Rindu ... Yang Memabukkan

Rindu ... Yang Memabukkan
Sudah Belum ?


__ADS_3

Pagi yang begitu cerah, seluruh anggota keluarga telah berkumpul di ruang makan begitu juga dengan mama herdy yang memutuskan untuk menginap disana.


"Cieh....pengantin baru udah nongol aja." aichel yang duduk di sebelah ocha. " Ichh... belum mandi juga udah ikut sarapan, mandi dulu sono. Bau..." sambil menutup hidung.


Rindu dan herdy menyapa semua anggota keluarga dan duduk mengambil bagian di meja makan tersebut.


"Terserah..." rindu duduk dan mengambilkan beberapa sendok nasi goreng ke dalam piring, lalu ia meletakkan di depan herdy yang tak lain adalah suaminya.


Herdy tidak ambil pusing melihat dan mendengar istrinya tengah berdebat tak jelas dengan sahabatnya itu, begitu juga dengan anggota keluarga lainnya, mereka hanya menggelengkan kepala saja melihat keduanya.


Setelah selesai sarapan, mereka mengobrol tentang obrolan yang belum selesai mereka bicarakan semalam. Ada sebagian sudah pindah tempat duduk mengisi ruang tamu dan ruang keluarga, dan ada juga yang masih betah duduk di ruang makan.


"Rin..." ocha menaik turunkan alisnya menggoda sahabatnya ini.


"Apaan sih..." menjawab malas.

__ADS_1


"Udah belum...?" masih dalam mode menggoda.


"Apaan yang udah apa belum?" menggaruk kepalanya yang entah gatal atau tidak hanya rindu yang tau.


"Itu....tu..." ocha kembali memainkan alisnya dan bibirnya lagi. Tapi kelihatan rindu sama sekali belum mengerti kemana arah pembicaraan ocha.


"Itu loh nak, maksud nak ocha udah belum malam pertamanya" ucap mama aichel sekaligus mertua ocha itu gamblang.


"Ocha...." teriak rindu dengan wajah yang memerah.


Rindu melihat ke arah mama aichel dengan wajah yang semakin memerah dan malu. Tidak sedikitpun terpikir oleh rindu akan ada yang menanyakan hal itu, dan kenyataannya juga ia tak membayangkan hal itu karena hingga pagi ini ia belum melakukan apapun dengan suaminya itu. Ketika ia bangun tidur ia mendapati herdy yang duduk di sofa kamarnya sedang memainkan ponselnya. Maka dari itu ia tidak memikirkan sampai ke hal itu.


"Tau achhh. Malas ngomong, mau istirahat aja." ucap rindu sambil berlalu menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Suara percikan air terdengar dari arah kamar mandi yang ada di dalam kamar rindu. Herdy yang baru saja masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri mengurungkan niatnya karena rindu sedang berada di dalam sana. Herdy duduk di atas tempat tidur menyandarkan punggungnya ke headbord tempat tempat tidur sambil kembali membuka ponselnya untuk mengecek beberapa pekerjaan dari sana.

__ADS_1


Rindu yang tak menyadari keberadaan herdy di dalam kamar, keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melilit sebatas dada dan pahanya itu berjalan menuju ruang ganti.


Herdy yang tak menyadari kehadiran rindu ingin meletakkan ponselnya ke atas nakas, namun matanya menatap tajam dan lapar terhadap rindu yang melintas di depannya. Jakun herdy naik turun, dan merasakan sesuatu di bawah sana telah sesak ingin menunjukkan dirinya.


Rindu menjatuhkan asal handuk yang telah mengeringkan tubuhnya sehingga menampakkan kulit putih mulus dan bentuk tubuhnya yang begitu indah tampa sehelai benangpun.


Herdy menghampiri rindu yang tengah membelakanginya itu, dengan hasrat yang telah memuncak. Pentungan besar nan panjang itu pun memberontak menyayun-ayankun dirinya.


Dengan tatapan penuh gairah herdy memeluk tubuh polos rindu, dan memberikan kecupan-kecupan kecil di seluruh punggung rindu.


Darah rindu mendesir merasakan pelukan dan kecupan herdy yang tidak henti itu. Hingga ******* yang keluar melenguh dari mulut rindu membuat herdy semakin gila.


Herdy menggendong tubuh rindu secara bridal lalu meletakkannya secara perlahan di atas kasur. Dengan segera herdy kembali ke arah pintu kamar lalu menguncinya. Herdy berjalan ke arah rindu sambil menanggalkan satu per satu pakaian yang melekat pada tubuhnya. Hingga menyisakan pakaian dalam yang bewarna hitam menutupi pentungan nya. Rindu merona merah, merasakan malu saat herdy menatapnya dengan tatapan yang begitu lapar. Rindu memperhatikan suaminya itu mulai dari wajah turun ke leher, dada yang begitu bidang. Rindu menelan ludahnya kasar saat matanya melihat bagian perut yang seperti roti sobek, tak sampai disitu rindu terus mengarahkan pandangannya kebawah hingga bola matanya seakan keluar dan mulut yang terbuka lebar disaat matanya melihat sesuatu yang bergerak seolah melambai di balik pakaian dalam suaminya. Sesuatu yang melihatnya saja rindu merasakan meremang dan ngilu di bagian kewanitaannya. Begitu besar dan panjang. Dengan refleks rindu menutup bagian intinya dengan telapak tangannya.


Herdy merangkak menaiki ranjang dimana istrinya itu berada. Mata yang terus mengamati ujung kaki hingga wajah istrinya itu tampa berkedip.

__ADS_1


Rindu kini berada di bawah kukungan herdy, merasakan hembusan nafas suaminya hingga membuat tubuhnya semakin berdesir.


__ADS_2