
"Ada yang ingin kau lakukan kak?" tanya ellis yang ikut bergabung duduk di depan rumah bersama rindu yang tengah memandang tanam dengan berbagai macam warna bunga ada disana.
"Tidak... Lakukan lah apa yang ingin kamu lakukan."
"Untuk saat ini, ellis juga tak ingin melakukan apa pun." wajah yang tak ceria seperti biasanya.
Rindu yang melihat wajah ellis yang tak bersemangat memicingkan matanya menatap adik iparnya itu. "Kau kenapa ellis?"
"Tidak ada..."
"Jangan berbohong ellis, wajahnya tidak dapat membunyikannya."
"Haachh.... kau ini... seperti paranormal saja."
"Bukan, tapi wajahmu yang mengatakannya."
Ellis membuka ponselnya, dan menunjukkan percakapan yang ia lakukan dengan temannya melalui IG kepada rindu. "Apakah aku bisa seperti mereka?"
"Huh... kau ini, hanya karena ini saja kau sudah terlihat murung." rindu memberikan ponsel ellis. " Kau nikmati saja dulu hari hari mu ini, anggap saja ini liburan terakhirmu sebelum kau menjalani rutinitas yang begitu padat." sambung rindu lagi.
"Maksud kakak..?" menatap rindu dengan penuh tanya.
"Tidak usah terlalu di pikirkan, nikmati saja hari hari ini, anggap ini persiapan kamu sebelum memasuki dunia kerja yang begitu padat. Karena setelah kamu bekerja kamu tidak akan bisa melakukan apa pun dengan bebas seperti saat ini."
"Benar.." wajah yang mulai ceria kembali.
"Benar... maka lakukanlah apa yang ingin kau lakukan."
"Tapi apakah aku akan mendapatkan pekerjaan?!" kembali ragu.
__ADS_1
"Jika kau mau saat ini juga kau akan mendapatkan pekerjaan, tapi kalau menurutku nikmati saja dulu harimu, baru kemarin juga kau mendapatkan gelar kelulusan, kecuali kau sudah menganggur untuk waktu yang sangat lama." ucap rindu panjang lebar memberikan nasihat untuk adik iparnya yang bar bar itu.
"Benar kak, mengapa aku begitu mengkuartirkannya. Bodoh." mengetuk ngetuk kepalanya dengan jari tangan.
"Bukan aku yang mengucapkannya, tapi kau sendiri." ucap rindu sambil tertawa .
"Huh... " ucap ellis kesal pada rindu yang menertawakannya.
"Oh ya mama bilang ia akan keluar sebentar. Apa kau tidak ingin ikut dengannya?"
"Tidak... itu untuk urusan ibu ibu arisan, aku tak nyaman dengan itu."
"Aku pikir kau hobi untuk jalan keluar?!"
"Benar... tapi tidak untuk berkumpul dengan ibu ibu."
"Kau berbeda..."
"Aku juga calon ibu ibu..." menunjuk perut yang buncit.
"Kan sudah di bilang, kau itu berbeda..."
"Dimananya?"
"Ya banyak... kau masih calon ibu, masih muda dan kau kakak iparku."
"Lalu...?"
"Mama itu ibu ibu yang sudah tua, berkumpul dengan ibu ibu yang seumurnya."
__ADS_1
Rindu melihat ellis dengan tatapan lucu.
"Dan juga mereka itu sudah menjadi dan calon nenek." bisik ellis pelan.
"Kau juga calon aunty, apa bedanya...?"
"Tentu saja berbeda, aku aunty berarti masih muda, sedangkan grandma itu sudah pasti tua, namanya juga nenek."
"Ok...ok... aunty...yang cantik."
"Itu baru betul...ternyata mommy pintar sayang." mengelus perut buncit rindu.
"Mommy ku memang pintar aunty." menirukan suara bayi.
"Mama akan keluar sebentar, ada yang ingin kalian titip?" tanya mama catryn yang sudah berada didekat mereka.
"Tidak maa..., tapi cukup bawakan kami cemilan apa saja."
"Yah itu lebih baik ma." ucap rindu menimpali ucapan sang adik ipar.
"Baiklah, akan mama bawakan. Ingat ellis untuk menjaga rindu di rumah selama mama pergi."
"Oh my god.... mama dan kakak sama saja, apa kakak ipar ini adalah seorang bayi yang harus di jaga!"
"Bukan ellis .. tapi calon pemilik bayi..." ucap mama catryn sambil tersenyum pada anak dan mantunya itu.
Rindu hanya tersenyum melihat perdebatan ibu dan anak itu.
"Baiklah mama pergi." mencium pipi anak dan menantunya itu secara bergantian.
__ADS_1