Rindu ... Yang Memabukkan

Rindu ... Yang Memabukkan
Teguran


__ADS_3

Rindu mengerjakan beberapa tugas yang sudah menumpuk di meja kerjanya setelah beberapa hari cuti.


Sesekali ia terlihat keluar masuk ke dalam ruangan atasan yang tak lain adalah suaminya itu untuk memberikan beberapa berkas yang perlu diperiksa dan di tandatangani oleh herdy.


Tampa terasa jam sudah menunjukkan waktu istirahat makan siang namun rindu masih enggan bergeser dari posisinya saat ini. Jemari indah rindu begitu lincah bermain diatas keyboard laptop.


Merasa ada yang sedang memperhatikannya, rindu menoleh kearah samping kirinya tampa menghentikan jari-jarinya yang sedang menekan tuts-tuts keyboard tersebut.


Mendapati sang ayah yang berada disampingnya dengan segera rindu menghentikan pekerjaanya.


Meraih tangan sang ayah.


"Kenapa masih bekerja, bukannya jam istirahat?" melihat sang menantu melalui dinding kaca transparan, juga masih sibuk dengan beberapa berkas yang menumpuk di meja kerjanya.


"Tanggung yah.." sambil melihat beberapa tumpukan berkas yang harus ia pindahkan ke dalam file.


" Ini semua dapat menunggu, tapi untuk kesehatan tidak bisa" sambil membuka pintu kerja sang menantu.


" Apa kalian berdua sangat ingin melewatkan jam istirahat" suara tegas ayah rindu mengagetkan sang pemilik ruangan tersebut.

__ADS_1


Membuat herdy spontan melihat kearah pintu dan meninggalkan pekerjaannya begitu saja menghampiri ayah mertua dan sang istri. "Ayah...maaf tapi tadi aku merasakan akan selesai ternyata...." herdy tak meneruskan ucapannya namun dengan reflek melangkahkan kaki mengikuti sang mertua yang lebih dulu berjalan didepan sambil menggandeng tangan istrinya.


Herdy menggaruk kepala yang tak gatal itu melihat tingkah sang mertua yang begitu posesif terhadap rindu yang telah menjadi istrinya. "Kenapa aku diabaikan...kan aku suami dari anaknya kenapa harus si bos yang menggandeng tangan istriku." herdy berbicara sendiri sambil melihat telapak tangannya yang kosong namun masih berjalan mengikuti dari belakang.


Setelah keluar dari lift ketiga pasang kaki itu berjalan kearah kantin kantor tersebut. Banyak mata melihat namun kembali langsung menurunkan pandangannya karena tidak ada yang berani membicarakan petinggi perusahaan tersebut.


Suasana kantin masih cukup ramai tapi terlihat beberapa meja telah kosong dari penghuninya mungkin karena jam istirahat sudah hampir berakhir.


Satu persatu karyawan keluar dari kantin sambil membungkukkan badan memberi hormat pada sang pemilik perusahaan.


Tampa ada yang membuka suara ketiga manusia itu menikmati makanan yang tersaji di piring masing- masing dengan menu makanan yang berbeda.


" Kalau begini kalian akan sakit..." menatap sang menantu.


" Kami minta maaf ayah...rindu janji tidak akan ada lagi di lain hari." rindu begitu paham terhadap ayahnya jika kecewa akan sulit untuk mengembalikan kepercayaan seperti semula.


" Ini semua tidak ada harganya di bandingkan dengan kesehatan. Untuk apa semua ini jika kita tidak dapat menikmatinya." sambil menatap anak dan menantunya secara bergantian.


Rayhan Hutama kini tengah berbincang dengan seseorang yang duduk di ruangan kantornya.

__ADS_1


Sedang rindu dan herdy kembali meneruskan pekerjaan yang sempat tertunda sebelumnya.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore berarti saat ini kantor sudah mulai sunyi karena sudah jam pulang kerja.


Rindu dengan sigap memberhentikan kegiatannya saat menyadari sang ayah berjalan mendekatinya.


" Ikut ayah..." sambil terus berjalan masuk ke ruangan herdy yang pintunya tak tertutup itu.


Rindu segera menyusul sang ayah dan ikut mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruangan tersebut.


Herdy mengambil pena yang terjatuh akibat rasa terkejut atas kehadiran mertua disusul sang istri.


Herdy ikut bergabung duduk bersama sang istri setelah meraih pena yang terjatuh di lantai.


" Besok kalian berangkat ke negara J."


Mendengar ucapan yang keluar dari mulut sang mertua herdy kembali menjatuhkan pena itu untuk kedua kalinya. Pak rayhan berbicara begitu serius kepada menantu dan putrinya itu. Sebenarnya pak rayhan ingin turun tangan sendiri namun setelah mendapat penjelasan dari mata-mata yang ia kirim akhirnya ia mengurungkan niatnya sehingga memutus rindu dan herdy lah yang pergi.


Pak rayhan juga percaya herdy dapat dengan mudah menyelesaikan masalah ini, selain herdy lebih muda dan gesit herdy juga memiliki sikap yang dingin dan tak akan mengalah pada lawan. Itu semua telah terbukti setelah beberapa kali herdy mampu melumpuhkan perusahaan lawannya.

__ADS_1


Matahari telah berganti dengan bulan, ketiganya baru keluar dari perusahaan setelah mencari ancang-ancang tindakan apa yang akan mereka lakukan untuk menjatuhkan musuh dalam selimut tersebut.


Herdy dan rindu menaiki mobil yang sama dan meluncur memasuki jalanan yang masih padat akan kendaraan itu, sedangkan pak rayhan pulang dengan mobilnya yang dikendarai oleh supir.


__ADS_2