
Kini rindu tengah berada di ruang tamu rumah herdy. Setelah pulang kerja tadi herdy mengajak kerumahnya. Rindu yang juga kangen pada ibunya herdy langsung menyetujuinya, namun setibanya mereka dirumah, mereka tidak mendapati mama herdy dirumah. Setelah mencari tau lewat ponsel ternyata mamanya mengatakan bahwa ia baru saja keluar rumah untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan dari anak teman arisannya.
Disinilah mereka berdua berada, duduk dengan kegiatan tak jelas sibuk dengan ponsel dan pemikiran masing-masing.
" Emm... mau cari makan?" herdy buka suara namun tatapannya masih pada ponselnya.
" Emm... perutku masih kenyang."
menatap herdy yang terus saja sibuk dengan ponselnya.
"Jangan menatapku terus begitu. Aku tau kekasihmu ini memang tampan." sambil menyunggingkan senyumnya.
"Cih... merasa saja, siapa yang menatapmu." kembali menundukkan wajah menatap ponsel. Wajah rindu merah.
Herdy berpindah posisi duduk mendekati rindu.
"Jangan menggodaku, kamu tau aku sedang menahan sesuatu disini." herdy berbisik di telinga rindu.
__ADS_1
Seketika tubuh rindu meremang, darahnya mengalir lebih cepat sehingga menimbulkan rasa hangat dan juga geli di telapak kakinya.
Herdy yang menyadari kegugupan rindu semakin merasa bersemangat untuk menggodanya hingga akhirnya ia juga semakin tidak tahan untuk menahan hasrat untuk menyumbu wanita pengisi hatinya ini.
Bibir yang kenyal dan lembut itu kini tengah bersatu melepas rasa rindu. Tak hanya sampai disitu jemari tangan kokoh itu kini mencoba membuka beberapa kancing kemeja yang digunakan rindu. Pemandangan indah luar biasa kini tengah ada di depan mata herdy, dengan susah payah ia menelan ludah, jakun yang terus saja naik turun. Jemari herdy dengan lembut menyentuh bukit yang masih tertutup kain hitam yang terlihat semakin menggoda di mata herdy.
Rindu membusungkan dadanya merasa sesuatu yang melanda tubuhnya. Rasa yang tak dapat ia katakan, rasa yang terkadang ia inginkan. Bibir yang terus saling bertaut sesekali berhenti untuk mengambil nafas dan jemari herdy juga semakin lincah memainkan pucuk kecil bewarna ping itu.
Hingga entah berapa lama mereka saling hanyut dalam cumbuan itu sampai suara deringan ponsel rindu menghentikan aktivitas mereka.
Dengan segera rindu menjawab panggilan itu setelah melihat siapa yang menghubunginya.
"Kamu kemana...?"
"Rindu sedang di rumah herdy yah, ini juga mau pulang." wajah yang masih memerah akibat aktivitas lalu itu.
"Herdy...Kapan dia kembali, bukannya ia sedang di puncak?"
__ADS_1
"Ya sore tadi, dia juga tadi ke kantor."
"Oh ternyata lebih cepat dari yang ayah pikirkan. Baiklah ayah tunggu di rumah.
Panggilan itu berakhir.
Wajah sepasang kekasih ini masih memerah dan berdesir akibat sisa-sisa luapan rindu mereka.
Jemari herdy dengan lincah menyatukan kembali kancing-kancing kemeja rindu. Satu kecupan hangat ia berikan di kening rindu. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Ayo.." berdiri dan mengulurkan tangan.
"Kemana?"
"Pulang, apa kamu tak ingin pulang? Jangan terus menggodaku sayang." memasukkan tangan ke saku celananya. "Apa kamu siap lebih dari yang baru saja kita lakukan? Hemm..." membungkuk menghirup aroma tubuh rindu.
Rindu terjingkat kaget akibat ulah kekasihnya itu. Rasa takut menghampiri walaupun sebenarnya ia menginginkan namun masih punya kesadaran.
__ADS_1
Sebelum herdy melajukan mobilnya. Herdy menyatukan jemari tangannya dengan tangan rindu. " Aku ingin kita menikah, aku sudah tidak sanggup menahan ini" berkata dengan suara yang parau menahan hasrat dan satu tangannya menyentuh pada bagian bawahnya.
Rindu berdesir mendengar ucapan herdy dan memerah akibat menyadari maksud tangan herdy yang satu dan suara berat kekasihnya itu.