
Mobil yang membawa rindu, herdy dan aichel berhenti tepat di sebuah gedung tinggi perkantoran. Ya setibanya di tanah air mereka bergegas segera ke kantor, seperti tak ada lelahnya untuk terus bekerja.
Langkah ketiga orang tersebut masuk secara beriringan menapaki lantai marmer menuju sebuah ruangan yang berada di lantai sepuluh.
Dalam ruangan tersebut seorang pria yang tetap terlihat bugar walaupun dengan usia yang sudah tak muda lagi, siapa lagi kalau bukan sang CEO rayhan hutama ayah dari seorang rindu.
"Bagaimana...kalian tiba lebih awal"
"Sudah diatasi dengan baik yah" sambil memberikan beberapa bukti pengambilan alih perusahaan SS.
"Luar biasa. Lalu bagaimana dengan kamu chel?" melihat aichel yang duduk santai membaca majalah bisnis.
"Seperti yang om harapkan, semua terkendali." sambil menggerakkan pundaknya.
"Kalian memang anak-anak yang luar biasa. Tidak akan salah jika kalian yang memimpin semua ini." menyenderkan punggung ke sofa.
Setelah selesai membicarakan segala permasalahan kantor akhirnya mereka berempat memilih untuk pulang lebih awal.
__ADS_1
Ocha yang masih belum diijinkan untuk ke kantor, aichel meminta ocha untuk menemani tumbuh kembang si buah hati yang bernama ardyan. Melihat sang suami telah kembali ocha segera menyambut dengan wajah tersenyum cantik.
" Kami merindukanmu papa sayang" memainkan tangan sibuah hati ocha menirukan suara anak bayi.
"Papa juga merindukan kalian" mencium gemas pipi bulat adryan dan mengecup lembut kening ocha." Mama sama papa dimana?" melihat keberadaan rumah yang sepi.
"Papa dan mama ada, baru aja mereka beristirahat, seharian main sama baby boy." sambil masuk ke dalam rumah bersama sang suami yang telah mengambil alih adryan dari gendongan ocha.
"Melihat kalian semua rasa lelah ini tergantikan." membelai pipi ocha secara lembut.
Aichel pergi ke kamar untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket, sementara ocha sedang menidurkan baby boy.
"Biarkan mereka beristirahat bu.."
"Iya.., ibu hanya ingin tau keadaan mereka." sambil menatap ke lantai atas dimana terlihat pintu kamar rindu yang tertutup.
"Mereka baik hanya saja mereka pasti lelah karena tugas tugas mereka ditambah perjalanan yang sangat lama."
__ADS_1
"Semoga kita lekas punya cucu ya yah, biar rumah ini terasa ramai seperti rumah kiran." tersenyum membayangkan betapa indahnya suasana rumah itu jika memiliki anak kecil.
"Ya..semoga saja. Ayah juga ingin rindu berhenti ke kantor agar rindu bisa mengurus herdy lebih baik lagi."
"Seperti ibu kan..." tersenyum bangga.
"Yaa..seperti itu." ekspresi yang sama tetap dingin.
Bi inah memanggil sang majikan karena telah mempersiapkan makan malam di atas meja untuk segera dinikmati.
"Bi sekalian panggilkan rindu dan suaminya ya.."
"Iya buk.." ucap bi inah dengan sopan dan menuju ke lantai atas untuk memanggil nona rumah rersebut.
Makan malam pun berlangsung dengan suasana yang hangat. Semua anggota keluarga tak ketinggalan bi inah sangat menikmati makan malam itu.
Ya di rumah keluarga pak hutama tidak ada kata perbedaan status, mereka semua makan bersama di atas meja makan yang sama, baik dari pekerja rumah tangga hingga supir semua mereka berkumpul untuk menikmati hidangan yang ada di meja.
__ADS_1
Di taman samping rumah kini herdy pak Rayhan dan mang ujang berada, mereka bercerita bertukar pendapat. Hal itu biasa dilakukan pak rayhan agar lebih dekat dengan mereka yang bekerja padanya sambil ditemani kopi panas.
Kini herdy telah berada di kamarnya mendapati rindu yang telah pulas tertidur. Bayangan -bayangan panas di kepala herdy hilang seketika, tak ingin mengganggu istirahat sang istri, herdy mengurungkan niatnya untuk berperang hangat di atas ranjang. "Malam ini masih kau berpuasa lagi..." ucap herdy sambil melihat pentungan di bawah sana yang sudah siap tempur. Herdy membaringkan tubuhnya dan membawa rindu dalam dekapannya. Membiarkan pentungan miliknya untuk menenangkan diri.