Rindu ... Yang Memabukkan

Rindu ... Yang Memabukkan
On


__ADS_3

Sesampainya di rumah herdy melihat rindu yang sudah terlelap dalam tidurnya, tak ingin membangunkan rindu, herdy merangkak naik ke tempat tidur secara perlahan dan pelan. Herdy membawa tubuh istrinya itu dalam dekapannya untuk berbagi kehangatan dan kenyamanan.


Baru saja herdy ingin menutup matanya setelah puas memandang rindu untuk melepas rasa kangen di hatinya tiba tiba ponsel herdy berdering. Melihat siapa yang menelpon pada saat jam istirahat begini ingin rasanya herdy memaki si penelpon itu tapi itu tidak mungkin karena yang menghubunginya adalah leon, ketua dunia bawah yang sangat di takuti yang tak lain juga adalah sahabatnya sendiri.


Herdy turun dari tempat tidur menjauh dari sana karena herdy tidak ingin rindu merasakan terganggu akibat perbincangan herdy dengan leon.


"Orangnya datang padaku." ucap leon langsung saja ketika menyadari herdy telah menjawab panggilannya itu.


"Akan ku beritahu farel, kebetulan dia menginap di rumah." menuruni anak tangga menuju kamar tamu di mana farel beristirahat.


Tok... tok...tok...


Herdy mengetuk pintu kamar yang di tempati farel.

__ADS_1


"Bos" farel mengucek mata menghilangkan rasa terkejutnya.


Herdy masuk ke dalam kamar itu tampa permisi atau di persilahkan. Lalu ia menduduki salah satu kursi yang ada di dalam kamar itu, sedangkan farel mendudukkan dirinya di pinggiran tempat tidur.


Setelah berbicara panjang lebar, dan memerintahkan farel untuk menjalankan rencana selanjutnya, akhirnya herdy dan farel mengakhiri pembicaraan yang telah menemukan solusi untuk rencana selanjutnya.


Herdy kembali ke kamarnya, lalu membaringkan tubuh di sebelah rindu. Mata herdy memang terpejam namun pikirannya masih bergulat dengan masalah masalah perusahaan yang sedang serius. Dilihatnya rindu yang bergerak dalam tidur untuk mencari kenyamanan. Herdy merasa bersalah pada istri cantik nya itu, herdy kembali membawa rindu ke dalam pelukannya menjadikan lengannya sebagai bantal untuk rindu.


Setelah selesai herdy melihat rindu yang masih merasa nyaman berada di bawah balutan hangatnya selimut milik mereka. Memberi kecupan di setiap bagian wajah istri tercinta nya itu.


Rindu yang merasakan sentuhan pada wajahnya membuat matanya perlahan terbuka, dan mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang di tangkap kornea matanya.


"Sudah rapi..., sayang mau berangkat kerja ya?" tersenyum manis namun mata rindu menatap ke arah jendela yang masih memperlihatkan sedikit cahaya damainya remang pagi.

__ADS_1


"Belum... tapi sebentar lagi, saya ingin sarapan bersama istri tercinta saya." Herdy mengerlingkan genit satu matanya membuat pipi rindu merona merah. Sudah lima bulan mereka mengarungi rumah tangga tapi tetap saja rindu masih bisa merasakan malu dan merona saat suaminya itu menggodanya.


"Aku akan membersihkan diri dulu." rindu turun dari ranjang mereka dan bergegas cepat menuju toilet kamar mereka, menyembunyikan wajah yang memerah dan degupan jantung yang begitu kencang, padahal hanya kerlingan mata saja, tapi itu masih membuatnya merona dan berdebar. Sudah berulang kali juga rindu merasakan hal yang lebih ataupun keintiman mereka tapi tetap saja rindu selalu saja terpesona dengan hal hal kecil yang di lakukan suaminya itu.


Rindu mengguyur tubuhnya di bawah siraman shower yang menyala. Kepala masih terngiang ngiang akan pesona suaminya itu, mengingat kerlingan nakal herdy saja membuat tubuhnya meremang merasakan sesuatu di bawah sana berkedut minta dijamah. Sesegera mungkin rindu menyelesaikan ritual mandinya.


Rindu menghampiri herdy yang masih duduk di sofa ruangan kamar mereka, rindu menjatuhkan handuk yang menutup sebatas dada dan di atas lututnya ke atas lantai sehingga menampilkan tubuh polos indahnya. Herdy menjatuhkan ponsel yang ada di genggaman tangannya, menelan ludah kasar, jakunnya naik turun melihat tubuh polos istrinya menyebabkan sesuatu di bawah sana memberontak ingin keluar karena sudah sesak di tempat yang ketat itu.


Herdy on seketika.


Tampa berbicara bibir herdy menyumbu dan ******* bibir rindu dengan rakus, jemari tangan herdy bergrilya meremas dan memainkan secuil daging di puncak gundukan yang semakin berisi itu. Membuat herdy langsung dapat menyentuhnya langsung karena tubuh istrinya itu sudah polos.


"Akh.....Emm..."

__ADS_1


__ADS_2