
Setibanya di kantor herdy langsung menuju ruangannya, membuka laptop yang berada di atas meja kerjanya. Kali ini herdy ingin benar benar ingin menghancurkan orang orang yang telah bermain curang di belakangnya. Mengingat ucapan leon kemarin malam membuat herdy betul betul tidak ingin memaafkan calon karyawannya tersebut.
*kejadian sebelumnya
Herdy yang telah selesai membersihkan tubuhnya segera merangkak naik ke atas kasur mereka dengan pelan dan perlahan. Baru saja herdy ingin memejamkan matanya.
Kring...kring....
Suara ponsel herdy menggema di ruangan kamar herdy dan rindu.
Ingin herdy memaki si penelpon yang tidak tau waktu itu. Herdy meraih ponselnya setelah melihat jam sudah menunjukkan pukul 12.45 tengah malam. Herdy melihat nama leon tertera di layar ponselnya, bergegas menjauh dari rindu karena tak ingin mengganggu istirahat rindu. Lalu segera menjawab panggilan yang sangat penting itu.
"Orangnya datang padaku." ucap leon langsung saja ketika menyadari herdy telah menjawab panggilannya itu.
"Berani sekali mereka menginjakkan kaki di daerah kekuasan kamu." herdy mengepalkan tangan.
"Rindu kini jadi sasaran mereka,"
"Setelah gagal dari ayah dan ibu?!" wajah herdy berubah menjadi rupa yang kejam dan dingin.
"Aku sudah mengaturkan beberapa orangku untuk menjaga keamanan di sekeliling orang orang yang kamu sayangi. Hanya saja jangan sampai mereka mengetahuinya agar semua berjalan dengan alami saja."
"Oke. Saya sangat berterimaksih. Jadi selanjutnya?"
"Tunggu saja mereka bertindak, setelah kita lihat apa yang mereka lakukan. jangan terburu."
"Saya kuatir tentang keselamatan mereka, terutama rindu, dia tengah hamil."
"Terlalu terlihat kelemahanmu her... jalani saja seperti air yang mengalir."
"Itu tidak segampang yang di ucapkan leon."
"Ck... kau ini terlalu lemah, mana herdy yang dulu."
Herdy tak menjawab sepatah katapun, hening.
"Aku tidak ingin gara gara kelemahanmu terlihat menjadi resiko yang besar nantinya untuk keluarga kamu."
Hening.
"Mereka sudah tiba di sini" kembali leon mengingatkan.
"Akan ku beritahu farel, kebetulan dia menginap di rumah." menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
"Aku tunggu besok di galaxy"
"Sepulang kantor, saya akan kesana."
Setelah panggilan dari leon berakhir, herdy memutuskan untuk menemui farel yang tengah beristirahat di kamar tamu.
Tok... tok...tok...
Herdy mengetuk pintu kamar yang di tempati farel.
"Bos" farel mengucek mata menghilangkan rasa terkejutnya.
Herdy masuk ke dalam kamar itu tampa permisi atau di persilahkan. Lalu ia menduduki salah satu kursi yang ada di dalam kamar itu, sedangkan farel mendudukkan dirinya di pinggiran tempat tidur.
"Mereka bergerak lebih cepat. Mereka sudah tiba di tanah air."
"Berani sekali mereka."
__ADS_1
"Kali ini istriku."
Farel terkejut dan langsung saja bisa merasakan bagaimana kecemasan bos dinginnya itu.
"Setelah tuan dan nyonya hutama gagal. Ck... mereka kurang mengenalmu bos."
Hening.
Sebenarnya farel kali ini cukup kuatir, terlalu jelas kelemahan bosnya itu. Namun farel tetap tenang agar herdy juga yakin semua akan baik baik saja.
"Kau telah dengar sedikit banyak ceritaku farel. Aku begitu lemah jika menyangkut istriku dan keluargaku." ucap herdy sambil memijat bagian dahi kepalanya.
"Bos tenang saja, saya yakin bos leon akan memberikan yang terbaik."
"Ck... Tapi aku tidak mungkin hanya berpangku tangan farel."
Herdy dan farel yang begitu peka secara perlahan mengintip keluar dari celah tirai jendela kamar itu. Seseorang terlihat melintas dan sebuah mobil van terparkir di halaman rumah aichel yang hanya tengah kosong itu, karena bi oja juga ijin pulang kampung beberapa hari yang lalu.
"Bos...." farel kuatir.
"Ck... tadi kau baru saja menenangkanku. Itu anggotanya bos leon."
Farel mengusap lehernya, menenangkan dirinya karena sudah berpikir jauh
"Bos leon meminta kita rahasiakan ini dari mereka, terutama rindu." ucap herdy hati hati.
"Baik bos."
"Kita akan tunggu pergerakan mereka, jangan sampai lengah.
"Siap bos, setelah ada pergerakan kita akan lumpuhkan mereka."
Herdy meninggalkan farel dan bergegas kembali ke kamar mereka dengan rindu.
*Kilas balik selesai
Farel memerintahkan orang teknisi untuk memasang cctv di rumah hutama.
"Benar bos terlalu terlihat kelemahannya, jika mengingat cerita bos leon, ternyata bos itu sudah dingin dari mulai remaja akibat keluarga papanya. Pantas saja auranya begitu tajam dan dingin." untuk kesekian kalinya farel berdialog dalam hati.
"Kamu yakin rindu tidak mengetahui alat pemantau itu?" herdy tiba tiba muncul di depan meja kerja farel
"Yakin bos, karena non rindu masih di dalam kamar, belum keluar semenjak pagi tadi."
"Bi inah?" memasukkan tangan ke dalam saku celana.
"Saya sudah menghubungi bi inah. Bi inah sedang keluar untuk berbelanja."
Herdy meninggalkan tempat farel dan kembali ke ruangannya.
Farel sangat berhati hati dalam bertindak, segala sesuatu nya ia kerjakan dengan sangat rapi. Tak salah herdy memberikan apresiasi atas kinerja farel.
Herdy terlihat begitu dingin, sesekali herdy terlihat tidak dapat mengontrol emosinya, karena beberapa karyawan yang datang menemui nya tak jarang mendapat amarah dari si bos dingin itu, sehingga membuat karyawan lain enggan untuk menemui bos dingin itu. Dan menunda segala urusan yang berhubungan dengan bos jika masih bisa untuk ditunda.
"Tolong bantu kami pak farel." meletakkan map di atas meja kerja farel.
Farel hanya menganggukkan kepalanya tanda menyetujuinya, sedangkan jemari farel terus sibuk di atas tuts huruf huruf laptopnya.
Waktu sudah menunjukkan jam istirahat makan siang, farel bergegas masuk ke ruangan herdy dengan membawa map yang di titip oleh karyawan bagian keuangan.
"Bos..." meletakkan map di atas meja kerja herdy.
__ADS_1
Herdy tak menjawab sepatah katapun, matanya fokus pada layar laptopnya sedangkan jari jarinya sedang menari lincah di atas tuts keyboard laptop itu.
"Sudah waktunya makan siang bos, mau saya pesankan atau bos turun ke bawah?"
"Pesankan saja." ucap herdy dingin.
Farel mengusap tengkuknya menghilangkan rasa dingin akibat aura bos nya itu begitu tajam. Pantas saja beberapa orang yang keluar dari ruangan itu memasang wajah bersalah. Sudah mendarah daging bagi seluruh karyawan, jika bosnya itu sedang dalam mood yang buruk maka semua kesalahan akan berpihak pada karyawan. Tapi jangan salah ada juga waktunya bos nya itu begitu perhatian pada semua karyawan, perusahaan hutama memberikan fasilitas yang wah untuk semua karyawan dengan gaji yang cukup besar di banding karyawan perusahaan lain.
Farel masuk ke ruangan herdy dengan membawa bungkusan makan siang untuk herdy, OB baru saja menghantarkannya ke meja kerja farel, karena farel lah yang memesan makanan tersebut.
Farel meletakkan kotak makan itu di atas meja ruang tamu yang berada dalam ruangan herdy. Se cup jus timun campur nanas di sandingkan dengan menu makan siang bos dingin itu.
Herdy menyipitkan matanya melihat menu yang sudah terletak di atas meja.
"Untuk kesehatanmu bos."
"Kau pikir aku sedang sakit tekanan darah." menatap tajam farel.
"Bukan seperti itu bos, menu ini juga bisa menetralisir mood mu, karena non rindu sudah di perjalanan menuju kemari bersama adik kecilmu."
Menatap farel meminta penjelasan.
"Bos leon yang meminta saya menghubungi nyonya muda agar ke kantor." ucap farel takut. "Bos leon ingin melihat tindakan apa yang akan mereka lakukan pada nyonya, karena menurut orang orang bos leon yang berjaga mereka sudah bertindak."
"Sial..." melempar map ke sembarang arah.
"Mereka menjadikan rindu sebagai pemancing, apa yang sedang leon pikirkan." ucap herdy marah.
Herdy meraih ponselnya yang sedang berdering, melihat nama leon pada layar ponselnya itu membuat herdy bergegas untuk menjawab.
"Farel tidak salah, jangan kau lampiaskan kemarahan mu padanya." ucap leon setelah menyadari herdy menjawab panggilan itu.
"Ck..kau tau leo ..bagaimana aku mencemaskan rindu dan calon anak kami, kau malah dengan enaknya menjadikan mereka sebagai target arrai."
"Kau lupa, aku telah memberikan perlindungan kelas satu pada keluargamu."
"Tapi bisa sa....."
"Itu jika aku menjadi kau, terlalu lemah" ucap leon memotong pembicaraan herdy. "Sudahlah kau tenang saja, rindu sudah berada di perusahaan sekarang." mematikan panggilan.
"Sial...semaunya saja mematikan." umpat herdy kesal.
"Siapa yang sial sayang?" tanya rindu yang memasuki ruangan mantan atasannya itu.
"Tidak..." kaget karena rindu sudah berada di ruangannya.
"Tadi aku dengar, bahkan ellis juga dengar, iya kan ellis?" memastikan rindu tak salah mendengar.
"Oh hanya masalah kecil, farel tidak becus mengurusnya." menumbalkan farel.
Farel membulatkan matanya, merasa dijadikan tersangka oleh bos gilanya itu.
"Farel.... saya rasa kamu sudah perlu mencari seketaris baru untuk bos dinginmu ini, agar dia tidak selalu menyalahkanmu." ucap rindu santai menduduki sofa.
"Nyonya sungguh mengerti bos."
Herdy melototkan matanya menatap tajam farel.
"Sudah.... sudah... ini waktunya makan, rindu membuka kotak makan siang yang ada di atas meja. Dengan menu makanan untuk orang yang sedang mengalami tekanan darah.
"Sayang.... kau sedang punya tekanan darah?" tanya rindu pelan, melihat kearah herdy mencari tau.
__ADS_1