Rising Isekai Apocalypse

Rising Isekai Apocalypse
Chapter : 61. Rise the power.


__ADS_3

Gemuruh badai berderu, menyapu bongkahan bata yang menempel pada struktur bangunan raksasa yang kini retak.


lahar merah seakan berkedip, di dalam kelamnya badai, membentuk nadi pada rangkaian baja. 'berderik' dan hidup.


sebuah raut wajah timbul dari retakan batu, sambil menatap ke-arah kami dengan tatapan tidak senang.


sebuah golem raksasa golem terlihat memikul sebuah intana di punggungnya,


golem itu perlahan bergerak. membidik-kan seluruh senjatanya ke arah pasukan accretia.


"inilah akhir dari hayatmu sialan! " teriak raja dari dalam ruang kendali, ia menatap tajam penuh kedengkian.


"hanya akulah penguasa langit di sini!... sekarang matilah! " gema sang raja sambil melepaskan puluhan serangannya ke arah pesawat hitam musuh.


"Boom! Boom! Boom! Boom! Boom! Boom! Boom! Boom! Boom! Boom! Boom!"


peledak di luncurkan dari dalam meriam baja, mencecar pesawat hitam yang terbang cepat dan menghancurkan apa saja yang menghalangi-nya.


'tapi bagaikan siluman',


pesawat hitam itu terbang lincah sambil menghindari seluruh serangan, seakan mempermainkan raja. sambil menyalip di antara pasukannya.


"kalian tidak becus!.," keluh sang raja, sebab ia tidak bisa menjatuhkan musuh yang menantang nya. temperamen-nya membuat ia kehilangan puluhan pasukan karena akibat dari pengeboman yang ia lakukan.


di sisi lain....


"kerja bagus Eva... tidak salah aku memilihmu" ucapku memuji.


Eva tidak menjawab dan memilih diam dengan wajahnya yang mulai merah.


"admiral!, aku juga sudah berusaha keras!" ucap Erika, sambil memasang ekspresi cemburu.


"ya!.. kamu juga hebat, " ucapku.


"lalu... bagaimana denganku?" ucap Sasha.


"kerjamu bagus!. tapi apakah ada masalah?" ucapku. bertanya pada Sasha.


"uhh, baiklah" ucap Sasha dengan ekspresi tidak puas...


Setelah beberapa jam terlewati...


pertempuran dahsyat dari kedua ras itu masih terus berlanjut..


kedua bangsa masih terus saling menghancurkan dan bertahan untuk mencapai kemenangan.


puluhan pesawat yang tak terhitung jumlahnya berjatuhan dari langit, menyisakan mereka yang tangguh.


Tapi kerusakan terbesar di rasakan oleh bangsa draft karena ulah dari Raja-nya yang tempramen. Ia menyebabkan anggotanya sendiri terkena serangan dari senjata miliknya.


waktu itu kami berdiskusi sambil berpikir tentang bagaimana caranya menjatuhkan raksasa terbang ini.


Monster baja dengan tinggi hampir 500 meter ini sedang mengamuk di hadapan kami. itu menyerang apa saja dan menjatuhkan beberapa pesawat accretia menggunakan serangannya yang mematikan.


Serangan yang kami lakukan juga tidak berdampak signifikan pada raksasa yang di balut baja ini, itu terasa curang.


('aku benci ini...)gumamku.


(' apa yang harus aku lakukan?...,) gumamku.


waktu itu, pola serangan yang sama kembali di lancarkan oleh sang raja draft.


ia kembali melemparkan puluhan peledak ke udara bagaikan tiada habisnya.


"perse-tan!... apakah ia tidak tau reload" ucap Sasha, ia menggerutu sambil menatap ke arah puluhan hologram monitor.


"diamlah!... kami juga kewalahan di sini! " Jawab Eva, karena ia yang mengendalikan pesawat tempur yang kami tumpangi.


"admiral!, kita akan kehabisan amunisi dalam lima putaran! " teriak Erika, ia terlihat mengeluh karena tembakan yang ia lakukan tidak dapat menembus tubuh golem baja.


tapi ketika itu, pandangan kami tertuju pada sebuah keajaiban.


"Sning!.. break! sebuah peluru melesat dari bawah dan berhasil menghancurkan wajah dari raksasa.


waktu itu aku melihat asal dari serangan.


aku melihat Marinka dari bawah sedang mengincar menggunakan Sniper pemberianku.


(itu jawabannya!... golem lemah terhadap 'dark porce' tapi aku membutuhkan serangan yang sepadan) gumamku, dengan wajah penuh semangat.


"Sasha!. segera lakukan siaran langsung ke markas" ucapku.


"eh!.. baik! " ucap Sasha.


kemudian siaran terhubung.


tanpa menunggu waktu lama aku langsung melontarkan ideku.


"Vita! apakah markas pusat memiliki senjata yang menggunakan Dark force" ucapku bertanya.


"ada beberapa. " Jawab Vita.


"aktifkan semuanya!, kita akan beralih pada rencanaku" ucapku.


"tapi nanti markas kita akan terekspos" ucap Vita.


"ini darurat!. sebab pasukanku akan kehabisan amunisi!" ucap felix.


"baik laksanakan!" ucap Vita.


"Marinka!. tinggalkan line dan isi persediaan amunisi kalian di markas" ucapku.

__ADS_1


Marinka menjawab"lalu siapa yang akan melakukan cover"


"ini perintah! " ucapku.


"baik" jawab Marinka.


"Vita, berapa sisa dari pasukan kita yang masih bisa bertempur. " ucapku.


" 50 unit!. Di antaranya: 30 ranpur dan: 20 unit terbang termasuk: 9 unit destroyer." jawab Vita sambil memberikan data.


"lalu berapa jumlah musuh? " ucapku.


"musuh kurang lebih tersisa: 210 termasuk Golem raksasa itu"


tanpa aku duga, ketika aku membahas rencanaku, ternyata sebuah serangan dari musuh berhasil membakar sisa senapan kami


Raja odes Menyeringai di balik ruangan kendalinya, sambil melihat perubahan susunan dari pasukan kami.


alarm peringatan berbunyi dari dalam kabin pesawat, memberikan tanda kerusakan yang di alami.


"Admiral, kita kehilangan senjata utama kita" ucap Sasha mengabarkan.


"ini berbahaya!, kita tidak bisa menyalip semua serangan yang datang" timpal Erika.


"bagaimana dengan peluncur alteleri? " ucapku.


"kita kehabisan roket untuk peluncur! " jawab Erika.


"sial!, kenapa harus terjadi sekarang sedangkan unit yang lain sedang mengisi senjata." timpal Erika dengan penuh amarah.


di tengah kebuntuan, aku mengambil sebuah keputusan sepihak.


aku beranjak dari tempat duduk dan bersiap untuk pergi.


"Sasha panggil beberapa unit destroyer untuk melindungi-ku, sebab aku akan pergi ke atas untuk mencoba memperbaiki persenjataan." ucapku.


"tapi admiral, di luar berbahaya!. " ucap mereka berempat.


"yah... tapi lebih berbahaya bila kita tidak memiliki senjata untuk bertahan" ucapku.


"cih... tapi jangan nekad" jawab Erika.


"hehe,(Sasha tersenyum. ia menarik sebuah koper yang ada di bawah meja monitornya.) 'bawalah perlengkapan-ku. karena ini akan sangat berguna" ucap Sasha.


tanpa menunggu lama aku langsung menarik koper itu dan pergi menaiki tangga yang menuju ke atas pesawat.


(aku tidak memiliki banyak waktu) pikirku. sambil merayap di atas pesawat tempur yang sedang terbang.


waktu itu,datang dua unit destroyer yang terbang di atasku, mereka melakukan cover untuk melindungi-ku.


"admiral!, apa yang kamu lakukan! " ucap Vita. suaranya bisa terdengar karena ia terkoneksi dengan unit destroyer.


"aku akan memperbaiki kerusakan pada persenjataan. lalu apakah persenjataan di markas sudah siap? " ucapku.


"baiklah... sekarang lakukan tugasmu" ucapku.


tak lama, aku telah sampai pada senjata yang di maksud.


Di sana terlihat sebuah Gatling-gun sebesar lima meter dengan ujung senapan yang terbakar dan laras yang remuk.


kemudian aku mencari dua di antara ketiga senjata mesin itu, tapi yang aku temukan hanyalah Gatling-gun dengan laras yang hancur sebab overheat.


(TL. penggunaan senjata yang berlebihan bisa merusak laras bahkan menghancurkannya)


("tak aku sangka, ternyata Erika bisa bertahan dengan senjata yang rusak ini")gumamku.


Saat itu aku langsung beralih untuk mengambil peralatan di dalam koper yang telah Sasha berikan. sebab aku tidak memiliki banyak waktu yang tersisa.


aku membuka koper besar di hadapanku, tapi bukan hanya perlengkapan yang aku temukan, tapi melainkan sebuah senjata kimia yang tidak asing di benakku.


(bukannya ini!!!..) gumamku sambil melihat senjata plasma.


Senjata plasma dengan gelar 'Day Interitus' kini tersimpan di dalam koper di hadapanku. itu terlihat canggih dengan tabung fusion berbentuk laras kaca.


meriam ini juga memiliki chamber bulat yang bisa menembakkan laser plasma dengan power yang konsisten dan penetrasi mutlak.


meriam plasma yang pernah menjadi sosok menakutkan bagi penggunaannya. sebab senjata ini dapat menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya dengan gelombang laser plasma yang mematikan, tapi senjata ini juga memiliki konsumsi daya yang amat tinggi hingga membuat penggunanya kewalahan dalam mengatur penggunaan daya, dan sangat rentan untuk menjadi sasaran musuh.


senjata ini juga terkenal sebab menyedot darah penggunanya bila dark force tidak terpenuhi.


(TL. dark force adalah kekuatan yang di gunakan bangsa accretia. konsepnya sama dengan mana pada sihir, tapi yang membedakannya adalah alat dan teknologi yang di gunakan)


tapi aku tidak di berikan pilih selain menggunakan senjata plasma ini.


(dasar Sasha sialan!.. kenapa ia mengambil senjata ini dari gudangku. dan bukannya memilih yang lain?) gumamku sambil memukul jidat.


sebab tak ada pilihan lain di waktu yang mendesak ini, terpaksa aku harus menggunakan senjata mematikan yang ada di hadapanku.


aku langsung mengambil kunci pass nya ada di dalam keranjang koper lalu secara paksa melepas Gatling-gun yang rusak ini.


aku melemparkan senjata yang terbakar itu dengan terburu-buru karena aku tidak memiliki banyak waktu, aku hanya memiliki beberapa detik yang tersisa untuk membendung serangan berikutnya.


"boom! Boom! Boom! " brak!! Boom! Boom! "


tanpa aku duga serangan berikut datang begitu cepat, menyebabkan kerusakan pada sebuah unit destroyer yang mengcoverku.


aku tidak di berikan sedikit pun celah, sebab mereka terus menghujani pesawatku dengan bahan peledak.


di dalam keadaan terdesak aku terus berusaha untuk menggabungkan senjata ini, tapi saat ini pula muncul puluhan peringatan


"BERBAHAYA!!!. TABUNG BISA MELEDAK!"

__ADS_1


"sial!!, senjata ini tidak mendukung untuk Pengaplikasian" ucapku sambil melihat mekanisme senjata plasma ini, yang mungkin akan meledak bila di paksa.


tapi hujan peledak ini terus berlanjut seakan tanpa henti dan memaksaku untuk kalah.


sfx "brakkk, BOOOM!"


sebuah unit destroyer meledak di atas-ku, sebab ia telah mengcounter seluruh serangan yang di tujukan ke arahku menggunakan tubuhnya.


unit itu memberikan penghormatan terakhir sebelum dirinya meluncur ke arah puluhan peledak yang berjatuhan, dan mengorbankan dirinya.


kejadian itu memicu sebuah ingatan buruk di dalam benakku.


sebuah ingatan di mana aku hampir kehilangan orang yang aku suka. ingatan saat aku hampir kehilangan sobatku yang paling aku percayai. ingatan di mana aku hampir kehilangan segalanya.


("aku tidak ingin hal itu terulang kembali, sebab ini keluargaku, tempat tinggal ku, aku tidak ingin seorangpun menghancurkan nya lagi".)


Tapi, rasa takut mulai menghantuiku.


aku takut kehilangan temanku, aku takut kehilangan teman baik yang kini ada di sisiku, dan mereka yang telah baik padaku,


'Aku takut karena tidak bisa menjaga kepercayaan mereka'.


("aku tidak berguna,) gumamku.


saat itu terbayang sebuah kejadian yang mungkin akan terjadi bila aku kalah.


mungkin seluruh temanku pasti akan di tangkap dan di jadikan budak. seluruh barangku akan di rampas, rumahku pasti akan di hancurkan dan di bakar, aku pasti akan kembali sendirian dan menjadi diriku yang dulu, yaitu seorang yang mengurung diri sendiri.


....(aku benci ini!, benci!, putus asa!, benci, muak!) sebab aku tidak bisa berbuat apa-apa.


di dalam keputusasaan sebuah ide gila mulai terbesit di dalam benakku.


"sudah cukup! aku muak dengan kalian!" teriakku sambil mengaplikasikan kabel power yang ada di atas pesawat ke dalam lengan kananku dengan secara paksa.


Secara spontan energi besar masuk ke dalam tubuhku seakan mengalir deras.


aku langsung menggenggam erat meriam plasma di kedua lenganku, sambil melepaskan powerku ke batas 150%, dan memacu hormon adrenalin.


Darahku seakan mendidih karena efek dari kekuatan yang meluap-luap,


"MATILAH" teriakkan-ku bergema di udara.


Aku menarik pelatuk meriam, dan "blasst!! shining!!" pancaran energi dahsyat melesat ke udara,


pancaran cahaya laser berwarna merah menjulang tinggi ke arah golem raksasa, dan menyebabkan korosi pada baja yang menempel di tubuh besarnya.


sebuah kilatan cahaya yang dapat menembus gelapnya badai, dan melubangi apa saja yang ada di depannya.


Interval serangan yang dahsyat itu sampai terlihat di atas langit sebuah negara yang terletak jauh di depannya.


tapi tubuhku yang kecil ini tidak cukup kuat untuk menahan recoil dari meriam plasma ini. aku terdorong ke belakang dengan senjata yang bergulir ke atas.


tapi serangan ini cukup fatal bagi golem yang memiliki tubuh raksasa. sebab itu menembus dan melelehkan baja dan meninggalkan jejak lubang besar yang terlihat di tubuh-nya


jejak itu sampai mengarah ke bahu raksasa golem dan membentuk kerusakan yang cukup serius.


sfx "boooooooooooomm! " kerusakan itu menimbulkan ledakan dari dalam tubuh golem.


("sekali lagi!.. aku membutuhkan satu serangan lagi") gumamku sambil mengarahkan meriamku ke tubuh golem yang meledak.


aku kembali menarik pelatuk dan memulai serangan, tapi saat itu seluruh orang di arena melihatku dengan berbagai tatapan.


di dalam ruangan kendali golem(di perut golem), seorang raja terlihat jatuh terduduk,


harapannya hancur seketika, ketika melihat serangan mematikan yang sanggup menghancurkan istana terbangnya, ia terbias dengan wajar pucat, dan di sekelilingnya, beberapa orang yang mulai panik berlarian menyelamatkan diri.


di sisi lain, beberapa anggotaku terlihat kagum dan khawatir atas aksiku, tapi mereka mengandalkanku dengan penuh harapan.


Serangan kedua kembali di lakukan.


saat itu beberapa draft berlari ke dalam pesawat evakuasi tapi naasnya kilatan cahaya telah berhasil menembus ruang kendali dan menghancurkan segalanya.


pancaran cahaya merah dari meriam plasma yang aku pegang berhasil menembus tubuh baja itu. aku memanfaatkan recoil dari senjata ini untuk menghancurkannya dari bawah ke atas.


("sedikit lagi!, maka aku akan bisa membelahnya, aku mohon!, bertahanlah sebentar lagi!") gumamku, sebab aku merasakan kapasitor yang ada di tanganku mulai hangus terbakar.


kepulan asap keluar dari persendian di tangan kanan mekanikal ku, aku punya feeling buruk dengan ini.


sfx "crak! krek!... boom! " sebuah ledakan menghentikanku. energi dahsyat yang menumpuk di (sambungan input) di tanganku ini memicu kebocoran energi dan berakhir meledak, karena melebihi kapasitas.


Ledakan itu melemparkanku jauh dari atas pesawat.


aku melesat di langit dengan tangan kanan yang hancur berkeping-keping.


("inilah sebabnya aku membenci meriam day internus") gumamku sambil melayang di udara.


"sial!,.... padahal tinggal setengah lagi! " teriakku ke arah golem raksasa yang hampir terbelah dua.


Tiba-tiba....


secara mengejutkan beberapa serangan bertubi-tubi melesat ke arah golem raksasa itu dan menghancurkannya.


serangan itu juga menyasar ke arah balon udara musuh yang ada di area pertempuran.


dari arah berlawanan terlihat markas Accretia telah mengaktifkan persenjataan sepenuhnya,


markas Accretia membalas serangan itu secara intens, dan membersihkan sisa musuh.


markas juga di bantu oleh squad Marinka yang telah selesai mengisi amunisi.


Squad Marinka melesat ber-iringan menggunakan kendaraan beratnya, sambil terus menembak dan membabat habis musuh.

__ADS_1


aku tersenyum puas dengan kinerja mereka, tapi kemudian sebuah tangan terlihat menggapai tubuhku dari atas langit dan menangkapku.


__ADS_2