Rindu ... Yang Memabukkan

Rindu ... Yang Memabukkan
Umpatan farel


__ADS_3

Suara gemuruh beserta kilatan cahaya menghiasai langit malam. Tetesan air mulai turun membasahi bumi.


Suasana dingin menambah nyenyak nya tidur bagi sekumpulan orang. Namun itu tidak berlaku pada rindu. Dengan gelisah rindu terus membolak balikkan tubuhnya yang berbaring diatas ranjang king size itu, menanti kepulangan herdy. Setelah kehamilan rindu memasuki trimester dua, herdy memutuskan untuk kembali aktif pergi ke perusahaan untuk bekerja.


Hari ini herdy harus lembur sampai larut malam untuk menyelesaikan tugas yang sudah cukup lama ia tunda. Kali ini herdy harus segera menindaklanjuti kerjasama dengan perusahaan Clay tersebut. Suasana kantor sudah sangat sepi, hanya ada petugas keamanan saja yang masih berjaga, pencahayaan hanya dibeberapa tempat yang di perlukan saja. Tapi pencahayaan di ruang herdy terlihat jelas dari dinding kaca itu tanda masih ada aktifitas di dalam sana.


Suasana hening menemani herdy dan farel yang sedang fokus berhadapan dengan layar laptop di meja kerja herdy.


"Ini sudah di ubah bos."


"Kirimkan ke perusahaan Clay. Aku ingin dia menyadari kesalahannya."


Farel menjalankan tugasnya sesuai dengan perintah bos dinginnya itu. Semua sudah selesai. Herdy melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya itu sudah menunjukkan pukul 12.20 tengah malam. Dengan segera herdy meminta farel untuk menghantarkannya segera pulang, mengingat rindu pasti tengah menunggu kepulangannya.


Herdy memasuki rumah yang sudah terlihat gelap dan sunyi itu. Dengan langkah sunyi herdy menuju ruang kamarnya, herdy tersenyum melihat istrinya yang telah tertidur di atas sofa.


Ya rindu tertidur di sofa setelah memutuskan menunggu herdy sambil menonton tv di kamarnya hingga akhirnya ia tertidur disana.


Herdy membaringkan tubuh rindu ke atas ranjang dengan begitu hati hati. Setelah mengecup kening rindu herdy memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Sepuluh menit cukup bagi herdy. Kini herdy ikut masuk ke dalam selimut yang membalut tubuh istrinya itu, membawa rindu ke dalam dekapannya dan menghirup dalam aroma tubuh rindu yang telah membuatnya candu. Aroma rindu yang memabukkan membawa ketenangan bagi herdy masuk ke dunia mimpi.


Aichel masuk ke ruang makan rumah rindu melalui pintu samping.

__ADS_1


"Bik... herdy belum berangkat ya?"


"Belum den...Den herdy belum keluar dari kamar, sepertinya belum bangun."


Herdy menatap tanya pada bik inah sambil mengambil sepotong tempe goreng di atas meja.


"Den herdy pulang sudah dini hari tadi den, kemungkinan masih tidur." bik inah menata makanan di atas meja makan.


"Ya udah deh bik, nanti sore saja kalau begitu." mengambil sepotong tempe goreng lagi dan pergi meninggalkan bik inah yang sedang meletakkan piring piring ke atas meja.


Di dalam kamar sepasang suami istri tengah melakukan olah raga pagi di atas ranjang. Menikmati penyatuan yang membuat sepasang manusia itu merasakan terbang hingga ingin terus lagi dan lagi.


Lenguhan nikmat keluar dari mulut sepasang suami istri itu tanda telah mencapai pelepasan ****** *****.


Rindu meraba lembut dada bidang herdy yang di tumbuhi bulu bulu halus.


"Masih mau... hemm...?"


Rindu menjawab dengan anggukan lalu membunyikan wajah merah nya ke dada bidang itu.


"Sudah seperti ini saja masih malu. Bagian mana sih yang belum ku kecup dengan bibir ini?!"

__ADS_1


Blus...pipi rindu semakin merona merah.


Herdy lalu kembali merubah posisinya di atas rindu sambil ******* bibir merah rindu. Jemari tangannya kembali aktif menyentuh dua gundukan yang jadi kesukaannya itu.


Sementara di meja makan farel tengah menunggu dengan rasa lapar di tambah rasa kesal ingin mendobrak pintu kamar bosnya itu untuk mengingatkan satu jam lagi mereka akan menghadiri meeting di perusahaan R.


Farel sangat tau apa yang bisa membuat bos dinginnya itu masih tertahan di atas sana, apalagi kalau bukan pergumulan panas dengan sang istri.


"Mungkin den herdy belum bangun nak farel." ucap bik inah sambil menyajikan secangkir teh hangat pada farel.


Farel menjawab dengan senyuman, menggaruk kepala yang tidak gatal itu. " Bagaimana mungkin belum bangun, lalu siapa yang mengirim pesan padaku di jam subuh,meminta cepat datang" ucapan yang hanya bersuara di dalam hati farel.


Farel memijat keningnya yang merasakan pusing terhadap tingkah sang bos.


Herdy datang di tiga puluh menit menjelang pertemuan dengan wajah yang begitu bersemangat merona bahagia terlihat jelas guratan puas di wajahnya tampa rasa bersalah membiarkan sang asisten menunggu.


"Ayo...berangkat" sambil berlalu melewati farel.


"Yang benar saja bos... aku menunggumu satu jam dengan perut kelaparan."


"Siapa suruh tidak makan lebih awal."

__ADS_1


"Bos... kau boleh asyik asyik dengan nyonya tapi jangan menyiksaku begini." sebelum menyusul langkah herdy yang terus menjauh farel hanya bisa menelan ludah kasar melihat menu kesukaannya tersaji di atas meja sambil mengambil sepotong roti lalu menyusul bos dinginnya itu dengan berbagai umpatan di dalam hati.


__ADS_2