Rising Isekai Apocalypse

Rising Isekai Apocalypse
Chapter 33


__ADS_3

Masih di benteng kayu.


aku menatap ke bawah, sambil menggenggam gagang pedang kamason.


seperti yang aku duga, monster itu tidak langsung mati, ia terlihat perlahan bangun dengan wajahnya yang hancur.


"awas!, itu hewan buruanku!" teriakku sambil melompat dari atas benteng langsung ke arah monster Manticore.


aku menarik pedang kamason dari sarungnya dan langsung menusuk kepala dari monster itu.


"Roar!!,, crakkk!! " monster itu meraung, meronta-ronta sambil menyerang ke segala arah, beberapa kesatria di sekeliling tubuhnya pergi menjauh sambil menghindari serangan.


aku mencabut kamason dari kepala Manticore lalu mengaktifkan skill dorongan kuat,


"Thrust!" ucapku.


sfx, crakkk!!


skill itu membuatku menusuk lebih dalam dan secara seketika membunuh monster itu.


monster terkulai lemah tanpa nyawa. sebilah pedang kamason kini berlumuran darah.


sekarang aku merasa sedikit risih, aku menjadi pusat perhatian dari para kesatria yang ada di sekelilingku, karena pedangku ini yang terbuat dari kristal dan memancarkan cahaya biru.


aku tidak tau harus berkata apa, aku takut salah tingkah, tapi untungnya aku pernah melihat adegan ini di suatu manga,


aku mengambil inisiatif untuk mengaktifkan skill dan berkata.


"War Cry! "(mengaktifkan skill) sambil mengangkat pedang kamason lalu sebuah cahaya merah terang bersinar dariku dan orang di sekeliling ku.


skill ini adalah skill pendukung yang mengaktifkan semangat perang dan menambah kerusakan dari serangan.


" Kemenangan di pihak kita!! " teriakku.


seketika, beberapa kesatria mengangkat pedangnya sambil mengikuti ucapanku.


"kemenangan di pihak kita!, kemenangan di pihak kita! " ucap para kesatria.


mereka mulai secara serentak mengikuti ucapanku, mereka (para kesatria di garis depan) dengan kompak meneriakkan "kemenangan di pihak kita! "


keraguan di dalam hati para kesatria berangsur-angsur menghilang, di gantikan oleh semangat perang dan sebuah harapan besar akan kemenangan.


melihat semangat itu, aku tersenyum sambil bergumam,(sepertinya ini tidak jauh berbeda dengan yang ada di dalam game, dan ini berhasil) pikirku.


Felix menunjukkan kemahirannya sebagai pemimpin perang (battle leader), ia memiliki segudang pengalaman, dan telah menikmati ratusan kemenangan sewaktu dalam perang (PvP), yang ada di dalam game.


felix membakar semangat para kesatria sampai pada tingkat mereka mau mendengarkan ucapannya.


...


Saat itu, aku mengamati sekeliling.


Aku melihat parit ini sudah penuh oleh bangkai monster, dan pagar berduri ini tidak akan sanggup menahan serangan dari gerombolan Manticore.

__ADS_1


Aku mengambil inisiatif, aku melompati pagar berduri dan langsung berlari ke arah Manticore yang sedang terpengaruh oleh racun pelumpuh.


"Felix! kembali ke barisan! .. jangan merusak formasi! " Teriak walikota dari atas menara pemanah.


"Apa kamu akan membiarkan mereka kembali sadar dan mengamuk!" Ucapku. Sambil menebas gerombolan monster yang menghalangi jalan.


"Kamu jangan membuat keputusan sendiri, dan Ikuti perintahku " Teriak walikota.


"Maafkan aku, aku bukan sok tau tapi lihatlah pagar itu,,, apakah pagar itu bisa menahan serangan dari keempat Manticore sekaligus?,,,saat ini para pemanah dan mage tengah sibuk oleh serangan kelelawar dan kini keempat monster itu sedang lumpuh,,, ini kesempatan kita,,, apakah anda akan menunggu mereka bangun dan mengamuk?," Teriakku sambil berlari ke arah seekor Manticore.


SFX "SLASH! SLASH! SLASH!.


Aku memberikan tiga serangan dan memotong anggota badan dari monster itu,


Aku memotong sayap sebelah kanan lalu di susul oleh kaki kanan depan dan belakang.


Manticore itu menoleh ke arahku sambil menusukan ekor kalajengking-nya ke tubuhku.


Sfx " Trakk! " Serangan itu tertahan oleh zirahku, aku kemudian aku menebas dan memotong ekor itu.


"Monster itu kembali meraung dengan nada yang berbeda seakan memerintah seluruh monster yang ada di dekatnya untuk menyerangku.


Saat itu, secara serentak monster meyerangku dari segala arah. Mereka melompat dan meng-gigit setiap bagian dari tubuhku.


(Aku mengaktifkan skill)" Tornado", aku memutarkan tubuhku sambil menebas, dan menciptakan serangan pedang yang memotong seluruh monster yang ada di sekelilingku.


Para monster terlempar dan mati, sebagian dari mereka terlihat berhati-hati sambil menjaga jarak, dan bersiap untuk menyerang.


Aku melihat jalur itu lebih padat dari tadi, para monster itu seakan membendung ku menggunakan tubuh mereka.


saat itu(Ehh, apakah ada yang salah) pikirku karena tower itu tidak mendengar perintahku dan hanya menembaki kelelawar yang ada di sekelilingnya.


(Aku lupa, aku tadi menyetelnya dalam mode otomatis,) pikirku,


Aku dengan segera merubah mode otomatis ke manual dari jarak jauh, aku juga memasangkan kamera botflay di belakang leherku untuk membantuku melihat dari belakang.


kamera itu seukuran flashdisk dan memiliki fort usb di belakangnya, aku memasang nya langsung ke dalam fort yang ada di belakang leherku


(Astaga, pusingnya) pikirku karena kamera botflay ini dapat melihat secara keseluruhan(kamera 360) .


Melihat sedikit celah, para monster kembali menyerang dari segala arah.


Saat itu, aku kembali mengaktifkan skill 'tornado' dan menyapu bersih mereka. Kemudian membereskan jalurku menggunakan tower penembak.


Tower penembak, melepaskan sepuluh roket bertipe api, membakar monster dan membuka jalan untukku. Tanpa menunggu lama aku langsung berlari menghampiri monster kedua.


Aku melakukan hal yang sama pada monster itu. Aku memotong sayap dan kakinya lalu memenggal ekornya. Tak lupa menghabisinya menggunakan roket.


Saat itu Judit terlihat iri olehku, ia mengangkat sebuah kain yang menutupi sesuatu dan di sana terlihat sebuah senjata buatannya.


kemudian Judit menembak monster yang ada di sekeliling Felix dan membersihkan jalurnya.


"Hahaha! " Lihatlah senjataku Felix". Teriak judit, ia tertawa sambil mengoperasikan senjatanya.

__ADS_1


Senjata itu adalah sebuah tower pemanah empat sisi yang dapat menembakan empat panah dalam satu putaran dan dapat memuntahkan 120 panah per-menit,


” Senjatamu bagus, kawan! " Ucapku sambil mengacungkan jempol.


"Tentu saja!, karena aku membuatnya dengan penuh semangat," Ucap judit.


"Judit, tolong simpan senjata itu, karena terlalu menghabiskan anak panah" ucap walikota.


"Ba' baiklah ayah menantu" Ucap judit dengan expresi wajah mengeluh.


(hehehe, jangan mengganggu buruanku dan turuti-lah perintah mertuamu, kalau kamu mau menjadi suami dari anaknya,) gumamku sambil tersenyum melihat mereka.


setelah beberapa jam...


tanpa ada perintah, beberapa kesatria menyusulku dari belakang.


mereka menerjang masuk ke arah monster dan menghampiriku dari belakang.


"hey nak!, kembali ke barisan." ucap komandan kesatria.


"tapi jumlah mereka tinggal sedikit." ucapku.


"jangan membantah!,..ini perintah dari walikota, kamu juga harus istirahat dan kami akan mengurus sisanya." ucap komandan kesatria.


saat itu beberapa kesatria berjalan ke arahku kemudian memegang tanganku sambil berusaha membawaku ke arah benteng yang ada di belakang.


Aku melihat pasukan itu begitu bersemangat. mereka tersenyum ke arahku dan terdengar beberapa orang berkata.


"kerja bagus nak!" ucap kesatria A


"lihat anak ini begitu berani, masa kita yang sejatinya veteran, kalah olehnya?, ucap kesatria tua.


" lihatlah nak!, aku juga tidak akan kalah darimu".ucap kesatria sombong.


para kesatria itu maju ke depan menggantikan_ku.


(pilihan yang bagus, lagian aku juga ingin menyimpan sisa roket ku) pikirku karena roketku tinggal tersisa setengah.


kemudian aku berjalan dan menaiki tangga menuju tempatku semestinya.


di sana walikota menyambut ku dengan senyuman.


"kerja bagus nak!, ucap walikota.


"senior, kamu di luar ekspektasi ku, " ucap Dust.


"sudah ku katakan, dia monster," ucap Riz.


"aku tidak menyangka bahwa kamu sekuat itu," ucap Judit.


saat itu jumlah monster hampir di tekan sepenuhnya. kini yang tersisa tinggal beberapa monster yang keluar dari goa.


unit-unit yang ada di benteng kini bisa bernafas lega, karena sudah tidak ada monster yang menyerang mereka.

__ADS_1


benteng terlihat berantakan oleh mayat dari monster yang berserakan. beberapa mage dan dan kesatria terlihat sibuk mengobati pasukan yang mengalami cidera.


tapi kemenangan mungkin ada di depan mata kami.


__ADS_2