
Hari ini tepat sudah dua minggu aichel mengajukan cuti, ini berarti waktu untuk bulan madunya telah habis. Rindu dan herdy tengah duduk manis menunggu kedatangan aichel dan ocha dari eropa. Tampa mereka sadari sepasang suami istri itu menghampiri mereka yang tengah sibuk dengan ponselnya masing-masing.
"Rindu......" teriak ocha memeluk sahabatnya yang belum sadar akan kehadirannya itu.
Di lain sisi herdy menatap aichel yang penuh dengan rasa bahagia di wajahnya.
"Eiyyyy....kalian udah nyampe?! ucap rindu membalas pelukan ocha.
"Gimana liburan lo ai...?" sapa herdy mengawali pertemuan mereka setelah dua minggu berpisah.
"Thanks ya dy...." tersenyum bahagia terlihat kepuasan di wajah aichel.
Mereka pun berjalan menuju parkiran. Herdy membantu aichel membawakan beberapa tas mereka.
Rindu dan ocha duduk di bangku belakang, sepanjang jalan mereka menceritakan masa liburanya di eropa.
"Jadi gimana cha...?"
"Tenang aja, oleh- oleh buat kalian uda kami siapin kok." sahut ocha.
"Maksud rindu bukan itu cha...." timpal herdy dari depan.
Ocha menatap bingung lalu menatap aichel meminta bantuan penjelasan, aichel hanya tersenyum bahagia mengerti apa maksud perkataan temannya itu.
"Sampai lupa makan." sahut aichel menghilangkan rasa penasaran sahabatnya itu.
"Ternyata lo gila yah ai..." pukulan kecil ke pundak aicchel.
Rindu pun tak dapat menahan tawanya namun rossa masih di bingungkan dengan pembicaraan suami dan kedua sahabatnya itu.
" Chaa...emang lo ga kesakitan? " tanya rindu bocor.
"Kesakitan....sakit kenapa?" tanya ocha balik dengan polosnya.
"Sayaaang....."ucap aichel berani memperlihatkan rasanya pada ocha dan itu berhasil membuat ocha menggerti maksud pembicaraan mereka tadi. Wajah ocha memerah karna malu.
"Tau dong lo cha rasanya..."goda rindu.
"Rindu....." teriak mereka bertiga serentak.
"Kalo kamu mau tau rasanya, buruan cari orang yang mau halalin kamu." bisik ocha ke telinga rindu yang membuatnya bergidik.
"Ochaaaa..." teriak rindu dengan wajah memerah.
Herdy dan aichel tak mengetahui apa yang membuat rindu teriak menyebut nama ocha.
Rindu dan ocha pun tertawa bersama.
Empat puluh menit sudah mereka di perjalanan dan tiba di rumah aichel.
Bik ojah sibuk mengeluarkan barang bawaan majikannya itu. Sedangkan mereka berempat tak sabar untuk berbagi cerita.
Ocha dan rindu yang berada di kamar aichel dan ocha asyik bercerita. Ocha menceritakan pengalaman malam pertama mereka yang sampai membuat mereka lupa untuk makan seharian. Rindu pun tertawa geli mendengar cerita sahabatnya itu, beruntung sekali keisya dan nikita tidak berada disitu, kalau saja kedua sahabatnya itu mendengar cerita ocha pasti langsung heboh.
Rindu dan herdy yang masih menyembunyikan hubungan mereka di depan aichel dan ocha pun terlihat sangat bahagia atas kebahagiaan kedua sahabatnya itu yang kini telah menjalin hubungan suami istri.
"Rin....lo keliatan makin cantik aja sih..." menatap ke arah rindu.
"Oya....masa sih chaa..? biasa aja ." sambil memakan coklat yang dibawa sahabatnya itu.
"Entar lo uda punya gebetan rin...?!" seru aichel mencari tau, sontak membuat wajah rindu memerah.
__ADS_1
"Tu kan....wajah rindu memerah sayang" ucap ocha pada aichel.
Aichel diam mengamati kedua sahabatnya ini. Wajah rindu memang terlihat sangat merah namun tidak untuk herdy, ia keliatan biasa saja tak ada perubahan di wajahnya. Aichel jadi menepis jauh dugaannya kalau saja herdy dan rindu sudah pacaran.
"Bener rin...? Siapa lelaki itu?" tanya aichel seperti ingin memastikan.
"Ichhhh apaan sih...ga ada kok..., ocha aja yang bisa aja nii.." menutupi kebenaran. Rindu dan herdy memang sepakat membunyikan hubungan mereka dulu terhadap sahabatnya ini, mereka ingin buat kejutan.
"Ya udah...kalian istirahat dulu gih...kan capek..atau kalian sambung aja olah raga kasurnya" ucap rindu membuat mata ocha membulat.
Rindu berlalu keluar dari rumah aichel begitu juga herdy ikut menyusul rindu tampa ada rasa curiga di antara mereka.
Rindu yang masuk ke kamarnya untuk bersih-bersih tersenyum bahagia karna sahabatnya itu tak menaruh curiga padanya. Sementara herdy duduk di ruang tv rumah rindu sambil menikmati secangkir kopi buatan mbok narsih.
Herdy mulai sering mengunjungi atau menemani rindu, apalagi kedua orang tua rindu telah memberi restu padanya untuk menemani rindu selama mereka di eropa.
Aichel yang berada di kamarnya pun tengah memadu kasih dengan istrinya. Tidak ada rasa lelah bagi sepasang suami istri ini padahal perjalanan udara eropa-jakarta memakan waktu kurang lebih 14 jam. Aichel sangat menikmati tubuh istrinya itu, begitu juga dengan ocha ia sangat ketagihan atas sentuhan-sentuhan suaminya yang tampan itu.
Rindu turun ke lantai bawah menghampiri herdy yang tengah duduk menonton film cartoon. Rindu tak menyangka kekasihnya seorang pimpinan yang dingin itu ternyata hobi menonton kartoon sama halnya dengan dia.
"Sayang...kamu cantik banget...kamu ga takut entar pacar kamu ini goyah imannya..?" manatap rindu penuh sayang.
"Ichh....kamu gombal aja sih...saya tu ga pernah takut kalo kamu imannya goyah."
"Loh kok gitu sih....jadi kamu siap ni..?" mengedipkan mata.
"Enak aja...saya tu ga takut karna imannya saya itu kuat ga kaya kamu ini.." ucap rindu tertawa.
"Kamu ga balik ? entar tante kecarian anak kesayangannya lagi" goda rindu.
"Balik tapi entar aja deh...tadi uda ngabari mama kok, kalau kamu capek istirahat aja sana" balas herdy kembali menyaksikan cartoon favoritnya itu.
"Ya udah, saya istirahat yaa...entar kamu kalo balik hati-hati." mengecup pipi herdy.
Rindu terus berlalu tampa merespon ucapan kekaaihnya yang ternyata manja banget.
Rindu terbangun dari tidurnya, ia melihat jam dinding yang telah menunjukkan pukul dua dini hari. Rindu ingin mengambil air minum turun ke bawah namun dari tangga ia dapat mendengar suara tv yang masih menyala.
Benar saja ia masih melihat herdy tengah asyik menyaksikan pertandingan bola yang membuat banyak kaum adam lupa waktu, bukan hanya kaum adam tapi rindu sebagai kaum hawa juga lupa waktu kalau sudah menyaksikan acara bola.
Rindu menghampiri herdy yang tengah asyik dengan acara bolanya.
"Sayang.... kamu kok bangun sih? kedengaran ya nyampe atas?" mengelus rambut rindu.
"Ga kok...tadi kebangun mau minum echh pas turun penasaran siapa yang masih nonton ternyata kamu." bersender di dada herdy yang bidang.
Aichel yang belum tidur dapat melihat cahaya terang di ruang tv rumah rindu dari jendela kamarnya. Aichel pun mengambil hpnya dan mencoba menghubungi rindu untuk memastikan.
"Rin....lo belum tidur ya?"
"eh... lo ai...." panik
"Ya iya lah emang lo ga save no gue?" marah
"Jangan marah dong, gue save kok mana mungkin hue hapus no lo."
"Lo ngepain kok belum tidur ?"
"Gue lagi nonton bola...emang lo yang belum tidur karna main bola" ucap rindu keceplosan tak sadar kekasihnya tengah berada di sampingnya. Wajah herdy memerah mendengar ucapan ke kasihnya itu pada sahabatnya.
"Ih lo ya rin...ya udah jangan lama-lama nontonnya, gue ga bisa temenin lo"
__ADS_1
"Iya....iya....bawel..." menutup panggilan.
Rindu yang sadar keberadaan kekasihnya itu pun tertunduk malu atas ucapannya tadi pada aichel.
"Kamu ya....kalo ngomong asal keluar aja"
"Maaf sayang....keceplosan..." ucap rindu malu.
Aichel yang kembali melihat ke arah rumah rindu pun masih mendapati lampu menyala. Aichel menuruni anak tangga ingin menghampiri sahabatnya itu. Ia kwatir kalau rindu tak bisa tidur seperti sebelum-sebelumnya jadi ia memutuskan untuk menghampiri.
Sampai di rumah rindu, aichel sangat kaget mendapati rindu dan herdy tengah asyik menonton bola. Penasaran namun aichel masih belum membuka suara ingin melihat lebih jauh lagi, tampa ia sadari juga ikut menyaksikan siaran tersebut.
Gollllll teriak aaichel yang membuat rindu dan herdy terkejut bukan main. Aichel pun sadar keberadaannya telah diketahui kedua orang itu.
"Aichel..." teriak rindu dan herdy serentak.
"Harusnya gue yang teriak kaget, kenapa lo berduan nonton bola jam segini belum tidur, lo lagi her... kok lo belum pulang juga ini kan udah pagi." menatap marah.
"Maaf ai....saya tau saya salah...tapi kami cuma nonton kok, ga lebih. lo kan bisa liat juga ada kok jarak diantara kita." jelas aichel.
"Lo berdua sering begini..?"
"Begini gimana ai..?" tanya rindu.
"Nonton berduaan ampe pagi gini."
"Gak..." jawab mereka serentak.
"Tadi pak rayhan telpon saya, nyuruh saya menunggu kalau nanti akan ada titipan yang harus saya selesaikan hari ini juga." jelas herdy, namun bola mata rindu membulat mendengar ucapan kekasihnya itu, rindu mengira herdy membohongi aichel menutupi kebenarannya.
Aichel ingin berbicara namun suara kendaraan terdengar memasuki pekarangan rumah rindu. Mereka bertiga keluar secara bersamaan dan menghampiri pak yanto yang datang dengan sebuah map.
"Ayo pak masuk..." ucap herdy membuat rindu penasaran kenapa ada pak yanto di jam yang sudah hampir subuh ini.
"Iya pak...masuk dulu" ucap rindu dan aichel bersamaan.
"Iya den... non..., ini pak berkasnya. " menyerahkan map bewarna coklat pada herdy.
Rindu bingung, kenapa ucapan herdy tadi jadi benar ya pikirnya. Kini aichel juga sama terlihat bingungnya dengan rindu, kenapa berkas itu harus dikerjakan saat ini juga dan kenapa pula pak yanto yang langsung membawanya bukanndi kirim lewat email saja pikirnya.
Herdy meminta rindu untuk membuatkan minum untuk pak yanto yang terlihat kelelahan, dan ada rasa takut diwajahnya.
Herdy mengeluarkan hp dari saku celananya dan menghubungi rayhan hutama yang tak lain adalah ayah rindu.
"Pak...berkasnya sudah pada saya pak."
"Her... kamu minta rindu untuk mengambil berkas di laci nakas kamar saya, map yang bewarna biru." terdengar suara dari telpon herdy.
Aichel masih di buat bingung dan heran. Masalah apa yang terjadi hingga semua bekerja sepagi ini pikirnya.
Rindu datang dengan nampan yang berisi tiga cangkir copi dan meletakkannya di atas meja.
"Rin...pak rayhan minta kamu agar mengambilkan map biru di laci nakas kamarnya."
Rindu pergi berjalan ke arah kamar ayahnya itu.
"Pak yanto yakin kalau tidak ada yang membuntuti bapak kan pak?" tanya herdy memastikan.
"Saya yakin pak. Kita aman." raut wajah yang masih ketakutan.
"Ya udah bapak istirahat saja. Nanti kita berangkat sama-sama saja." ucap herdy menenangkan pak yanto.
__ADS_1
Rindu kembali dengan map biru di tangannya, namun masih penuh pertanyaan di hatinya.