Rindu ... Yang Memabukkan

Rindu ... Yang Memabukkan
Mawar Merah


__ADS_3

"Dari pada terus mengurung diri dan menunggu kehadiran manusia dingin itu, kenapa kita tidak menghabiskan waktu untuk berbelanja." Ellisa menaik turunkan alisnya.


"Isshh... kau ini, taunya hanya berbelanja saja. Ini saja masih banyak yang belum di makan." ucap rindu sambil mengangkat salah satu bungkusan yang di bawa ellisa sebelumnya.


"Kakak payah... itu kan makanan, maksudku kita akan berbelanja apa saja, baju, tas atau sepatu." memasang wajah kesal.


"Hai.. kau adik ipar durhaka, beraninya kesal padaku."


"Ck... ayolah kita pergi agar aku tidak memasang wajah kesal ini."


"Kau lihat ini.." menunjuk perutnya yang sudah mulai membesar.


"Justru itu... kita akan mencari baju yang cocok untuk perut buncit mu kak." dengan semangat merasakan mendapat ide yang baik.


"Dan apa kau setega itu kepada calon keponakanku, membiarkannya hanya melihat kamar mu ini saja."


Rindu berdiam, setelah beberapa detik rindu berdiri dari duduknya. "Ok... ini hanya demi anakku, bukan untukmu." berjalan ke luar kamar meninggalkan ellisa yang masih terbengong tak percaya ternyata kakak iparnya setuju untuk keluar dengannya hari ini.


Ellisa mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Mengirimkan pesan pada sang kakak memberitahukan bahwa ia akan membawa rindu keluar untuk berbelanja. Tampa menunggu balasan dari sang kakak ellisa berlari menyusul rindu yang telah dulu keluar dari kamar.


"Kau ini lama sekali" sambil masuk ke dalam mobil ellis yang terparkir di depan rumah.


"Maaf... aku harus mengirimkan pesan pada suami dingin mu itu terlebih dahulu."


Rindu menatap sang adik iparnya itu. "Untung saja kau ingatkan, aku lupa memberitahunya." mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecilnya.


"Tidak perlu, aku sudah memberitahu nya." menyalakan mobil dan menginjak pedal gas berlalu dari sana.


Walaupun ellisa sudah menghubungi herdy, rindu kembali mengirimkan pesan pada sang suami.


"Sudah tidak usah menunggu balasan dari manusia dingin itu, ia sedang sibuk, kecuali dia tidak punya cukup banyak pekerjaan."


"Kau ini, manusia dingin itu kakakmu dan dia suamiku, ayah dari anakku ini" tidak senang.

__ADS_1


"Baiklah... baiklah. Kau benar tuan putri."


Rindu hanya memutar bola matanya mendengar ucapan adik iparnya yang bar bar itu.


Ting....


Herdy membuka ponselnya dan melihat pesan dari ellis. "Aku akan pergi berbelanja bersama kakak ipar."


Herdy melanjutkan kembali kegiatannya untuk memeriksa laporan yang terdapat ipad nya, tampa membalas pesan dari sang adik. Karena herdy tau adiknya itu tidak sedang meminta ijin padanya melainkan hanya memberi tahukan jika istrinya akan di bawanya keluar.


Hanya dalam hitungan menit, pesan kembali muncul dari ponsel herdy. Tapi karena herdy terlalu fokus pada pekerjaannya ia tidak ingat untuk melihat isi pesan itu.


Setelah herdy selesai melihat laporan yang ada di ipadnya, herdy kembali mengambil ponsel yang terletak di jok kosong itu.


"Sayang... aku sedang di tawan oleh adik kecilmu untuk menemaninya berbelanja."


Hanya melihat pesan sang sang istri, mood herdy bisa berubah menjadi lebih baik. Perlahan aura dingin di dalam mobil itu menguap pergi.


"Kita kemana bos" menebak isi pikiran bos nya itu.


"Toko bunga. belikan aku buket mawar merah."


"Ck... masih seperti anak muda yang kasmaran saja." senyum sambil menggeleng tak percaya akan tingkah bosnya itu.


Rindu kini tengah berada di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota itu bersama sang adik ipar yang terus menggandeng tangannya.


Keluar masuk ke butik ternama mencari pakaian yang ellisa inginkan.


Herdy dan farel kini tengah berhenti di sebuah toko bunga. Herdy memilih sendiri karangan bunga mawar merah itu, sedangkan farel hanya menemani si bos dingin itu dan memberikan sebuah kartu pada pegawai toko untuk melakukan pembayaran.


Herdy melihat farel dan berbicara lewat tatapannya. "Kau tidak membeli buket bunga juga?"


"Yang benar saja bos, kau tau aku yang singel ini. Apa kau ingin aku membelikan nyonya juga?" tersenyum dan memasang wajah tak bersalah.

__ADS_1


"Ingin kepala mu lepas dari tubuhmu itu, coba saja." sambil menuju mobil.


Farel bergidik ngeri menyentuh lehernya, dan menyusul herdy yang lebih dulu masuk ke dalam mobil.


"Pusat perbelanjaan H."


Farel mengemudikan mobilnya menuju tempat yang di minta herdy. Tampa berani membantah walaupun harusnya ia mengingatkan bos dingin itu untuk kembali melanjutkan meeting via zoom kembali.


"Ini lebih cocok untukmu kak, walaupun perutmu sudah membuncit tapi menambah sexy." ucap ellisa memberi penilaian saat kakak iparnya itu mencoba beberapa gaun yang cocok dengan perut yang mulai membuncit itu.


"Aku memang sexy, dan cantik." ucap rindu percaya diri sambil mengambil beberapa pakaian lagi untuk di coba.


Kini saatnya rindu memilih gaun malam yang membuat perutnya nyaman dengan pakaian berbahan catton itu.


"Yang hitam lebih cocok" Herdy masuk ke toko pakaian dalam wanita tampa rasa canggung.


"Yaa.." rindu melihat ke arah sumber suara yang begitu di kenalnya itu. "Kok bisa tau kami berada disini?" rindu langsung bergelayut manja pada herdy.


"Gampang bagi seorang wardana putra untuk menemukan keberadaan kamu." sambil mengecup kening rindu dan memberikan buket mawar merah yang begitu cantik, sehingga menimbulkan rasa iri dan baper bagi yang melihatnya. Seperti cerita dalam novel saja.


"Ck...tidak perlu pamer kemesraan di hadapan kami jomblo ini" ellisa memutar bola matanya.


"Cukup tutup matamu jika keberatan."


Farel jadi salah tingkah berada di toko pakaian dalam khusus wanita dan menyaksikan bos nya yang sedang pamer kemesraan. Begitu juga beberapa pelayan toko itu jadi malu sendiri memalingkan wajah ke arah lain tak ingin melihat orang yang cukup di kenal di kota itu pamer kemesraan.


Sudah puas dengan belanja hari ini, kini mereka berempat memutuskan untuk mengunjungi tempat menjual makanan khas jepang, merupakan pilihan ibu hamil itu.


Farel yang melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 02.35 menit menatap bosnya yang masih saja asyik menikmati kebersamaannya bersama nyonya wardana putra itu.


"Biar kan mereka menunggu.." mengerti tatapan farel yang menatap ke arahnya.


Mendapat jawaban bos nya itu, farel hanya bisa diam menunggu dan menikmati makanan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2