Rising Isekai Apocalypse

Rising Isekai Apocalypse
Chapter 64, Sebuah harapan, Eva.


__ADS_3

Di padang pasir yang ada di dekat Markas Accretia.


arus badai telah berhenti dan di gantikan oleh sunset yang indah.


Sebuah kemenangan telah kami dapatkan sepenuhnya, terbukti dari ambruknya sang Raksasa besi.


Musuh juga telah mundur dari langit kami, meninggalkan pasukannya yang ikut berlarian (kabur) menuju wilayah mereka.


Dari puluhan monitor raksasa yang ada di markas, menampilkan puluhan tempat, terlihat Marinka sedang membakar puing-puing pesawat musuh menggunakan penyembur api.


Regunya juga terpencar di berbagai area sekitar, sambil membereskan sisa kekacauan.


Penyergapan juga di lakukan oleh regu Darat, mereka melemparkan sejumlah granat ke dalam tempat persembunyian musuh.


Di bawah perintah Marinka,


beberapa gadis terlihat merangsak masuk ke dalam istana yang ada di atas tubuh golem raksasa.


mereka juga menjarah apa saja yang mereka temukan. lalu menghabisi beberapa penjaga yang masih hidup, dan menarik mayat Raja Odes sebagai bukti kemenangan.


mereka terlihat menangkap beberapa Draft sebagai tawanan, lalu memberi mereka isyarat agar membawa seluruh korban dan mayat dari wilayah Accretia.


Para Kurcaci amatir terlihat bekerja dengan terpontang-panting di bawah terik matahari. ekspresi mereka penuh rasa ketakutan.


mayat di kumpulkan di dalam kontainer yang ada di atas kapal kaleng yang baru di rakit. Sisa musuh yang selamat mendapatkan perintah untuk mengumpulkannya, bagi mereka yang melawan akan di tembak di tempat.


Para gadis itu, tidak membiarkan seorangpun kabur sambil membawa harta benda mereka.


"tidak ada celah untukmu sialan! " ucap Marinka.


sfx ".boom, crakk! " suara dari pistol Marinka yang menabrak sesuatu.


Marinka menembak kepala seorang Draft yang kedapatan sedang menyembunyikan sekantong koin emas di sakunya.


Tingkahnya yang kejam makin membuat musuh menjadi tidak berdaya, mereka semua ketakutan sambil menjatuhkan apapun yang mereka sembunyikan.


Mereka lalu bersujud seakan meminta pengampunan.


"cih!" (Marinka meludah ke arah mereka yang bersujud) " dasar pejuang rendahan!" ucap Marinka sambil merendahkan harga diri musuh.


"dasar AMATIR!!... ," ucap beberapa gadis.


"kemana hilangnya kebanggaan kalian sebagai prajurit... hah! " ucap beberapa gadis yang ikut bersama Marinka. mereka mengolok-olok sambil menodongkan senjata.


Mental prajurit Draft telah hancur sepenuhnya, Marinka lalu memberi mereka isyarat agar bekerja lebih cepat.


pasukan musuh yang ketakutan, terlihat bekerja sekuat tenaga. mereka tergesa-gesa dan berhasil menyelesaikan pembersihan dalam waktu beberapa jam.


.


.


langit mulia redup menandakan datangnya malam.


para tawanan terlihat sangat kelelahan setelah melakukan puluhan pekerjaan.


raut wajah tawanan terlihat putus asa seakan kehilangan jiwa mereka.

__ADS_1


Setelah membereskan kekacauan itu,


Marinka memaksa seluruh tawanan untuk naik ke atas kapal kaleng. ia lalu mengangkut kapal itu dan membuangnya di pesisir pantai.


Marinka melakukan hal itu, karena wilayah musuh berada jauh di seberang lautan.


"kalau kalian mau balas dendam. kembalilah ke sini dengan lebih banyak harta yang kalian bawa!, sialan!. " teriak Marinka.


Para Draft yang telah menerima isyarat, mulai mendayung menjauhi pantai, mereka di bekali sedikit persediaan makanan dan kontainer berisi korban.


"Sister! ayo kita pulang!" ucap Erika.


"yah... semuanya!, ayo kita pulang!" teriak Marinka sambil mengajak seluruh rekannya.


Di tempat lain....


Terlihat Admiral Felix sedang bersembunyi dari sesuatu, entah dari apa.


tapi ekspresi wajah Admiral, terlihat sangat tertekan.


("mereka semua menakutkan!, meski manis luarnya") gumam admiral, ketika mengingat kejadian tadi.


awalnya obrolan itu berlangsung dengan tenang dan damai, seperti obrolan pada umumnya.


tapi ketika obrolan semakin dalam, Admiral merasakan hasrat pembunuh yang sangat tinggi, terpancar dari mereka.


Dendam dan amarah bergejolak di antara mata mereka. Hasrat yang menggebu-gebu terdengar dari perkataan yang mereka ucapkan.


Mereka bagaikan kumpulan predator yang telah menandai sarang mangsanya.


waktu itu, terdengar suara seorang gadis memanggilku.


"Admiral!. disitu kamu rupanya.



Seorang gadis bernama Eva terlihat menatapku dengan ekspresi kebingungan.


"apa yang anda lakukan di tempat seperti ini?..." ucap Eva sambil duduk di sampingku.


"aku sedang mendinginkan kepalaku" ucap felix.


" Eh... di tempat seperti ini?" ucap Eva.


"memangnya kenapa?... apakah tidak boleh?" ucap Felix.


"seharusnya sekarang anda di rawat!... tapi... apakah anda marah?." ucap Eva.


"tidak! " ucap Felix.


"Apakah ada yang mengganggumu?... tolong jelaskan padaku?" ucap Eva sambil membujuk.


" tidak mau!" ucap Felix.


"aku berjanji tidak akan membocorkan-nya" ucap Eva, ia terlihat memelas dengan ekspresi wajah imut.


"uhh... baiklah. asal kamu bersumpah untuk tidak membicarakan-nya kepada yang lain" ucapku. karena aku tidak tahan dengan tatapan imut Eva.

__ADS_1


"iya, saya bersumpah!. dan tidak ada yang lebih bisa kamu andalkan selain aku di sini" ucap Eva dengan penuh perhatian.


"baiklah...(kemudian aku menceritakan dan menanyakan tentang mereka kepada Eva.)


waktu itu Eva terlihat mengangguk seakan mengerti, lalu ia berkata.


"anda mungkin lupa tapi, itulah jati diri mereka... meski begitu mereka tidak jahat dan anda juga harus terbiasa dengan hal itu Admiral" ucap Eva


"tapi rasanya tidak wajar bila ada sekelompok wanita yang berkumpul dan membicarakan tentang pertempuran atau pembalasan" ucap Felix.


"hihi, anda terlihat lucu ad-mi-ral" ucap Eva sambil tersenyum manis.


"apakah perkataanku salah?... bukannya wanita pada umumnya membicarakan tentang style, makan, dan shoping" ucapku dengan ekspresi heran.


"hihihi... perkataanmu tidak sepenuhnya salah. tapi asal anda tau saja, kami tidak memiliki banyak waktu untuk memikirkan hal yang tidak berguna seperti itu Admiral. sebab kami terbiasa di medan perang dan lebih mementingkan kelangsungan hidup kelompok kami.." ucap Eva.


Eva terlihat bersandar di pundakku dengan ekspresi malu, lalu ia melanjutkan penjelasannya.


"Sebetulnya, kami kurang didikan moral untuk menjadi seorang wanita yang anggun, sebab kami semua sudah tidak memiliki orang tua yang mendidik kami...." (Eva terlihat sedih) " tapi di sini, kami semua bagaikan keluarga besar... jadi kalau ada keluhan, tolong ceritakan saja pada kami dan biarkan kami berubah ke arah yang lebih baik " ucap Eva sambil kembali tersenyum dengan penuh semangat.


"apakah itu benar " ucapku, sambil mencoba memahami.


" yah... tentu" ucap Eva.


(" uhh, apa yang sebenarnya telah aku lakukan!... aku seharusnya tidak menjauhi mereka, sebab karena adanya bantuan dari mereka, aku bisa menang di pertempuran kali ini") gumamku dengan penuh penyesalan.


Eva terlihat tersenyum ke arahku yang sedang bergumam sendirian, ia kemudian menyerahkan sebuah papan hologram yang berisikan list item.


"Admiral, coba lihat ini." ucap Eva sambil menyerahkan daftar itu.


"ehh... daftar apa ini?" ucapku sambil melihat sebuah papan hologram.


Di sana bertuliskan berbagai daftar bahan makanan seperti, gula, garam, rempah-rempah, dan lainnya.


Di papan hologram itu menunjukkan angka dan jumlah yang sangat fantastis,


(" gula 1000kg, lalu garam") gumamku sambil membaca.


"Eva!, daftar apa ini?" ucapku, bertanya dengan heran.


"Itu anu... tadi sebelum kesini aku mengecek gudang makanan dan di sana terlihat sangat kosong" (Eva menjelaskan dengan tingkahnya.) " anda pasti tau, kita tidak bisa melakukan pesta meriah tanpa makanan yang enak!, dan anda juga sudah berjanji! " ucap Eva sambil merayu admiral agar ia mau..


"lalu apa yang harus aku lakukan" ucapku pura-pura tidak mengerti.


"ini tugas anda untuk mengisinya!.. dan ayok kita berbisnis" ucap Eva.


Eva terlihat bersemangat ketika berbicara tentang bisnis, aura matanya terlihat membara.


("ternyata dia ada maunya, hehe, tapi sulit sekali menolak senyum dan ajakan dari gadis semanis Eva") gumamku.


" baiklah!, besok kita akan mengunjungi perkampungan Elf dan berbelanja di sana" ucapku, sambil tersenyum, menatap tingkah Eva.


.......


Ekstrak.




__ADS_1


__ADS_2