
Di dalam desa yang terletak di tengah hutan, terlihat beberapa orang sedang berkumpul.
saat itu, suasananya terasa cukup mencekam.
orang-orang itu terlihat saling menodongkan senjatanya, sambil saling menatap dengan ekspresi penuh kecurigaan.
"apa tujuanmu datang ke wilayah kami?" ucap seorang elf yang menggunakan pakaian kamuflase.
"santailah, kami hanya mau lewat" ucapku dengan nada tenang.
"Bohong!! (membentak) pastinya kalian adalah mata-mata dari Kerajaan manusia! " teriak elf.
"beraninya kau sialan!" ucap eva dengan ekspresi tidak Terima, Eva terlihat hendak menebas elf itu menggunakan pedangnya, tapi aku memberikan kode untuk menahan amarah.
"dasar!.., apa buktinya kalau kami mata-mata" ucapku dengan nada tenang.
elf itu terdiam setelah mendengar perkataan-ku, dia terlihat berpikir sejenak sebelum berkata.
"kamu itu ras manusia!,. pastinya kamu bersekongkol dengan manusia lain!" ucap elf itu dengan ekspresi bingung.
aku dengan lantang berkata.
"aku menanyakan bukti, bukan yang lain... lalu apa kamu pikir, aku adalah seorang manusia" ucapku sambil menoleh ke arah Sekumpulan penduduk elf.
para penduduk terlihat kebingungan sambil menatap bagian tubuhku, mereka terlihat berpikir sambil mengamati susunan logam yang ada di tubuhku.
"tapi kamu manusia!.. lihatlah wajahmu yang sangat mirip ras itu," ucap elf pengintai karena ia tidak punya bukti yang pasti.
kemudian aku melakukan pembelaan sambil berusaha memojokkan elf itu.
"kalau kamu menyamakan aku dengan manusia, sejujurnya, kamu juga mirip manusia. kalau tidak percaya lihatlah tubuhmu sendiri" ucapku.
"dasar!.. apakah kamu menyamakan-ku dengan manusia... apakah kamu tidak bisa membedakan fisikku dengan ras itu" ucap elf itu dengan ekspresi tidak Terima.
aku kembali melakukan pembelaan sambil memutar balikkan fakta dari perkataan elf itu.
"Sebetulnya perkataan-mu juga berlaku untukku, lihatlah tubuhku, apakah aku mirip manusia." ucapku sambil berjalan mendekat ke arah para elf pengintai.
mendengar ucapan-ku beberapa warga elf terlihat percaya dengan apa yang aku ucapkan. beberapa warga terlihat mencoba menghentikan pertikaian antara kedua kubu.
saat itu, seorang elf yang berjanggut panjang terlihat berjalan ke depan kami sambil mengangkat kedua tangannya.
"sudah cukup... kalian berdua, cepat sarungkan senjata kalian!, " ucap elf tua berjanggut panjang yang ada di depan kami.
"tapi kepala desa... aku melihat ia datang dari arah kerajaan manusia" ucap elf pengintai.
"apapun masalahnya, tidak baik bila harus berdebat sambil mengacungkan senjata!... sekarang kalian cepat sarungkan senjata kalian" ucap kepala desa.
setelah mendengar ucapan kepala desa, aku memerintahkan marinka dan eva untuk menyarung-kan senjata mereka.
setelah itu aku mengajak mereka berdua agar tetap berada di sisiku, karena aku takut mereka akan memulai kekacauan.
__ADS_1
kedua kubu terlihat menyimpan senjata mereka. saat itu beberapa warga terlihat menyiapkan sebuah meja besar dan menghiasinya dengan beberapa hidangan buah.
"duduklah... ayo kita selesaikan masalah ini dengan cara yang baik" ucap kepala desa elf sambil duduk di sebuah kursi.
"terimakasih, eva, marinka, ayo duduk di sampingku" ucapku lalu duduk.
"oke, tapi aku tidak mengerti apa yang mereka katakan." ucap Eva, ia kemudian menatap hidangan yang ada di depan kami dengan ekspresi lapar.
"kamu tidak mengerti.. baiklah, nanti akan aku ceritakan. sekarang duduk!" ucapku.
kami duduk sambil saling berhadapan. ketiga pengintai itu duduk di depanku, lalu di samping meja ada seorang kepala desa yang sudah tua.
"makanlah.. kamu sudah di anggap tamu di desaku" ucap kepala desa.
"tapi kepala desa!, ia datang dari arah kerajaan manusia" ucap seorang elf mengintai.
"lalu, apa tujuan sebenarnya kalian datang ke wilayah kami?" ucap elf pengintai.
"kami hanya lewat dan secara tidak sengaja, kami melihat ada desa yang di serang. jadi kami memutuskan untuk menolong" ucapku.
setelah beberapa waktu berlalu, pertanyaan itu berubah menjadi sebuah perdebatan..
perdebatan ini berlangsung begitu alot karena waktu itu pihak dari elf pengintai memberikan tuduhan yang tidak mendasar. aku juga melakukan pembelaan karena pihak mereka tidak punya bukti yang pasti.
elf pengintai terus melontarkan pertanyaan yang sama padaku, tapi aku terus menjawabnya dengan jawaban yang sama.
tapi saat itu aku tidak memperdulikan ucapannya, aku mengambil buah yang ada di depanku lalu menyuapkan-nya ke mulut eva.
"admiral, mau rokok? " ucap marinka sambil menyodorkan sebatang rokok ke mulutku.
aku menghisap sebatang rokok itu sambil di menyalakan oleh marinka.
seketika, elf pengintai itu terlihat marah sambil membentak "apakah kalian mendengarkan yang aku katakan!" ucapnya dengan nada marah.
mendengar bentakan itu, eva terlihat meremas buah yang ada di tangannya sampai hancur berkeping-keping.
"beginikah cara kalian menyambut tamu!" ucapku. sambil memeluk eva yang mulai terpancing amarahnya.
suasana kembali memanas. aku menatap para pengintai itu dengan ekspresi wajah mengintimidasi.
"aku sudah bosan menjawab pertanyaan yang sama. kalau aku memang berniat membinasakan kalian, maka dari tadi sudah aku lakukan" ucapku dengan ekspresi menantang.
secara mengejutkan, kedua dari anggota elf pengintai itu terlihat menutup mulut dari rekannya, lalu mereka meminta maaf.
"maafkan kami!, ini tidak seperti yang anda pikirkan" ucap anggota yang lain.
"yah, tapi kami tidak suka di perlakukan layaknya pencuri" ucapku, dengan ekspresi dingin.
"maafkan temanku.. dia tidak bermaksud menyinggung, tapi dia hanya terbawa suasana saat melihat manusia" ucap anggota dari elf pengintai.
"lalu?... memangnya ada apa? " ucapku bertanya.
__ADS_1
" belum lama ini ayahnya terbunuh oleh ras manusia." ucap anggota elf.
"sekali lagi maafkan kami, kami terpaksa melakukan ini. karena saat ini wilayah kami sedang tidak aman" ucap anggota elf yang lain.
mendengar itu aku tertegun sambil melamun. aku baru tau situasi yang mereka alami, dan aku harusnya lebih terbuka saat menjawab.
"baiklah, aku maafkan... lalu apa yang kalian butuhkan dariku?." ucap Felix.
"kami hanya membutuhkan konfirmasi dari anda... dari mana anda berasal, dan apa yang anda lakukan di wilayah manusia" ucap pengintai elf.
"ohh itu... aku berasal dari gurun pasir yang ada di utara, lalu kenapa aku ada di wilayah manusia?.. mungkin ceritanya bakal panjang" ucapku dengan ekspresi santai.
"panjang?.. kalau begitu, tolong jelaskan secara singkat" ucap anggota pengintai.
"jadi singkatnya, aku memiliki sedikit masalah dengan orang-orang yang ada di kastil" ucapku.
"masalah apa?.. apakah masalah perdagangan atau apa? " ucap anggota pengintai.
"masalah-nya cukup sepele. mereka tidak memperlakukanku dengan baik. lalu untuk beberapa alasan, aku terpaksa menghancurkan kastil itu" ucapku,
"menghancurkan kastil!!, ehh.. kenapa? " ucap mereka sambil tersentak dengan kompak.
"asal kamu tau, kini ras manusia menggunakan sihir terlarang terhadap warganya sendiri. lalu karena sebuah serangan monster, aku terpaksa menghancurkan segel yang ada di dalam kastil agar aku bisa menyelamatkan penduduk yang ada di sana" ucapku sambil meringkas kejadian yang ada.
"lalu apa buktinya kalau kamu menghancurkan kastil?" ucap anggota yang lain.
"bukti.., ini buktinya. ini luka yang aku Terima setelah bertempur beberapa hari." ucapku
beberapa elf terlihat seakan tidak percaya dengan apa yang telah aku ucapkan. beberapa anggota pengintai terlihat membuka perkamen yang mereka bawa.
"uhh... memang benar ada catatan pertempuran beberapa waktu lalu. tapi apa tujuanmu menyelamatkan manusia? " ucap anggota elf sambil melihat catatan yang di tulisan di atas sebuah perkamen kulit.
"aku tidak punya tujuan khusus. aku hanya kasihan pada mereka karena beberapa manusia telah menolongku. aku juga melihat bahwa, tidak semua manusia itu jahat" ucapku.
"apakah kamu bisa memegang ucapan-mu." ucap anggota pengintai elf.
------
interogasi itu berlangsung beberapa saat sebelum akhirnya terhenti oleh suara dari seseorang yang datang.
dari kejauhan terlihat seorang kesatria elf, ia terlihat menggunakan jirah kitin yang terkoyak, dan di penuhi oleh darah.
"apakah ada kawanan serigala yang lari ke arah kesini?" ucap elf kesatria, ia terlihat gelisah.
" ada! dan kami berhasil mengalahkan kawanan serigala itu" ucap anggota pengintai.
"baguslah..! tapi segera ungsikan para wanita dan anak-anak. dan siapkan para lelaki yang bisa bertarung" ucap kesatria elf dengan ekspresi gelisah.
"kapten... memangnya ada apa? " ucap anggota pengintai.
"ada masalah besar yang menuju kemari" ucap kesatria elf.
__ADS_1