Rindu ... Yang Memabukkan

Rindu ... Yang Memabukkan
Merasakan


__ADS_3

Rindu menghampiri ayahnya yang sedang berada di ruang keluarga bersama ibunya. " Yah...rindu besok masuk kantor aja dech." sambil mengambil cemilan di atas meja.


"Loh...kamu kan masih punya waktu libur 4 hari lagi." melihat rindu yang menikmati cemilannya.


"Bosen nih yah"


"Kalo bosen besok kamu jalan aja bareng ibu."


"Liat besok deh." menyandarkan kepala di pundak ayahnya.


"Sejak kapan anak ayah jadi bosen di rumah?"


Rindu hanya menaikkan bahunya menandakan ia juga tidak tahu sejak kapan ia mulai bosan jika berada di rumah.


"Sejak mengenal herdy x yah." celah ibu rindu sambil meraih cemilan yang ada di tangan rindu.


"Ibuk...." wajah memerah entah karena mendengar nama herdy atau karna sang ibu mengambil cemilan yang tinggal satu-satunya.


"Ayah...pikir kenapa ga langsung tunangan aja ya kamu sama si herdy?"


"Masih -


"Masih nungguin herdy disamber wanita lain x yah" sambung ibu rindu.


"Kamu jangan terlalu memilih ya nak, herdy itu sudah sangat cocok dijadikan imam. Dia itu lelaki kriteria ayah untuk dijadikan mantu."


Rindu hanya terdiam mendengar ucapan ayahnya itu.


"Sudah jangan tunda-tunda lagi, ayah dan ibu juga ingin melihat kamu membina rumah tangga sama seperti aichel, lagian apa sih yang kamu tunggu?"


"Menunggu herdy untuk berpaling ke wanita lain?" ucap ibu sambil memakan cemilan.


"Ibuuk...kok gitu sih ngomongnya, jangan lupa ya buu...ucapan itu doa."


"Mangkanya.... kamu tuu harusnya bisa belajar menerima nak herdy dengan tulus mencintainya... Kalau yang kamu khawatirkan itu hanya aichel saja bagaimana kamu bisa mengenal pria lain dengan baik." ucap ibu sambil berpindah duduk di sebelah ayah rindu.

__ADS_1


"Ayah setuju dengan ibu." sela ayah membela ibu.


"Rindu udah belajar kok yah, buu... tapi ya gimana lagi, ayah dan ibu kan tau gimana aichel yang menjadi teman satu-satunya rindu tumbuh sampai saat ini." wajah yang berubah menjadi sedih.


"Ayah dan ibuu mengerti kok nak, hanya saja kamu harus bisa belajar buat sepenuhnya menerima nak herdy. Ayah pasti tenang jika kamu bisa menikah dengan dia, mengurus perusahaan yang banyak bagian bagiannya aja dia mampu apalagi yang hanya mengurus satu anak ayah yang tidak banyak kemauan ini." ayah tersenyum penuh harap pada rindu.


Beberapa hari telah berlalu semenjak kepulangan rindu dan herdy dari puncak. Hari ini rindu kembali masuk kantor untuk memulai kembali pekerjaannya walaupun herdy sudah bekerja mulai dari kepulangan liburan itu.


"Rin...coba kamu buat salinan kerja sama kita dengan PT Angkasa ya."


"Siap boss..." rindu mulai mengerjakan perintah pak bossnya yang tak lain adalah kekasihnya.


Setelah beberapa menit Rindu kini selesai menyalin ulang dokumen kerja sama tersebut. Rindu yang kini mulai mengingat perkataan ayah dan ibunya mencoba untuk merasakan rasa yang sebenarnya ada di salam hatinya.


"Sebenarnya nyaman banget sih dekat herdy, terkadang jantung aku juga berdetak kencang, rasa yang tak pernah kurasakan saat bersama aichel." Gumam rindu.


"Melamun aja." Ucap nia membuyarkan pikirin rindu.


"Kamu tuh ya...suka banget ngagetin."


"Apa ini ?" Rindu meraih map yang ada di atas meja kerjanya.


"Itu laporan yang di minta sama pak Herdy. Tolong kasiin sama beliau, saya masih harus segera ikut meeting sama bagian periklanan." berlalu dari neja kerja Rindu.


Rindu mengetuk pintu ruangan Herdy. Setelah mendengar ijin masuk Rindu memasuki ruangan Herdy dengan map yang sebelumnya di titipkan oleh Nia.


"Duduk. ucap Herdy.


"Tadi Nia titip ini." Meletakkan map bewarna merahdi atas meja.


"Thanks. Rin... entar pulang kantor kita jalan ya ?" membuka map.


"Ok. Tapi kita mau kemana?"


"Kemana aja." Masih mengamati isi map.

__ADS_1


"Kerumah tante."


Herdy yang begitu syok mendengar ucapan Rindu, sontak langsung meletakkan map yang sedang ia pegang. "Kamu serius?" wajah syok ditambah bahagia.


"Ga boleh ya? Rindu tante, juga sama masakan tante." ucap Rindu heran dengan raut wajah Herdy.


"Kamu yakin?"


"Ga boleh ya?"


"Boleh banget donk sayang, pasti mama senang deh. Bentar ya aku kabari mama dulu." Mengeluarkan hp dari saku celananya.


"Jangan. Maksud aku g usah di kabari, nanti aja. Emm... entar tante jadi repot." Wajah memelas.


"Ya udah ikut kamu aja. Tapi makasih banget ya sayang." Memeluk rindu.


Tak terasa sudah jam pulang kantor, Rindu membereskan meja kerjanya bersiap untuk pulang pastinya rindu mampir dulu ke rumah camernya yang baik hati.


"Uda siap?" Herdy memasang wajah yang sangat bahagia.


"Udah... Tapi kita pamit sama Ayah dulu ya."


"Ok."


Rindu dan Herdy masuk ke dalam ruangan CEO yang tak lain adalah ruangan Ayah Rindu.


"Yah..Rindu hari ini pulang bareng Herdy, sekalian mau pamit ni ke rumah Herdy ketemu tante." Rindu mencium pipi ayahnya. Sedangkan Herdy mendengarkan dengan senang.


"Itu bagus." Tersenyum bahagia.


"Baik omm, kami pamit." Menundukkan wajah dan sebagian tubuhnya.


"Hati-hati dan bersenang-senanglah." Ucap Ayah Rindu sedikit berteriak karna keduanya telah keluar dari ruangannya.


"Semoga akan menjadi lebih baik." ucap Ayah rindu pelan.

__ADS_1


__ADS_2