Rindu ... Yang Memabukkan

Rindu ... Yang Memabukkan
Liburan


__ADS_3

Rindu sibuk mengerjakan beberapa dokumen untuk seminggu ke depan, begitu juga dengan herdy yang tak kalah sibuknya mempelajari dan menandatangani berkas-berkas tersebut.


Hari ini banyak karyawan yang diminta menghadap ke ruang kerja herdy sehingga beberapa dari karyawan pun merasa takut untuk berhdapan dengan bos yang dingin itu.


Beberapa menit lagi jam kerja akan berakhir namun tidak demikian bagi rindu, herdy dan beberapa karyawan lainnya. Terlihat wajah murung dari beberapa karyawan yang keluar dari ruangan herdy, dan itu membuat rindu tersenyum heran di meja kerjanya. Orang sedingin herdy kok bisa ya mengisi hatiku pikirnya dalam hati.


Rindu kembali konsentrasi mengerjakan beberapa file yang harus selesai hari ini karna seminggu kemudian ia akan mendapat libur sesuai dengan janji ayahnya begitu juga dengan herdy.


Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam dan pekerjaan yang menumpuk tadi pun sudah mereka selesaikan. Rindu, herdy dan beberapa karyawan kantor lainnya terlihat begitu lelah saat keluar dari gedung kantor mereka.


Herdy yang langsung menuju parkiran untuk mengambil mobil sedangkan rindu menunggu di depan lobby.


Tak banyak percakapan mereka selama di perjalanan pulang, hanya terlihat sesekali herdy mengusap rambut kekasihnya itu. Setibanya di rumah rindu, herdy juga langsung berpamitan pulang tak seperti biasanya.


Rindu melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Tak lama setelah membersihkan tubuhnya rindu pun tertidur di atas kasur empuknya itu.


Di tempat lain herdy juga telah membaringkan tubuhnya yang sangat lelah itu.


Mama herdy memasuki kamar anaknya itu dengan membawa secangkir teh hangat dan meminta anaknya untuk meminumnya berharap dapat mengurangi rasa lelah pria tampan itu.


Didalam kamar, rindu terlihat sudah larut dengan tidurnya sehingga ibunya mengurungkan niat membangunkannya untuk makan. Rianti menyelimuti tubuh anaknya yang semampai itu, mencium kening rindu dengan penuh kasih sayang.


Hangatnya mentari mulai memasuki ruangan kamar rindu malalui celah-celah horden.


Indahnya langit pagi ini yang bewarna biru dan di tambah kicauan burung membuat rindu semangat memulai hari liburnya.


Rindu menuruni anak tangga ingin menghampiri ibunya namun ternyata ibunya sudah lebih dulu berada di hadapannya.


Mereka saling mengucap selamat pagi dan menuju ke meja makan secara bersamaan.


Rindu mengambil sehelai roti dan membubuhkan selai coklat di atasnya. Mata rindu melihat ke arah seisi ruangan rumahnya itu seolah mencari sesuatu.


"Ayah kamu sudah berangkat, gak usah dicari." ucap ibu rindu yang seolah tau apa yang sedang dicari anaknya itu.


"Kok ayah cepat banget sih bu berangkatnya??" mengunyah roti dengan perlahan.


"Loh...bukannya kamu dan herdy sedang libur ya?" menatap rindu.


"Rindu lupa bu..." memukul jidatnya.


Tiba-tiba rossa muncul dengan wajah cemberutnya dan duduk di sebelah rindu. Tampa berucap rossa mengambil sehelai roti dan memasukkan dalam mulutnya.


"Lo kenapa, pagi-pagi udah cemberut gitu?"


Rossa hanya menjawab dengan gelengan kepala sambil tetap mengunyah roti yang ada di mulutnya.


"Ga dapat jatah lo?" ceplos dan menatap ocha.


"Rinduu..." teriak rianti yang duduk bersebrangan dengannya


Sedang ocha masih terlihat diam tak buka suara.

__ADS_1


"Ibu lihat sendiri tu, muka cantiknya ditekuk gitu."


Rindu melihat aichel yang ikut bergabung dengan mereka sudah berpakaian rapi.


Kini wanita cantik itu paham mengapa sahabatnya itu sudah menekuk wajahnya sepagi ini.


"Udah.... lo tenang aja, aichel cuma ngantor doang, bukan cari cewek baru." mengedipkan matanya ke arah aichel.


"Tapi gue mau ditemani aichel rin.." wajah yang semakin cemberut.


"Sayang....bentar aja kok, ada beberapa berkas yang perlu di tanda tangani." jelasnya sambil mengecup kening ocha lembut.


"Ok. Tapi entar siang kamu harus ada di rumah."


"Iya janji sayangku, entar kita lanjutin lagi ya olah raganya." ucap aichel tampa merasa canggung pada rindu dan rianti ibunya rindu.


Wajah rossa langsung merona bahagia mendengar ucapan suaminya itu. Sedangkan rindu dan ibunya hanya geleng-geleng saja melihat suami istri itu.


"Gue heran deh liat lo berdua... masih pagi tau... lo udah ngomong mesum gini, malah di rumah gue lagi." menatap kedua sahabatnya itu bergantian.


"Biarin...yang penting kita heppi" sahut aichel sambil berlalu menuju keluar.


Rossa pun berdiri dan mencium pipi sahabatnya itu, mengucapkan terimakasih sambil menyunggingkan senyuman rasa senang.


Rindu yang mengenakan baju kaos oversize dan celana jeans pendek terlihat santai duduk di teras rumahnya dengan memainkan smartphone nya.


Sebuah mobil sedan hitam memasuki pekarangan rumah rindu. Terlihat herdy yang keluar dari mobil itu memberikan senyuman tampan untuk rindu. Rindu pun membalas senyuman herdy tak kalah manisnya. Herdy menarik kursi ke samping rindu dan mendudukinya.


"Sayang....rindu kamu deh." meletakkan tangannya di atas meja dan menatap rindu hangat.


Rindu menatap kekasihnya yang tampan itu dengan seksama, mulai dari wajah hingga ke kaki herdy.


"Emang kamu mau kemana sih kok rapi amat?" sambung rindu.


"Ya mau nemuin cewe gue lah." mengedipkan satu mata ke arah rindu.


"Ichh genit." memukul lengan herdy yang masih di senderkan di atas meja.


"Tante mana ?" melihat ke arah dalam rumah.


"Ada. Tapi lagi di rumah aichel nemeni ocha."


"Aichelnya kemana?" penasaran.


"Ada yang penting di kantor."


"Sayang... kita jalan yuk...mumpung libur."


"Kemana?" menatap kekasihnya itu.


"Ada dech..." menarik gemas hidung rindu


"Malas ach..."

__ADS_1


"Ayo dong..." memasang wajah melas.


"Kamu sich main rahasian, entar aku nya di jual lagi." ucapnya dengan senyum.


Rindu dan herdy terlihat semakin akrab, kini mereka juga sudah mulai memperlihatkan keromantisannya di depan keluarga mereka.


Herdy mengajak rindu liburan ke daerah puncak. Herdy memang pria yang begitu bertanggung jawab, ia memilih liburannke daerah puncak juga karna ingin mengawasi pembangunan resort milik bosnya itu, yang beberapa waktu lalu mereka kunjungi.


Mereka berangkat ke puncak dengan persiapan yang matang membawa beberapa pakaian ganti, begitu juga dengan herdy yang telah mempersiapkan semua dari rumahnya, karna sebelumnya mereka harus membeli baju ganti disana.


Setelah tiga jam lebih menempuh perjalanan mereka tiba di salah satu resort yang terlihat sangat asri, pohon dan bunga menjadi pemandangan yang dominan disana.


Herdy membooking dua kamar yang bersebelahan. Lapangan hijau yang lebih rendah dari bangunan resort itu pun menjadi pemandangan dari arah kamar mereka, penuh dengan warna warni bunga menambah teduhnya mata memandang.


Rindu yang duduk di kursi teras kamarnya pun dikejutkan oleh tangan yang menutup matanya dari belakang.


"Udah dech..."


"Abisnya kamu melamun aja sih." ucap kekasihnya melepas tangan dari mata rindu dan duduk di sebelahnya.


"Bukan melamun sayang...cuma menikmati pemandangan dan udara yang seger banget." ucapnya sambil menarik hidung mancung herdy.


"Udah sore nih...mau mandi." ucap rindu berjalan masuk ke dalam kamarnya.


"Ya udah...yang wangi ya sayang." sahut herdy bahagia.


Herdy yang juga memutuskan untuk mandi pun masuk ke dalam kamarnya.


Tak butuh waktu yang lama bagi herdy untuk membersihkan tubuhnya, dengan waktu sepuluh menit ia sudah terlihat begitu tampan dengan baju sweater bewarna abu dan celana santai trening terbuat dari bahan catunwol.


Herdy yang belum melihat rindu keluar dari dalam kamarnya memutuskan untuk masuk ke dalam, benar saja herdy masih melihat pintu kamar mandi yang masih tertutup dengan suara desiran air dari dalam.


Hampir sepuluh menit herdy menunggu di dalam kamar akhirnya rindu keluar dari dalam kamar mandi dan sudah mengenakan baju kaos eversize dan celana jeans bewarna biru muda yang jadi favoritnya itu.


Rambut rindu yang masih basah menambah aura sexynya, ditambah dengan wangi yang begitu khas dari rindu membuat jantung herdy berdetak kencang. Herdy menghampiri dan memeluk dari belakang kekasihnya yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk.


Wangi tubuh rindu semakin menggoda iman herdy. Naluri lelakinya tak mampu menahan hasratnya untuk tidak mengecup wanita cantik yang ada didekapannya itu.


Cup...satu kecupan berhasil ia sematkan di telinga rindu. Cup...di pipi rindu. Cup...di bibir merah rindu, yang entah sejak kapan mereka sudah saling berhadapan.


Handuk yang tadinya berada di tangan rindu pun terjatuh di lantai, kini rindu mengalungkan tangannya di leher herdy. Rindu yang membuka diri membuat herdy semakin ingin meneruskan ciumannya lebih dalam lagi.


Ciuman yang diberikan herdy mendapat balasan dari rindu sehingga membuat mereka saling melumat. Entah sudah berapa menit mereka saling melumat hingga akhirnya mereka berhenti mengambil nafas, hanya hitungan detik mereka kembali melanjutkan ciuman yang begitu panas itu.


Rindu merasakan sesuatu yang keras mengenai pangkal pahanya.


Emh...


Emh...


 


Hai..hai...guys...ma'af ya disini ada perubahan kata saya menjadi aku, biar kerasa lebih akrab lagi....

__ADS_1


Author....harap ni bisa dapat kritik saran buat jadi referensi author...di episode berikutnya yang lagi basah tapi ga ampe banjir .


__ADS_2