
Setelah mendengar penuturan sang mertua, herdy dan rindu mulai menyantap makanannya dengan lahap.
" Baru aja kelar udah kedinginan aja." goda ocha yang melihat temannya itu merasakan dingin.
"Kamu... emang kamu ga ngerasa yah? beneran kok, hari ini sepertinya lebih dingin dari kemarin-kemarin." ucap rindu sambil mengambil bantal sofa untuk ia peluk.
" Gimana ga kedinginan, seharian ini kamu diapit terus tuh sama herdy."
"Ocha...mulut ya... ini bener- bener ni anak minta dikasih bogem." sambil memberikan tinjuan kecil di lengan sahabatnya itu.
Mama herdy datang dari arah kamarnya membawa selimut kecil pada rindu dan menantunya itu. " Nih pakai selimut, cuacanya lebih dingin, mungkin akan kemarau." ucap mama aichel sambil ikut duduk di samping rindu.
__ADS_1
Rindu yang melihat ocha menatapnya pun menjulurkan lidahnya mengejek ocha. Memberi penjelasan dengan tatapannya bahwa bukan hanya ia yang kedinginan.
Setelah hampir larut mereka semua membubarkan diri dan beranjak istirahat. Pak Rayhan beserta keluarganya undur diri dari rumah sahabatnya itu berjalan menuju rumahnya sambil menggandeng sang istri, begitu juga dengan herdy yang tak mau kalah terhadap ayah mertuanya, mengambil jemari istrinya untuk disatukan dengan jemarinya.
Setelah sampai di rumah, masing-masing mereka menuju kamar mereka setelah memberikan ucapan selamat malam.
Rindu kembali menelan ludahnya kasar saat melihat sang suami kini sudah bertelanjang dada hanya menyisakan bokser yang menutupi aset beharganya itu.
"Kenapa...? mau ya...hemm..?" goda herdy mendekat pada istrinya.
" Tidak...tidak ..sudah cukup ya " rindu menahan dada bidang suaminya itu saat hendak ingin menindihnya.
" Jangan gitu dong sayang, sekali aja janji deh" terus berusaha mengukung rindu. " Biar kamu juga terbiasa sama milikku ini " sambungnya lagi sambil memegang pentungan besar nan panjang itu dengan salah satu tangannya.
" Tadi kan sudah... masih lemas juga badan aku" timpal rindu mencoba menahan suaminya.
" Itu kan tadi... ini malam pertama kita loh, janji sekali aja biar capek sama lemas ya sekalian" bujuk herdy
" Gimana malam pertama, kemarin kan udah?" sambil terus menahan tangan suaminya yang mencoba berkeliaran di atas perutnya.
" Iya kemarin malam pertama, tapi kan belum ***- ***. Ini baru malam pertama sesungguhnya. " mengecup bibir rindu dengan lembut.
Akhirnya rindu kalah berjuang mempertahankan piyama yang melekat di butuhnya. Penyatuan indah, kembali terulang di malam yang dingin itu.
Suara rancauan dan ******* nikmat lolos dari mulut rindu, menambah dan membakar gairah sang suami untuk terus bergerak maju mundur diatasnya.Jemari herdy lincah memainkan pucuk dada rindu hingga membuatnya semakin menggeliat nikmat akibat perbuatan suaminya itu. Bukan hanya sekali seperti janji sebelumnya herdy ucapkan.
__ADS_1
Entah sudah ke berapa kali erangan panjang keluar dari mulut kedua insan yang saling memadu kasih itu. Hingga lupa akan waktu untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah akibat rasa nikmat yang terus menghantam. " Rindu... kamu begitu memabukkan..., begitu nikmat.." ucap herdy di telinga rindu sambil memeluk erat tubuh istrinya mencapai pelepasan kenikmatan dunia itu.