
Herdy dan rindu tengah menikmati secangkir teh hangat di sebuah coffeshop yang berlokasi di dalam bandara.
Ya hari ini adalah kepulangan adik herdy dari luar negri.
Setelah mendengar informasi bahwa pesawat dari negara California akan mendarat, herdy mengajak rindu untuk menunggu di dekat pintu kedatangan luar negri.
Rindu sedikit terkejut sebenarnya, bagai sebuah mimpi rasanya mengetahui suaminya memiliki seorang saudara perempuan, yang selama ini tidak pernah ia ketahui.
Melihat kedatangan adiknya herdy begitu bahagia dan semangat untuk menyambutnya sehingga melupakan keberadaan istrinya yang tengah duduk di kursi tunggu.
" Aku begitu merindukanmu kak." ucap ellisa seraya memeluk tubuh kakaknya.
" Lebih dari yang kau rasakan. Humm." melepas pelukan dan mencubit gemas hidung mancung adiknya itu.
" Mama bilang kau datang bersama kakak ipar?!" melihat ke sekeliling.
" Oh...habislah..." menarik koper dan tangan ellisa menuju keberadaan rindu yang masih tetap duduk sambil memainkan ponselnya.
" Aku melupakannya..." bisiknya pelan di telinga ellisa.
"Humm." mata ellisa membesar mendengar penuturan sang kakak. " Bagaimana bisa?" penuh dengan keheranan.
" Sayang...." mengusap lembut rambut rindu.
"Ya..." masih melihat ke arah ponsel.
" Apa kamu tidak ingin menegur dan menyapa adik iparmu yang cantik ini?!"
" Yaa.." seketika rindu melihat ke arah herdy dan melihat seorang gadis yang begitu cantik berdiri di samping suaminya itu.
__ADS_1
" Hai kakak ipar..." tersenyum cantik dan mengulurkan tangan.
"Hai gadis cantik" berdiri dan menyambut uluran tangan ellisa.
"Ternyata begitu cantik, tapi kenapa herdy ataupun mama tidak menceritakan kalau masih ada satu anggota keluarga lagi ya?" tanya rindu dalam hati namun masih memberikan senyum.
" Pasti begitu lelah bukan?"
" Ya begitulah kak. Tapi setelah melihat kakak ipar aku kehilangan rasa lelahku." ucap ellisa melihat rindu dengan senyum yang begitu tulus.
" Wah sejak kapan adik kakak ini, pintar bicara?"
" Sejak hari ini, melihat kakak ipar yang begitu cantik aku jadi sangat bersemangat."
Rindu yang mendengar percakapan adik kakak itu pun hanya tersenyum.
Ellisa begitu bersemangat mencari tau tentang kakak iparnya dengan memberikan berbagai pertanyaan yang ingin ia ketahui jawabannya.
Herdy dan rindu terus memberikan senyuman yang begitu sempurna. Ellisa yakin kalau kakaknya merupakan seorang lelaki yang begitu beruntung dapat menikahi rindu.
Begitu terlihat rasa cinta diantara keduanya.
" Baiklah... kita telah tiba." ucap herdy sambil membuka safebelt yang melingkar di tubuhnya.
Secara bersamaan mereka keluar turun dari mobil. Ellisa menggandeng rindu terus berjalan masuk ke rumah meninggalkan herdy yang menurunkan koper dari dalam bagasi
Herdy tersenyum melihat tingkah ellisa yang begitu suka melihat istrinya itu.
Di depan teras mama catryn telah menunggu ke datangan sang anak beserta menantu kesayangannya itu. Raut wajah yang begitu bahagia terlukis di wajahnya setelah melihat kedatangan orang yang ditunggu-tunggunya.
__ADS_1
" Mama begitu merindukanmu ellis.." memeluk dengan penuh kerinduan.
" Ellis juga merindukanmu ma"
" Hai menantu mama..." memeluk rindu. Begitu luar biasa yang mama rasakan, sungguh benar-benar bahagia.." ucap mama catryn sambil tertawa, menggandeng putri dan menantunya masuk ke dalam rumah.
Herdy yang baru saja memasuki rumah memasang wajah kesal kepada sang catryn. " Ma...apakah anakmu hanya ellis dan rindu saja. ?" dengan nada yang kesal.
" Tentu tidak... ada kamu anak sulung mama." ucap mama catryn sambil mendekati putranya itu.
"Jadi mengapa hanya mereka yang kamu pikirkan, aku masih diluar membawa koper sialan ini, tapi kalian hanya meninggalkanku." ucap herdy seperti anak kecil yang tengah ngambek.
Ketiga wanita yang ada di ruangan itu saling bersitatap dan tertawa geli melihat tingkah herdy yang cemburu terhadap adik dan istrinya.
" Sudah..sudah... kamu ini, sudah menjadi kepala rumah tangga tapi kok masih seperti anak kecil saja?!" ucap sang mama sambil mengelus rambut putranya itu.
Mereka terlihat begitu bahagia, berkumpul dan berbagi cerita satu dengan yang lainnya. Rindu pun kini mengetahui alasan mengapa selama ini ia tidak mengetahui soal adik suaminya itu. Rasa hangat yang membuat dirinya merasa nyaman dan bahagia berada di sekeliling orang-orang yang ia sayangi.
Setelah selesai makan, mereka melanjutkan obrolan yang tidak ada habisnya itu di ruang keluarga. Rindu yang melihat ketulusan di keluarga ini pun bersyukur dalam hati, karena untuk masuk kedalam keluarga ini adalah pilihan yang tepat baginya.
Setelah lama berbincang, ellisa baru tersadar jika ia membawa oleh-oleh kepada keluarganya itu, ellisa berlari ke kamarnya untuk menemukan koper yang telah ditaruh sang kakak disana.
Ellisa mengeluarkan satu persatu hadiah kepada mama catryn, kak herdy dan untuk kakak iparnya itu.
Seketika wajah rindu memerah dan merasa malu melihat apa yang diberikan sang adik ipar kepadanya. Ya ellisa memberikan sebuah lingerie merah terang kepada sang kakak ipar.
Rindu yang menatap ngeri pada lingerie yang ada di hadapannya itu, namun berbanding terbalik dengan suaminya yang menatap penuh ingin kepada sang istri yang tengah memegang baju layaknya sebuah saringan itu. Herdy membopong tubuh rindu layaknya sebuah karung, dan membawa tubuh istrinya itu menaiki tangga menuju kamar. Rindu yang mendapat perlakuan mendadak seperti itu pun semakin merah merona merasa malu atas perbuatan suami dan adik iparnya itu.
Mama catryn hanya menggelengkan kepalanya melihat kejadian yang ada di hadapannya. Sementara sang pelaku pemberi hadiah terus tersenyum puas tampa rasa bersalah.
__ADS_1