
Kelompok kami masih menyusuri hutan menuju arah jalan pulang.
Saat itu Marinka menceritakan beberapa hal yang belum aku ketahui.
Ia menceritakan asal usulnya sebelum bergabung menjadi unit Accretia. ia juga menceritakan beberapa kenangan indah yang Admiral buat bersamanya.
"sekarang, anda mengingat sesuatu? " ucap Marinka ketika Ia selesai menceriakan kisahnya.
"mungkin aku hanya ingat sebagian" ucapku. aku menuruti perkataan marinka dan aku sedikit berbohong, aku berbohong karena aku tidak ingin membuat dia kecewa.
kemudian aku terdiam sambil memikirkan apa yang telah marinka ceritakan dalam ingatannya.
(ingatan apa itu?, dan kenapa aku terkesan begitu romantis!, padahal kenyataannya aku tidak pernah berhasil untuk merayu cewek, apalagi berbuat romantis. Pasti ada yang salah dengan Ingatannya) gumamku sambil melamun.
"sudahlah!, jangan terlalu di paksakan kalau kamu tidak ingat! " ucap marinka.
"oke!,, aku sedikit pusing, aku ingin istirahat dan tolong jangan ganggu aku" ucapku sambil berdiri lalu pergi dari atap mobil menuju fasilitas perawatan.
di tempat perawatan...
di sana aku berusaha menghubungi Vita, tapi nampaknya ia tidak merespon.
saat itu sebuah unit repair berjalan ke arahku lalu dari kameranya keluar sebuah hologram.
["honey, lama tidak berjumpa!, ] ucap vita sambil berlari ke arahku.
vita lalu duduk di sampingku sambil tersenyum.
["ada masalah?"] ucap Vita sambil melihatku yang cemberut.
"siapa mereka! " ucapku marah.
[" uh!, itu anu "] ucap vita dengan wajah bingung.
" cepat katakan siapa mereka! " ucapku marah.
["mereka,, iah,,, mereka adalah unit yang lain, yang aku temukan di reruntuhan pesawat yang ada di tengah oasis"] ucap vita sambil mencari alasan.
"lalu?, ada apa dengan ingatan mereka? " ucapku.
[soal itu!,,, anu,, aku sedang sibuk melindungi markas, jadi aku serahkan mereka padamu!"] ucap vita, ia lalu menghilang dan di gantikan oleh sebuah hologram yang menampilkan keadaan markas.
"tidak!,, tunggu!" ucapku, kemudian aku tersentak ketika melihat keadaan markas,
saat itu seorang wanita berambut merah datang ke arahku, ia sepertinya terpancing oleh suara perkelahian-ku dengan Vita.
" ada apa ribut-ribut? " ucap Marinka.
Tapi saat itu tatapanku tertuju pada sebuah layar hologram yang di proyeksikan unit repair.
aku melihat ratusan bahkan hampir mendekati seribu balon udara. balon itu melintas di atas oasis, aku juga melihat sebuah balon udara raksasa di antara mereka.
"ohh, rupanya mereka belum menyerah" ucap Marinka. Ia kemudian ia duduk di sampingku, lalu ikut mengamati.
"Apa ini?.. apa yang terjadi selama aku tidak ada ?" ucapku dengan ekspresi bingung.
"tenanglah admiral!, saat ini markas kita aman karena terkubur pasir, tapi aku tidak yakin ini akan bertahan lama." ucap Marinka sambil menunjukkan titik koordinasi markas.
marinka menggeser peta lalu kami melihat beberapa draft yang membangun tenda di tengah oasis. beberapa dari mereka terlihat memegang sekop, draft itu seakan mencari sesuatu di dalam tanah.
kemudian aku meminta perihal penjelasan tentang markas yang di serang.
__ADS_1
saat itu marinka menjelaskan setiap kejadian, ia menceritakan secara terperinci tentang Pertempuran di markas, selama aku tidak hadir.
setelah beberapa waktu berlalu....
sore hari di hutan yang rimbun..
aku kini duduk di kursi di samping sopir,
aku di paksa duduk di sini karena saat itu mereka beralasan 'demi keamanan', dan kini kami semua akan memasuki zona berbahaya.
marinka bersiaga di atas kendaraan sambil memegang peluncur roket sedangkan eva di sampingku sambil berkendara.
"admiral, mau kue? " ucap eva.
"bukannya itu kueku! " ucapku,
"hehe," Eva tersenyum lalu memasukkan kue itu ke mulutnya.
obrolan itu menjadi hening karena tidak ada dari kami yang berani memulai percakapan..
kemudian aku menyalakan rokok lalu memulai percakapan.
"kalau boleh tau, tempat seperti apa yang akan kita lewati." ucapku.
"entahlah?, anda liat saja nanti" ucap Eva, ia sebenarnya malu ketika duduk di samping admiral, ia bingung harus berkata apa dan ia tidak ingin salah tingkah.
("sekarang admiral duduk di sampingku!, apa yang harus aku ucapkan, aduh!") pikir Eva.
percakapan itu kembali buntu tanpa ada yang berani memulainya.
setelah beberapa menit....
dari jendela mobil MAZ aku melihat sebuah hutan yang pohonnya menjulang tinggi ke langit.
kulit dari pohonnya berwarna merah tua, hutan itu seakan tidak pernah terjamah sama sekali.
saat itu eva menghentikan mobilnya karena di depan kami ada sebuah puing-puing pesawat yang menghalangi jalan.
"Marinka, bukannya itu tempat kita jatuh" ucap Eva, ia menengok sambil menunjuk ke sebuah puing.
"tunggu di sini! " ucap marinka. ia melompat lalu berlari ke dalam sebuah puing pesawat yang mirip seperti naga.
Marinka masuk lalu di susul oleh suara ledakan dan suara pertempuran.
"admiral, pegang kemudi! "ucap Eva sambil melompat dari jendela mobil maz, ia membawa pedangku lalu berlari menyusul Marinka ke dalam puing.
setelah beberapa menit mereka berdua keluar dengan lengan yang di penuhi darah.
" apa yang kalian lakukan? " ucapku.
" maaf!,, kami hanya penasaran dengan teknologi mereka." ucap Marinka sambil berlari.
mereka berdua terlihat berlarian keluar dari dalam puing menuju kendaraan.
"ayo brangkat! " ucap Eva sambil menginjak pedal gas dan lari dari tempat itu.
Tiba-tiba,
sfx "boommm!!!! ” puing pesawat naga itu meledak, berhamburan, sambil menerbangkan seluruh isinya.
untungnya kami berhasil pergi dari zona ledakan.
__ADS_1
" eva!, apa yang kalian lakukan di dalam puing pesawat itu?" ucapku.
" kami hanya mencari petunjuk sambil menggeledah beberapa mayat, tapi sayangnya di dalam sana ada puluhan perangkap, dan beberapa kru pesawat yang masih hidup, kami juga menemukan sebuah bom waktu yang menyala" ucap Eva sambil mengeluarkan beberapa perhiasan dari sakunya, ia kemudian menyerahkan perhiasan itu padaku.
setelah beberapa waktu berlalu...
kami melewati zona hutan yang lebih dalam.
di sana, kami semua menemukan puluhan mayat draft yang sengaja di gantung di atas pohon.
tubuh draft itu di penuhi oleh anak panah. darahnya yang masih basah dan tubuh yang masih utuh menandakan mayat itu belum lama mati.
Marinka tersentak, lalu mengamati sekeliling, saat itu ia melihat ada tiga orang yang mengikuti kami.
ketiganya bersembunyi di atas pohon sambil mengamati kami, mereka menggunakan pakaian kamuflase tapi marinka masih bisa melihat mereka menggunakan mode thermal.
"admiral, ada yang mengikuti kita" ucap Marinka.
"berapa banyak? " ucapku.
" tiga orang " ucap Marinka.
" oke, jangan menyerang duluan, untuk saat ini kita amati saja mereka. " ucapku.
"oke!, " ucap Marinka.
Kami berusaha menghilang dari pandangan mereka sambil memanfaatkan zona hutan yang rimbun untuk bersembunyi.
tapi anehnya kami seakan tidak bisa bersembunyi dari mereka,
hari berganti malam..
Marinka terlihat lelah, ia duduk menyender di sampingku karena saat itu aku memerintahkan dia untuk beristirahat.
"admiral, apa kamu yakin akan baik-baik saja" ucap Marinka.
"yah!, tenang saja, aku sudah memasang kamera pengawas di setiap sisi kendaraan." ucapku.
"kalau ada bahaya, jangan sungkan untuk membangunkan-ku. ”ucap Marinka. ia kemudian tertidur.
" admiral!, aku juga ngantuk," ucap Eva.
"kalau kamu tidur, lalu siapa yang akan menyetir?" ucapku.
"sudahlah!, tidur saja, lagian mobil ini di rancang untuk tahan ledakan dan proyektil" ucap Eva.
"begitukah?, kalau begitu kenapa kita tidak istirahat saja" ucapku, karena aku pikir kalau ada serangan yang datang, mobil ini pasti bisa menahannya.
"anda yakin? "ucap Eva.
" iya!, aku juga sudah memasang alarm peringatan bila ada yang menyerang" ucapku sambil mencoba meyakinkan Eva.
"oke, dan ini kunci mobilnya," ucap Eva sambil menyerahkan kunci.
dari kunci mobil itu aku melihat kunci borgol yang terselip.
("akhirnya aku bebas!,") gumamku sambil melepaskan borgol dari kedua lenganku,
aku menyerahkan borgol itu ke unit repair agar segera di lebur.
("uhh, aku juga belum tidur selama beberapa hari, untuk sekarang mendingan tidur saja") gumamku karena aku merasa ngantuk.
__ADS_1