Rindu ... Yang Memabukkan

Rindu ... Yang Memabukkan
Siang Pertama


__ADS_3

Mama herdy mencoba mengetuk pintu kamar rindu, sudah ketiga kali ia mencoba namum belum juga ada tanda pergerakan dari dalam kamar, hingga ia memutuskan untuk kembali kerumahnya tampa berpamitan kepada sang anak dan menantunya itu.


Rindu yang terbangun merasakan sesuatu yang berat menimpa bagian pinggangnya. Rindu meraih pinggangnya dan menemukan tangan yang kekar sedang memeluknya dalam tidur.


Seketika bayangan-bayangan percintaannya dengan sang suami kembali muncul di kepalanya. Rindu membalikkan posisi tubuhnya hingga mereka kini saling berhadapan. Melihat wajah tampan suaminya, dan terlintas lagi bayangan percintaan panas yang mereka lakukan, membuat pipi rindu merona merah.


Herdy menatap wajah sang istri yang tengah menatapnya kosong. Herdy yakin saat ini istrinya ini sedang memikirkan sesuatu yang nikmat, karena wajah rindu begitu merah dan ia berulang kali menggelengkan kepalanya.


Rindu tersadar saat merasakan sapuan hangat di punggungnya. Melihat herdy yang sedang menatapnya dalam seperti beberapa waktu lalu saat mereka memulai percintaan panas.


Herdy kembali mengukung rindu di bawahnya. "Ini harus sering kita lakukan, agar kamu terbiasa dengan.." herdy tak melanjutkan ucapannya namun ia membawa dan menuntun tangan rindu untuk memegang sesuatu di bawah sana yang tengah menegang dan besar.


Tampa sadar rindu menggigit bibir bawahnya dan kembali merona. Dengan segera rindu menarik tangannya dari bawah sana.

__ADS_1


"Seperti sebelumnya, rileks..." suara berat penuh dengan gairah tepat di telinga rindu hingga membuat nafas rindu memburu dengan cepat.


Rindu meremas kuat punggung herdy menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan saat pentungan besar itu kembali memasukinya.


" Jangan ditahan, lemaskan dan rileks" mengecup kening rindu dengan hangat.


Rindu hanya menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti.


Rindu kembali naik ke atas tempat tidur setelah selesai membersihkan tubuhnya yang lengket sehabis percintaan yang kedua kali pada siang hari ini. Resmi sudah ia menyandang gelar sebagai nyonya Wardana Putra. Siang pertama mereka telah mengantarkan mereka ke pernikahan yang seutuhnya.


Herdy yang baru keluar dari ruang mandi menghampiri rindu dan mengecup hangat kening istrinya yang terlihat lemas dan merasakan sakit itu.


" Istirahatlah, aku akan mengambilkan makan siang." beranjak dari samping rindu.

__ADS_1


Herdy menaruh beberapa lauk dan sayur pada piring, begitu juga tak lupa dengan segelas jus ia letakkan diatas nampan yang telah terisi sepiring nasi beserta lauk itu.


Melihat ruangan yang begitu tenang herdy yakin semua anggota keluarga saat ini tengah beristirahat memulihkan tenaga yang hilang akibat acara kemarin. Herdy kembali ke dalam kamar dengan sebuah nampan yang berisi penuh itu.


Di kediaman aichel kini sedang terjadi keseruan. Ya kini semua berpindah ke rumah aichel setelah mama herdy mengatakan tidak ada jawaban dari dalam kamar, sehingga membuat semua orang yang berada di rumah itu tersenyum dengan hayalan masing-masing tentang kegiatan pengantin baru itu. Hingga mereka memutuskan untuk ke rumah aichel agar tidak mengganggu dua insan yang sedang memadu kasih.


" Kita tunggu saja, sampai berapa lama lagi mereka tersadar kalau kita tidak ada disitu." ucap aichel hingga membuat semua orang tertawa dan membenarkan ucapan aichel.


" Mungkin tidak akan sadar juga hingga hari berganti." ocha menimpali ucapan suaminya itu lalu menutup mulutnya.


"Hus... jangan mengenang pengalaman pribadi kalian ya..." ucap mama aichel sambil tertawa dan disusul seluruh anggota keluarga itu.


Melihat kelakuan majikan yang sudah seperti keluarga itu, bi oja tersenyum bahagia.

__ADS_1


__ADS_2