
Rindu terbangun dari tidurnya karena ponselnya berdering berulang kali. Melihat nama penelpon seketika wajahnya bersemangat, rasa kantuk menguap entah kemana. Vidio call itu tersambung setelah rindu menggeser ikon hijau pada layar ponselnya.
" Sudah tidur?"
" Emm. ya."
"Jangan menggodaku sayang..." mengusap wajahnya. Herdy sangat tergoda melihat wajah polos rindu tampa riasan, tubuh yang terbalut kaos oblong kesukaan rindu, namun terlihat lebih cantik di mata herdy. Lebih terlihat seksi dan hot.
" Apaan sih? goda gimana?" rindu memasang wajah malas memutar bola matanya. Namun rindu tak menyadari lawannya bicara semakin tergoda dengan tingkahnya yang menggemaskan itu.
" Aku hanya mengabarkan, kalau aku baru saja tiba. Tidurlah lagi, aku juga ingin membersihkan tubuhku ini lalu beristirahat."
" Iya. selamat istirahat."
"I love you."
" You to."
Panggilan itu berakhir dengan meninggalkan senyuman hingga beberapa saat pada kedua insan yang tengah jatuh cinta itu.
__ADS_1
Rindu kembali tertidur setelah berulang kali berguling-guling diatas kasurnya. Tidur dengan senyum yang indah.
Dilain tempat, seorang pria tampan juga tersenyum mengingat betapa cantiknya kekasih hatinya. Hanya membayangkan senyum rindu saja gejolak kelakiannya menunjukkan diri, entah mengapa hanya mengingat senyumnya saja sudah membuat ia begitu bersemangat untuk sesuatu yang lebih namun belum waktunya.
Hari ini rindu harus mengerjakan beberapa laporan akhir bulan untuk di serahkan pada ayahnya. Ya karena herdy masih diluar kota maka rindu lah yang menggantikannya untuk berhadapan dengan sang CEO.
Rindu masuk kedalam ruangan ayahnya setelah mendapat ijin dari dalam.
Walaupun rindu anak dari sang CEO namun jika di kantor maka ia akan bekerja profesional.
Herdy kini berada di kantor pemasuk bahan kontruksi. Herdy memasang tatapan yang tak bisa ditebak, namun seorang pria yang berperawakan lebih kecil dari herdy telah bergetar melihat takut.
Herdy memang terkenal dingin dan kejam di dunia bisnis. Banyak bos bos besar melirik cara kerjanya dan tidak sedikit meminta nya untuk bergabung dengan perusahaan mereka, namun herdy bukan orang yang sembarangan dan tidak tau maksud dari orang yang ingin merekrutnya. Herdy juga masih sadar diri, ia tau berterimakasih. ,
Secangkir coklat hangat diletakkan di meja kerja rindu, karna kesibukannya ia mengucapkan terimakasih tampa melihat orang yang meletakkan minuman itu. Tapi setelah beberapa detik ia tersadar belum ada memesan minuman pada OB. Rindu kembali melihat secangkir coklat hangat itu lalu beranjak melihat ke arah siluet orang yang berdiri tegak dan tengah memasukkan tangan ke kantung celana.
Wajah kaget dan sepersekian detik berubah menjadi berbinar karena melihat wajah yang ia rindukan.
Herdy tersenyum menatap tingkah gemas kekasihnya itu.
__ADS_1
"Surprise"
"Sungguh menjengkelkan. Kenapa tak mengabari?" sambil melihat herdy dengan tatapan menyelidik.
"Namanya juga surprise. " duduk di bangku depan meja rindu.
"Diminum." menggeser cangkir coklat hangat ke depan rindu.
Rindu meneguk coklat hangat kesukaannya itu dengan rasa yang sangat istimewa.
"Masih banyak lagi yang belum selesai, hemm..?"
"Tidak ini yang terakhir." mengangkat selembar kertas dan menggoyangkannya.
"Baiklah. Aku akan tetap menunggumu disini." sambil membuka ponselnya.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya pekerjaan rindu selesai. Rindu membereskan meja kerjanya lalu menyerahkan berkas yang baru selesai itu kepada bosnya yang tak lain adalah kekasihnya.
"Hai...bisakah itu diletakkan di meja ini saja. Ini sudah waktunya pulang." Menaikkan satu siku tangan kemeja untuk menopang wajahnya.
__ADS_1
"Aich...tau begitu aku tak akan menghabiskan waktuku untuk menyelesaikannya." Memutar bola matanya kesal.