Rising Isekai Apocalypse

Rising Isekai Apocalypse
chapter 18, tirai kabut darah


__ADS_3

pagi itu di perjalanan.


sebelum itu aku dan dust mengambil beberapa surat perizinan dari guild karena kami tidak bisa keluar dari kota ini karena sebuah kutukan.


kemudian masing-masing dari kami di berikan sebuah surat berisikan segel magis, sambil di pantau oleh beberapa orang dari guild petualang,


saat itu aku dan dust di kumpulkan bersama beberapa orang yang memiliki ranking selevel denganku.


awalnya aku percaya diri untuk berkenalan dan menambah pertemanan tapi saat itu.


mereka semua mencibir ku.


mereka semua memojokan aku dan dust dengan kata-kata kotor dan menghina.


awal nya aku tertegun oleh semua ucapan mereka lantas aku mencoba membalas semua cacian tapi saat itu dust menghentikanku.


"aku mohon... hentikan senior Felix. " ucap dust sambil mencoba memisahkanku.


"apa kau bodoh dust!, apa kau tidak sakit hati ketika di caci dengan ucapan seperti itu?... sekarang lepas kan aku! " ucapku.


"aku mohon...., sekali ini saja,...aku mohon,


tolong dengarkan penjelasanku." ucap dust dengan expresi muram.


mendengar itu aku langsung menuruti ucapan dust karena aku merasa ada yang ia sembunyikan.


tanpa banyak bicara aku langsung menarik lengan dust dan membawanya ke belakang Barisan kereta


"ada apa dengan mu" tanya ku.


dust hanya diam tanpa menjawab.


"kenapa kamu diam saja, apakah kamu tidak merasa terhina! " ucapku dengan nada marah.


menanggapi itu dust hanya tertegun sambil menundukkan Kepala.


"sekali lagi aku katakan!, apakah kamu akan terus seperti itu!"


saat itu dust terlihat seperti menyeka sesuatu di matanya, ia melepas helm baja dari kepala_nya dan saat itu aku sadar.


"hiks, hiks, senior Felix kalau kamu masih marah pukul saja aku.., hiks, hiks.. tapi berjanjilah bahwa kamu tidak akan menggangu mereka." ucap dust sambil menangis.


" tapi kenapa? ... siapa sebenarnya mereka? "


"hiks, hiks, mereka anak bangsawan. hikss.. " ucap dust.


saat itu aku menjadi tidak tega melihat dust menagis, aku berinisiatif untuk mengusap kepalanya sambil menghibur.


"maafkan aku dust saat itu aku terlalu egois,.. aku berjanji tidak akan seperti itu lagi " ucapku sambil mengusap kepada dust.


"hiks hiks...apakah kamu berjanji tidak akan berdebat lagi dengan mereka "


"ya aku berjanji "


saat itu aku terus menghibur dust dengan beberapa cerita yang menurutku lucu hingga ia berhenti menangis.


setelah beberapa jam kami melangkah menuju perjalanan..


ketika itu dust telah menceritakan seluruh hal yang belum aku ketahui.


dust menceritakan aturan untuk rakyat dan bangsawan,


ia juga menceritakan kenapa ia bisa menangis.


(sungguh ironis) pikirku. karena derajat bangsawan dan rakyat bagaikan langit dan tanah.


rakyat tidak bisa berbuat apa-apa ketika bangsawan telah membuat keputusan, bagaikan tanah yang tidak bisa meminta hujah ke langit.


bayangkan bila langit terus tidak menurunkan hujan, musim kemarau akan membuat tanah menjadi kering gersang dan kesengsaraan itu sudah pasti terjadi. dan saat ini terjadi di Kerajaan.


kerajaan menuntut pajak yang terlalu besar kepada rakyat, sedangkan rakyat yang mencoba melawan akan di musnahkan, itulah ucapan yang ingin dust sampai kan padaku lewat peribahasa.


(tidak kusangka ternyata dust cukup pintar) pikirku karena dust merupakan orang yang polos pendiam dan jujur, ia lebih memilih dirinya yang tersakiti dari melihat seluruh temannya ikut sengsara.


" dust kamu memiliki jiwa pemimpin "ucapku sambil bercanda.


" ehhh.. aku, bagaimana bisa? " ucap dust dengan expresi wajah polos.


" yahh aku yakin suatu saat nanti kamu akan menjadi pemimpin di keluargamu, hahaha " ucapku sambil tertawa.


mendengar itu dust ikut tersenyum, pada akhirnya kami terus bercanda sampai pajar menghilang.


.........


malam hari di jalur hutan..


di perjalanan, kami di pisah menjadi dua regu,


regu penyerang dan regu logistik.


saat ini aku dan dust ada di regu logistik karena mendapat perintah langsung dari karyawan guild yang ikut serta mengamati kami.


"cihh bosan" ucapku kepada dust


"senior Felix , aku lapar" ucap dust.


"tahanlah!,... sebentar lagi juga sampai " ucapku.


saat itu kami mengambil rute kanan karena menurut informasi yang di dapat bahwa rute itu yang paling aman dan biasa di lewati oleh gerobak pedagang.


tugas yang kami Terima merupakan tugas yang paling mudah karena kami cuma memasok makanan untuk regu penyerang,


dan oleh sebab itu kami di tempat kan di sini.


.....


malam makin larut di temani oleh gugusan bintang yang indah.


perjalanan kami di terangi oleh cahaya redup dari ketiga bulan yang mengorbit di planet ini.


(sungguh malam yang indah) pikirku.


suara sepatu kuda terdengar berirama memecah keheningan malam.


saat ini aku dan dust sedang berada di barisan para mengawal yang ada di belakang kereta kuda .


di sana terdengar beberapa pengawal yang mengeluh karena telah berjalan seharian tanpa istirahat.

__ADS_1


" uhh men, apakah cuman aku yang merasa di permainkan, " ucap seorang pengawal.


" yahh... mungkin bukan hanya kamu yang merasa seperti itu" ucap rekan dari pengawal itu.


" berhentilah mencibir bangsawan!!. kamu akan mendapatkan masalah bila mereka mendengarnya."


ucap rekan-rekan yang ada di samping nya.


" cih!, tenang saja, ...para bangsawan itu sedang tertidur nyenyak di kereta bayi mereka" timpal seorang pengawal.


saat itu beberapa pengawal terlihat tertawa terbahak-bahak sambil menyindir para bangsawan.


..


beberapa jam kemudian...


dust dan para pengawal terlihat sudah sangat kelelahan karena perjalanan ini, mereka terlihat berjalan dengan sempoyongan karena menahan rasa kantuk di matanya.


saat itu aku berinisiatif menyeduh kan segelas kopi untuk mereka, aku berjalan ke depan kereta kuda milik guild petualang untuk meminta air panas.


tapi tiba-tiba terdengar sebuah berdebatan.


"kapten kita harus berhenti secepatnya." ucap anggota guild.


"tapi kita hampir sampai" ucap kapten kesatria.


" pokoknya kita harus berhenti!!!, perjalanan malam itu sangat berbahaya!" ucap anggota guild dengan nada marah.


" akulah kaptennya di sini, jadi kamu harus mendengar kan perintahku, " ucap kapten kesatria.


"tapi lihatlah mereka,.. mereka terlihat sangat kelelahan. " ucap anggota guild.


" jangan banyak bicara, kamu tidak memiliki wewenang dalam ekspedisi ini,.. lagian mereka mendapatkan bayaran yang setimpal." ucap kapten kesatria.


setelah mendengar perdebatan itu, aku mengurungkan niatku untuk meminta air dan kembali ke Barisan belakang.


sesampainya di belakang Barisan, aku di tanyai oleh beberapa pengawal seperti , "dari mana saja kau" "apa yang tadi kamu lakukan" tanya mereka.


saat itu aku menjawab bahwa aku hendak meminta air panas tapi tidak ada.


kemudian mereka tertawa sambil berkata "untuk apa air panas di tengah malam seperti ini?.. apakah engkau hendak mandi "


saat itu aku menjawab


" aku ingin menyeduh sebuah obat agar kita tetap terjaga. "


ketika itu pula mereka tertegun dengan ucapanku,


beberapa dari mereka tertegun karena sudah mencemoohku dan ada pula yang menawarkan bantuan.


beberapa orang baik dari pengawal itu membantuku. mereka mengambilkan sebuah panci dari dalam kereta angkut lalu memanaskannya dengan sihir api.


setelah itu aku menyeduh sepanci kopi hitam dan membagikan_nya kepada mereka yang ada di Barisan Belakang.


"maafkan aku nak!, aku tadi cuma bercanda " ucap seseorang pengawal yang tadi mencemoohku


"maafkan kami karena kami terbawa emosi...karena kami sangat kelelahan dan belum mendapatkan istirahat." ucap para pengawal sambil menepuk-nepuk pundakku.


" yahh tapi tolong jangan di ulang lagi" ucapku sambil tersenyum.


saat itu kami semua mengobrol sambil berjalan dan ada beberapa orang dari mereka yang membagikan bekalnya selepas melihat apa yang aku lakukan.


.....


kami larut dalam obrolan,


aku menjadi makin akrab dengan mereka,


mereka semua menceritakan kisah hidup_nya seperti, kisah rumah tangga, cerita tentang anaknya dan beberapa cerita yang sedikit sensitif untuk di ceritakan seperti cerita Kebengisan para bangsawan. dan beberapa cerita kebusukan tentang kerajaan.


(yaahh itu cerita umum untuk mereka) pikirku sambil memikirkan seberapa kerasnya hidup yang mereka jalani.


saat itu..


jalanan yang kami tempuh makin berkabut, seakan berjalan tanpa tujuan.


hutan di kedua sisi kami terlihat sangat gelap gulita. dan suara-suara hewan buas terdengar dari dalam sana.


roar!! karaa!!


saat itu, seluruh regu telah bersiap dengan senjata mereka tatkala mendengar suara raungan hewan Buas itu yang makin keras dan keras.


suara itu seperti sebuah suara pertarungan antara hewan Buas,


saat itu terdengar suara puluhan pohon roboh dari dalam hutan.


trak! tak! tak! tak! kreeek !! krek! krek! boom! brakk!. braak!


(" suara apa itu?") bisikku kepada pengawal.


(suutt!! jangan bersuara, mungkin itu hanya pohon tumbang ") bisik pengawal


tapi anehnya suara pohon tumbang itu terasa seperti semakin dekat dan terdengar pula suara langkah kaki yang begitu berat sampai sampai mengguncang tanah yang sedang kami injak.


doom!! pralak!! doom!! pralak!! doom!! pralak!!..


tanah yang kami injak terasa bergetar. suara pohon tumbang dan langkah kaki itu terdengar seperti mengikuti kami.


saat itu, seluruh orang yang masih bangun menjadi panik. langkah kaki kami kian cepat.


"semuanya cepat lari!! " teriak kapten kesatria.


saat itu.


suara itu makin keras terdengar, seakan mengejar kami dari belakang.


doom! doom! doom!. doom!


ia mengejar kami dari jalur belakang, dan saat itu kami tidak tahu sosok seperti apa yang mengejar kami itu.


"hey apa itu" ucapku bertanya kepada pengawal.


"entahlah, pokoknya cepat lari" ucap mereka.


" dasar penakut! " ucapku. sambil merebut sebuah obor dari salah seorang pengawal yang ada di depanku. kemudian aku mengambil ancang-ancang lalu melemparkan obor itu kearah makhluk yang ada di belakang kami.


"wossh " sebuah obor melayang,

__ADS_1


seluruh orang yang ada dibelakang melihat aksiku, obor itu terbang di antara sepasang kaki besar dan mendarat di tanah.


"hey!!! kamu melihat itu! " teriak para pengawal dengan expresi gelisah.


" bu, bu, bukannya itu sangat besar. " teriak mereka.


"apapun itu cepat lari, karena kita tidak mungkin menang melawannya" teriak kapten kesatria.


"kami berlari sekuat tenaga karena kamu sadar akan batasan kami,


setelah beberapa waktu berlari.


suara itu terdengar semakin jauh, seluruh anggota regu terlihat menghela napas karena masih dapat selamat dari raksasa itu.


" uhh men! sungguh menegangkan "ucap mereka.


saat itu tiba-tiba terlihat sebuah tangan raksasa yang menggapai sebuah gerobak kuda yang berisi suplay makan.


" wosh" kereta suplay itu terangkat


" i i itu! orge! "teriak seorang pengawal.


" kenapa ia bisa ada di jalur sini" ucap seorang pengawal.


" bukannya itu terlalu besar! " ucap seorang pengawal.


"kapten apa yang harus kita lakukan" teriak mereka.


"aku yang akan ambil komando, jangan coba menyerangnya" teriak anggota guild.


saat itu seluruh orang menjadi diam sambil mematikan obor mereka.


"(ehh kenapa kita tidak melawan nya.) bisikku kepada pengawal yang ada di sampingku.


" (jangan mencoba untuk melawan nya, karena bila seekor orge marah, ia bisa saja menghancurkan seperempat kerajaan. )" bisik pengawal.


"(lalu kenapa kita diam saja ) ucapku.


"( karena orge monster yang paling bodoh dan jarang ada kasus serangan yang di sebabkan oleh orge, tapi bila kita mengusiknya ia akan menyerang balik, oleh karena itu kita akan memanfaatkan kesempatan itu lalu kabur sebelum ia menyadari nya." bisik pengawal.


saat itu kami semua berjalan mengendap-endap sambil menyaksikan seekor orge raksasa yang sedang mencoba untuk membongkar suplay makanan.


awalnya rencana kami berhasil tapi ketika itu terdengar suara langkah kaki raksasa yang dari tadi mengejar kami.


suara itu kini berada di belakang kami dan saat itu kami sadar.


"bukannya itu orge?, kenapa mereka berkelompok" ucap mereka,


"Hati-hati yang ini bukan orge biasa, melainkan spesies orge gunung. " ucap anggota guild.


"kenapa ia bisa ada di sini? " tanya mereka.


saat itu, orge itu menggapai gerobak suplay makanan yang ada di depan kami, kami tidak bisa melarangnya karena kami takut akan terjadi pertarungan, yang akan memakan banyak korban jiwa.


"sepertinya di gunung sudah tidak ada hewan untuk di buru, sekarang kita akan melanjutkan rencana yang tadi " teriak anggota guild.


" tidak bisa, pokoknya jangan pergi sebelum kalian merebut kembali suplay makan itu " teriak seorang anak lelaki dari dalam kereta kuda.


"break, " suara seseorang yang menendang pintu, orang itu adalah anak bangsawan yang menyaksikan orge dari balik jendela nya.


"ehh tapi! " teriak pengawal dengan nada tersentak karena perintah yang mustahil itu.


" aku tidak mau tau, pokoknya kalian harus merebut suplay makan itu karena di sana ada makanan kesukaan ku"


"ehh tapi tidak mungkin kami menang melawan nya" ucap para pengawal.


"dasar kalian semua lemah!!,,, saksikanlah kehebatan sihirku" ucap anak lelaki dari dalam kereta,


ia mengeluarkan tongkat sihirnya lalu menembakkan fire ball ke arah wajah dari orge gunung.


"wooost brook"


bola api itu membakar wajah orge gunung, orge gunung yang tadinya netral kini marah sambil menatap kami.


"yuhu kena!,, sekarang aku telah melemahkan nya,.. kalian cepat serang raksasa itu karena ia sudah aku lemahkan, " teriak girang seorang anak dari dalam kereta.


"dasar bodoh!..., setelah ini guild petualang akan menurunkan peringkat mu!,...semuanya cepat lari dengan seluruh kemampuan kalian " ucap anggota guild.


saat itu seluruh orang menjadi kalap berlari dengan seluruh tenaga mereka.


anak lelaki itu terus saja mencaci_maki seluruh orang yang berlari, ia seakan merasa dirinya yang paling hebat.


"dasar pembuat onar " ucapku.


monster itu menjadi murka, ia mecabut pohon yang ada di sekeliling nya lalu memukulkan_nya ke arah kami.


"wostt!! brukk" cratt " cratt "


beberapa orang tertimpa log kayu, tubuh mereka remuk seketika, darah mereka bertebaran di udara.


" senior felix aku takut!," teriak dust.


"kalau kamu takut, jangan coba untuk melihat nya ," ucapku.


saat itu sebuah pukulan batang kayu melesat di samping dust,


wostt!" brook!" cratt!" , orang di samping_nya mati dengan cara yang mengenaskan, darah nya menciprat ke arah wajah dust.


dust terlihat putus asa akan kematian itu, ia terlihat berlari dengan tatapan kosong di matanya.


entah kenapa aku tidak merasakan sedikitpun rasa takut ,lantas aku terus mengamati pergerakan monster itu sambil berlari.


saat itu monster yang ada di samping juga ikut menyerang , ia mengepalkan tangannya dan memukul kereta kuda yang jauh di depan kami.


wostt!! brukk!! krakk !!. potongan kayu bertebaran.


aku bingung untuk berlari kemana karena di depan kami ada orge yang siap memukul kami, sedangkan di belakang kami sudah ada orge gunung yg telah siap dengan batang pohonnya.


....


saat itu aku melihat sebuah pukulan yang mengarah ke arah kami berdua,


" dust awas!! " ucapku sambil menarik tangan dust ke arah hutan.


"wostt prak, uuhh"


pukulan batang kayu itu mengenai salah satu kakiku, kayu itu remuk dan tanah di sekitarnya terbelah, tapi untung_nya kami berhasil menghindar ke arah hutan.

__ADS_1


"sialan!!..ini sakit " ucapku sambil memegang kaki kananku yang terlihat agak bengkok.


saat ini, puluhan anggota kami di bantai bagaikan kebiri yang di kejar serigala.


__ADS_2