
Rindu dan ellis tengah berada di ruang keluarga, mereka begitu menikmati drakor yang tengah mereka tonton melalui tv yang berukuran 50 inci itu. Tidak ada suara yang terdengar kecuali suara yang bersumber dari drama yang mereka tonton, entah sudah berapa banyak bungkusan cemilan yang sudah mereka habiskan untuk menemani mereka. Hampir tengah hari berlalu namun mereka masih asyik betah duduk di depan televisi, tampa menyadari seseorang tengah berada di belakang mereka.
Farel hanya menggelengkan kepalanya melihat istri dan adik bosnya itu tengah asyik menonton drakor. "Pantas saja di telpon tidak menjawab, ternyata wanita wanita bos ini tengah sibuk menonton drakor." ucap farel dalam hati.
Rindu yang merasakan ada pergerakan di belakangnya pun menoleh kebelakang dan menemukan asisten farel tengah berdiri di belakang mereka sambil memegang ponsel.
"Farel...kau mengagetkan saja" rindu terkejut mendapati asisten suaminya itu tengah berada di belakangnya. Belum sempat farel menyaut, rindu melihat ponselnya yang tengah menyala karena ada yang menelpon, rindu segera meraih ponsel yang berada di atas meja dan melihat nama pemanggil di layar itu.
"Farel..." ucap rindu sambil bergantian melihat layar ponselnya dan farel yang tengah berdiri di sana.
"Iya nona... dari tadi saya mencoba menghubungi nona dan nona ellis... tapi tidak ada jawaban." ucap farel sambil mengakhiri panggilan yang belum terjawab itu.
Sementara ellis hanya diam memperhatikan farel yang tengah berbicara dengan rindu.
"Kenapa tidak panggil saja, mengapa mesti kamu gunakan ponsel kamu untuk memanggil kami. Huh... kamu ini.."
__ADS_1
"Sebelum saya sampai disini saya sudah berulang kali menghubungi nona, dan sampai saya disini saya kembali menghubungi untuk mencari keberadaan nona karena rumah ini begitu sepi seperti tidak berpenghuni, ternyata nona berdua ada di ruangan ini." terang farel panjang lebar menjelaskan.
"Ya sudah... apakah ada sesuatu yang bisa kami bantu?" tanya rindu.
"Bos meminta saya untuk mengambil map yang tertinggal."
"Dimana map itu farel?
"Di atas meja kamar bos, nona."
"Yaa..." ellis kaget karena rindu memukul lengannya.
"Ambil kan map di atas meja kamar kakak kamu."
Tampa bertanya dan membantah ellis segera melaksanakan perintah sang kakak ipar. Ellis tidak ingin terlalu lama terganggu dan ketinggalan cerita drakor tersebut karena gangguan dua orang yang tengah mengobrol itu.
__ADS_1
Tak butuh waktu yang lama ellis sudah kembali ke ruangan itu dengan sebuah map plastik bewarna merah tua di tangannya.
"Ini..." menyerahkan map itu pada farel.
"Terimakasih nona ellis.."
"Huh... kau begitu formal farel... aku lebih suka kau panggil ellis saja." kembali mendudukkan bokongnya di atas sofa yang sebelumnya ia duduki.
Farel hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan hormat, sedangkan rindu hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat interaksi kedua orang yang ada di dekatnya itu.
"Baiklah nona saya ijin pamit dulu." sambil menundukkan kepalanya.
"Ya... hati hatilah farel...." ucap rindu membuat farel kalang kabut takut bos dinginnya itu mendengar ucapan ramah dari rindu padanya, padahal bagaimana mungkin manusia dingin itu mendengarnya sedangkan dia berada di kantor yang sangat jauh dari rumah itu. Ada ada saja si farel, terlalu takut kepada manusia es yang kejam itu.
Ellisa masih memperhatikan punggung farel yang sudah menjauh dari pandangan matanya, rindu yang melihat tatapan itu pun tersenyum licik seolah mendapat kemenangan.
__ADS_1
"Sudah tidak kelihatan lagi, jadi tidak perlu melihat ke arah sana lagi ellis..." ucap rindu sambil menaik turunkan alisnya menggoda ellisa.