
Di dalam sebuah Tenda besar, di tengah Benteng kayu.
Ketika itu, beberapa orang meminta penjelasan, tentang insiden pada malam itu.
Akupun menceritakan secara rinci, kronologi kejadian itu, di bantu oleh jenifer sebagai saksi.
Aku menceritakan secara gamlang tentang anak itu, yang memulai serangan, tak lupa memberikan kotak suplay yang aku pungut.
Mereka (yang hadir di sana) , memintaku untuk menyerahkan seluruh kotak yang aku bawa, lantas aku menurutinya, kemudian mereka memberiku beberapa uang sebagai rasa terimakasih.
Setelah itu, obrolan kami berlanjut..
Mereka menceritakan padaku masalah yang mereka hadapi malam itu.
"Pada tengah malam, koloni Monster dengan perilaku yang aneh menyerang perkemahan kami, untungnya tidak ada korban jiwa pada kejadian itu" ucap seorang pria.
"Untungnya kita memiliki pahlawan yang telah membangun benteng ini dalam semalam " ucap Walikota sambil menepuk pundak Judit.
"Yahh,.. kita bersyukur karena Anda memiliki besan seorang pahlawan" ucap para hadirin sambil memuji Walikota.
"Apakah kalian tidak melakukan perlawanan" ucapku
"Kami melawan, tapi kejadian itu terjadi ketika kami sedang tidur, itu sangat kacau, pasukan kami belum bersiap sepenuhnya, bahkan sebagian dari kami tidak memakai armor, dan ketika itu, jumlah monster tidak terkendali. Koloni monster berhasil menembus pasukan Petarung dan mengincar para Mage dan Archer. Menyebabkan puluhan orang terluka, tapi untungnya tidak ada korban jiwa" tutur kata seorang pria.
...
kemudian obrolan kami di lanjut mengenai strategi yang akan kami gunakan.
Menurut seorang Komandan regu pengintai, puluhan monster itu, kembali ke dalam sebuah gua besar dan bersarang di sana. mereka (monster) memburu seluruh monster yang ada di daratan untuk mereka makan dan mereka akan aktif saat tengah malam.
strategi yang akan kami gunakan adalah menyegel sementara hutan sekeliling agar monster tidak bisa lari ke hutan, lalu mengarahkan kawanan menuju benteng ini untuk di habisi.
Kemudian kami menyusun dan menempatkan beberapa regu pasukan di beberapa tempat.
Saat itu, Aku mendapatkan tugas untuk melindungi Mage yang ada di sampingku, karena ia sendiri yang memintanya.
"Baiklah!,, bila itu keinginan mu" ucapku setuju.
kemudian rapat di tutup karena sudah jam 9 malam, lalu kami di beri waktu 2 jam untuk bersiap, sebelum tengah malam.
Saat itu, seluruh orang bubar dan kembali ke tendanya. saat aku hendak pergi seorang mage di sampingku menarik tanganku lalu berkata.
__ADS_1
"mampir yuk ke tenda kaka," ucapnya.
"ogah!, " ucapku sambil menolak, karena saat itu Vita meretas bola mataku. Ia mengirim pesan mengambang dengan nada yang marah.
"tapi dengarkan dulu! (menarik lenganku)... aku ada keperluan denganmu. " ucap gadis Mage.
"keperluan apa,? " ucapku.
"Ini menyangkut tentang Putri liciany, " ucapnya.
Saat itu, Aku diliputi rasa penasaran.("ada apa ini?.. apakah ia hendak berkata sesuatu yang penting) pikirku.
kemudian aku mengikuti ia ke tendanya.
di dalam tendanya aku melihat sebuah meja bundar dengan 4 buahkursi di setiap sisinya.
"duduklah di mana kau suka" ucapnya, kemudian aku duduk di sebuah kursi.
"Mau minum apa? " ucapnya.
"air putih yang panas dan sebuah sendok" ucapku, karena aku hendak menyeduh kopi.
"baiklah" ucapnya sambil menarik laci, lalu mengeluarkan sebuah gelas dan sendok. ia membaca mantra kemudian air panas keluar dari telapak tangannya.
"makasih" ucapku kemudian menyeduh kopi kapucino.
wanita itu membawa sebuah nampan dengan piring kosong di atasnya, ia mengeluarkan beberapa jenis buah dari item box, lalu menyuguhkan-nya di atas piring.
"Makanlah yang banyak.." ucapnya sambil duduk di sebelah kursi yang ada di depanku,
(Menyulut rokok). "Jadi, apa keperluanmu memanggilku ke sini?," ucapku dengan ekspresi serius.
"Santailah.... perkenalkan namaku Garbera jefirriz, panggil saja aku Riz, " ucap wanita itu.
"oke,.. perkenalkan juga, namaku Felixia amstor. aku seorang petualang bisa, " ucapku.
"Baiklah tuan pahlawan biasa,.. salam kenal" ucapnya.
"ehh(tersentak) aku bukan pahlawan" ucapku.
"tapi mataku tidak pernah salah" ucap Riz dengan ekspresi serius.
__ADS_1
"hahaha... aku hanya seorang pahlawan yang tidak memiliki mana!, apa yang kau perlukan dariku." ucapku sambil tersenyum.
"kau mungkin tidak memiliki mana, tapi kau seorang monster! " ucap Riz dengan espresi serius.
"ehh(kembali tersentak)hahaha... dari mana kau tau?....mungkin saja penglihatanmu bermasalah" ucapku.
"tidak mungkin!,... aku tidak pernah salah melihat kualitas, karena aku memiliki mata appraisal" ucap Riz dengan ekspresi tegas.
"terserah kau saja. " ucapku dengan ekspresi tidak peduli.
Kemudian, Mage Riz meminum tehnya, dengan santai kemudian berkata. "lalu, apa hubunganmu dengan Putri Liciany." ucapnya.
"aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya" ucapku, karena putri Lily pernah berpesan agar aku tidak memberi tahu siapapun tenang hubungan kita.
"Oke, apakah kau bawahannya?," ucapnya.
"bukan" ucapku.
"apakah kau pengawalnya? " ucapnya.
"bukan" ucapku.
"lalu apakah kau sekutunya? " ucapnya.
"Bukan" ucapku.
"ohh begitu, lalu apakah kamu mau membantuku?" ucap Mage Riz sambil mengeluarkan sekantong uang.
"membantu apa? " ucapku dengan expresi penasaran.
"hehe(tersenyum) Ini bayaran untukmu, tolong singkirkan putri Liciany" ucap Mage Riz sambil tersenyum, Ia mengeluarkan sekantung besar koin emas dan menyodorkan nya padaku.
"Bagaimana?...mau apa tidak?" ucap Mage Riz sambil berjalan ke arahku.
Saat itu, aku diam karena aku bingung harus berkata apa, aku mendapatkan tugas untuk tutup mulut soal hubungan (aku dan Putri Lily).
"Bagaimana?... apakah kamu mau?(membelai pipiku).kalau kamu berhasil menyingkirkan nya, aku akan memberikanmu, sebuah malam yang tidak mungkin kau lupakan! " ucap Mage Riz sambil menggodaku, ia menarik wajahku ke arah wajahnya.
("sialan! [memalingkan mata] Vita masih meretas meretas mataku, ia sekarang pasti sedang menyaksikan kejadian ini di markas ") pikirku.
" bagaimana?... apakah kamu bersedia? " ucap Riz sambil menatap mataku.
__ADS_1
----~~~>>