Rindu ... Yang Memabukkan

Rindu ... Yang Memabukkan
Keluar Rencana


__ADS_3

Herdy terus saja menatap ke arah rindu yang tengah duduk di ruang tunggu. Tak terbayangkan oleh herdy sebelumnya bagaimana ia akan menahan amarahnya saat mata-mata lelaki buaya darat menatap ke arah kekasihnya disaat ia harus berada diantrian dalam pembelian tiket untuk menonton sebuah film. Rahang dan kepalan tangannya mengeras, ingin rasanya ia memberikan hadiah kepalan kepada laki-laki yang melihat rindu dengan tatapan haus.


Rindu merasa heran mengapa ia melihat wajah kekasihnya seperti ingin meledak, merah dan aura yang begitu menyeramkan. Mengikuti arah pandangan herdy, tersentak ia kaget mendapati seorang pria yang seumuran ayahnya tengah menatapnya dengan tatapan yang haus. Rindu tersadar mengapa kekasihnya itu begitu tersulut emosi. Dengan segera rindu beranjak dari duduknya dan melangkah kearah herdy, dan tak sadar memberi kecupan di bibir herdy yang mana niat hatinya ingin membuang amarah kekasih malah malu sendiri karena ia baru tersadar jika sedang berada dipusat keramaian dan sedang menjadi pusat perhatian banyak orang.


"Ops...malunya" ucapnya menutup wajahnya dengan telapak tangannya saat sadar apa yang telah diperbuatnya.


"Kamu sedang menggodaku sayang, hmmm..." bisik herdy di telinga rindu dengan suara yang berat.


"Apakah kita batalkan saja menontonnya? hmm." Goda herdy lagi


Rindu yang terlihat malu menarik tangan herdy keluar dari tempat itu.


"Aahhhh..." teriak rindu sambil menggelengkan kepalanya, tak percaya atas apa yang telah diperbuatnya.


Herdy tersenyum puas melihat tingkah kekasihnya ini, ingin rasanya ia ******* bibir mungil yang telah menggodanya itu.

__ADS_1


"Jangan menatap seperti itu. Saya malu." ucap rindu menolehkan wajahnya kesamping. Wajah yang memerah itu kelihatan semakin cantik dan menggoda.


"Akh..... saya tak sanggup kalau begini terus." ucap herdy prustasi karna tak tahan ingin menerkam kekasihnya itu saat itu juga.


Herdy menarik lengan rindu dan membawanya terus melangkah menuju tempat parkir pusat perbelanjaan itu.


"Kita belum nonton dan belanja." ucap rindu bingung


"Batalkan saja. Saya tak menjamin saya bisa menahan tidak tidak melukai orang-orang yang menatap kamu dengan tatap haus. Dan saya juga tak mampu mengendalikan rasa yang sudah ingin salurkan ini. Melihat kamu seperti ini membuat ...Akhhhh." ucap herdy prustasi meremas kepalanya


Mobil sedan hitam itu terus melaju dengan pasti dan kedua keturunan adam dan hawa itu hanya diam, entah apa yang ada dalam pikiran mereka masing-masing.


Setelah lebih dari satu jam mereka mengitari jalanan kota yang padat kendaraan, herdy memberhentikan mobilnya di sebuah taman yang ada di pinggiran kota. Taman yang asri, hijau dan udara yang segar.


Terlihat orang-orang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, ada yang duduk menikmati keasrian taman dengan kerabatnya, ada yang sedang bercanda bersama teman-temannya dan ada juga terlihat pasangan kekasih yang entah sedang membicarakan apa.

__ADS_1


Herdy turun dari mobil dan membukakan pintu untuk rindu, mengulurkan tangannya untuk sang kekasih. Rindu yang menyambut uluran tangan herdy pun turun dari mobil dengan menarik nafas yang dalam, merasakan udara yang sejuk, membuang rasa yang tak ingin terjadi dan menumbuhkan energi yang positif.


"Mungkin disini jauh lebih baik, dari pada saya tidak mampu menahan amarah terhadap laki laki tadi." ucap herdy membuka suara.


Rindu menganggukkan kepalanya, sambil menatap ke arah sekeliling terlihat begitu ramai orang-orang menikmati suasana, menenangkan pikiran tampa harus membuang uang banyak hanya untuk beberapa saat, bahkan terkadang untuk yang tidak berguna sekalipun.


"Saya suka datang ke taman ini untuk menghilangakn penat, apalagi terkadang pekerjaan yang membuat otak terus berpikir. Di tempat ini saya mampu mendapatkan kembali pikiran yang tenang." ucap herdy menatap rindu yang tengah melihat pemandangan depan matanya.


"Namun sekarang saya cukup melihat kamu untuk menghilangkan segala beban yang ada di pikiran dan tubuh saya." ucap herdy sambil menyium punggung tangan rindu.


Wajah rindu terlihat memerah mendapat perlakuan mendadak herdy. Rindu bahkan tidak berani menatap kekasihnya itu, ia begitu malu dan merasa terbuai atas perbuatan herdy padanya. Penuh kelembutan.


"Disini memang begitu nyaman." ucap rindu tetap melihat keindahan taman itu menghilangkan rasa grogi dan tak malu menunjukkan wajahnya yang terlihat memerah untuk kesekian kali di hari ini.


Herdy lelaki yang telah mampu membuat dunia rindu seperti rol coster, mengubah pacuan denyut jantungnya.

__ADS_1


__ADS_2