
Rindu menghampiri mama herdy yang tengah sibuk di dapur menyiapkan makan malam.
"Boleh saya bantu tan..?" sambil meletakkan cangkir dan gelas bekas minum mereka tadi.
"Aduh sayang...ga usah biar tante saja" sambil tersenyum.
"Ga papa tan...saya seneng kok"
"Ya udah terserah kamu aja" sambil mencuci sayuran yang telah di potong.
"Tante tiap hari nyiapin makan sendiri ya tan?"
"Iya sayang...tante memang suka berada di dapur jadi tante ga pernah mau buat cari ART, sebenarnya herdy ga setuju tapi tante tetap aja ga mau cari."
"Pasti masakan tante enak deh...dari baunya aja udah ketahuan."
"Hari ini kamu bisa kok merasakan masakan tante." menoleh ke arah rindu.
"Makasih tan.."
Rindu menyiapkan makan malam herdy di sebuah nampan yang akan dibawanya ke kamar herdy. Rindu tak ingin herdy turun ke lantai bawah untuk makan ia takut herdy belum begitu fit.
"Tan...saya antar ke atas dulu ya" sambil mengangkat nampan yang telah berisi makanan itu.
"Iya...makasih ya nak, udah nolongin herdy." mengelus pundak rindu lembut.
Rindu pun masuk ke dalam kamar herdy meletakkan nampan yang berisi makanan itu di atas nakas. Rindu mencoba untuk membangunkan herdy yang sedang tertidur.
"Kamu rin..., saya kira sudah pulang."
"Maaf dy...saya tak tenang kalau harus pergi tampa memastikan kondisi kamu baik-baik saja. Nih kamu makan dulu" memberikan piring yang berisi nasi dan lauk pauknya.
"Maaf ya rin udah ngerepotkan kamu"
"Ga kok...kamu juga sering kok antar jemput saya, malah saya lebih merepotkan lagi." menatap herdy yang mulai menyuapkan makanan le dalam mulutnya.
Rindu menemani herdy makan sampai makanan yang berada di piring habis tak tersisa. Herdy merasa beruntung kalau ia jatuh sakit karna rindu begitu memperhatikannya.
__ADS_1
"Saya turun dulu ya dy...mau naruh piring kamu ke bawah sekalian tante sedang nungguin saya buat makan."
"Ya... makan yang banyak ya" tersenyum bahagia.
Rindu sangat menikmati makanan yang di masak oleh mama herdy, menurut rindu rasanya sangat enak. Selain makan malam mereka berdua juga banyak mengobrol tentang herdy. Rindu tak menyangka atasannya yang selalu dingin itu ternyata anak yang manja kepada mamanya.
"Tan...rindu liat herdy ke atas ya, sekalian pamit buat pulang." ucap rindu beranjak dari duduknya.
"Iya nak... silahkan." tersenyum bahagia.
Rindu yang masuk ke dalam kamar herdy pun kaget tak melihat atasannya itu di atas tempat tidur, mata rindu menatap ke arah kamar mandi yang pintunya baru saja dibuka oleh herdy dari dalam.
"Achh...." sambil menutup mata.
"Maaf rin...bentar ya.." berjalan ke arah lemari dan memakai baju kaos.
"Udah rin...kamu bisa buka mata kamu." menghampiri rindu.
Herdy sudah tak sabar lagi bisa menikmati wajah cantik rindu. Dengan kondisi yang tidak fit pun ia memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada rindu.
"Rin..saya mau bicara sebentar boleh ?" sambil menatap rindu penuh harap.
Herdy memegang kedua tangan rindu, dan mengungkapkan perasaannya yang ia pendam terhadap rindu. Tak yakin memang ia tapi ia tak sabar ingin mengungkapkannya, ia ingin bisa lebih dekat lagi dengan rindu.
"Maaf rin...saya tau saya tak pantas buat kamu, tapi saya memberanikan diri saya rin...karna saya begitu menginginkan kamu, saya berterimakasih atas keadaan saya yang seperti ini"
Rindu masih terdiam tak percaya akan yang ia dengar. Namun ia kembali menyadarkan dirinya dengan mencubit tangannya. Rasa sakit yang ia rasakan namun ia masih terdiam tak percaya.
"Rin..." panggil herdy lembut.
"E..eh..maaf dy...saya...saya gak salah dengar kan??"
"Tidak...kamu dengar dengan baik, saya cinta sama kamu rin.." mengecup tangan rindu.
Jantung rindu seakan berhenti memompakan darah, kakinya terasa lemas untuk berdiri.
"Gimana rin...saya serius dengan ucapan saya?!."berharap rindu menjawabnya.
__ADS_1
"Saya...saya...saya juga sayang sama kamu" menunduk malu.
Mama herdy yang berada di luar kamar herdy mendengar semua pembicaraan mereka, ia bersorak sangat bahagia sampai ia lupa kalau sedang menguping di depan pintu kamar anaknya itu.
"Maaf sayang....mama ga sengaja dengar." berjalan cepat menuruni anak tangga.
"Mamaaa....." teriak herdy membuat rindu tersenyum geli melihat tingkah mama dan anak ini.
Herdy kembali memeluk rindu, tak perlu lagi baginya untuk meminum obat dan vitamin yang diberikan dokter padanya, rindu kini sudah menjadi obat yang begitu mujarab baginya, seketika tubuhnya penuh gairah dan semangat.
Rindu dan herdy tertawa bersama, raut wajah mereka terlihat sangat bahagia. Herdy menemani rindu turun ke bawah, mereka mendapati mama herdy yang tengah senyum senyum sambil menyaksikan acara di tv.
"Ma...." sambil duduk di sebelah mamanya.
"Echh...kalian sini, mama minta maaf ga sengaja nguping kok. Tapi mama bahagia banget sayang." berdiri dan memeluk rindu yang berdiri di samping herdy.
"Tante...ga marah kan sama rindu?"
"Tante seneng banget sayang, akhirnya herdy bisa dapetin kamu, mulai hari ini tante ga akan denger curhatan herdy yang ingin banget dapetin kamu." melirik ke arah herdy.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Herdy pun ijin pamit ke mamanya untuk menghantarkan rindu pulang. Tak ada lagi rasa lemas yang dirasakan herdy, ia terlihat begitu bersemangat.
Sepanjang jalan herdy terus mengucapkan teimakasih pada rindu, kecupan-kecupan lembut pun ia layangkan di tanggan rindu yang kini menjadi kekasihnya itu.
Tiga puluh menit telah berlalu dan mereka tiba di rumah kediaman rindu. Ayah rindu yang tengah duduk di teras depan rumahnya pun terkaget melihat rindu pulang di hantarkan oleh orang kepercayaannya itu.
"Loh...bukannya tadi kamu yang sakit? sekarang kok udah keluar lagi?" bingung
"Iya pak...maaf...rindu pulangnya jadi telat." sambil menyalam atasanny itu yang tak lain ayah kekasihnya.
"Tidak apa her...tapi saya masih bingung ini, kenapa kamu antar rindu, seharusnya kamu kan istirahat?!" memperhatikan gerak gerik rindu yang salah tingkah.
"Yah....ngobrolnya di dalam aja, kasian herdy belum sembuh benar." mendorong ayahnya masuk ke dalam.
Di dalam mereka duduk di ruang tamu dan herdy pun menjelaskan pada ayah rindu kalau ia kini resmi berpacaran dengan anak arasannya itu. Herdy meminta ijin kepada ayah dan ibu rindu agar merestui hubungan mereka.
Rasa bahagia rindu dan herdy semakin bertambah ketika ayah dan ibunya rindu memberikan restu pada hubungan mereka.
__ADS_1
Herdy ijin pamit pulang kepada orang tua rindu. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya ia mengucap syukur pada Illahi.