Rising Isekai Apocalypse

Rising Isekai Apocalypse
Chapter 49. hutang budi elf.


__ADS_3

di dalam hutan di dekat gua, terlihat sekelompok orang berkumpul sambil membicarakan rencana penumpasan.


"kita memiliki masalah di sini" ucap kapten elf.


"yahh.. setengah dari kelompok ini terdiri dari petani" ucapku menjawab.


"ini sulit.. (kapten memegangi kepalanya dengan ekspresi gelisah) mata!, tolong segera cek keadaan di dalam" ucap kapten elf, ia memerintahkan bawahannya.


"baik kapten" ucap seorang anggota dari kesatria elf sambil mengeluarkan kemampuannya.


anggota itu membacakan sebuah mantra dan dari telapak tangannya, tercipta kabut yang berubah menjadi puluhan kelelawar.


kawanan kelelawar itu terbang memasuki gua batu. sang pemanggil terlihat tenang sambil berbagi informasi dengan familiar-nya. tapi tiba-tiba ia Terperangah, duduk.


"mata!, apa yang kamu lihat! " ucap kapten elf dengan ekspresi terkejut ketika melihat ekspresi bawahannya.


"kapten!. seluruh familiarku mati. di dalam gua terlalu banyak monster yang menyerang familiarku, tapi aku sempat melihat gerombolan besar serigala" ucap anggota elf yang di panggil mata.


"sial.. ini terlalu sulit untuk kita tangani, " ucap kapten elf dengan ekspresi putus asa.


"sulit?, apakah kamu tidak bisa meminta pasukan yang lain untuk membantu? " ucapku mencoba memberi solusi.


"mudah berkata!, tapi mengumpulkan pasukan dalam kurun waktu sehari itu sulit, di tambah serigala yang di dalam gua, sudah pasti sangat kelaparan. mereka pasti akan keluar dan menghancurkan desa sebelum pasukan datang." ucap kapten elf.


"ehh!.. apakah desa ini tidak memiliki penghalang atau penjaga" ucapku.


"tidak, siapa juga yang mau menjaga desa kecil yang letaknya terpencil ini. " ucap kapten elf dengan nada putus asa.


sekelompok elf terlihat murung mendengar perkataan kaptennya.


mendengar penjelasan kapten elf, aku tertegun sambil mencoba mencari solusi.


setelah beberapa menit...


Marinka yang khawatir ketika melihatku yang kebingungan, kemudian ia bertanya.


"admiral, ada masalah? " ucap marinka sambil menyodorkan sebatang rokok ke mulutku.


"thanks,, sebenarnya kami sedang dalam kebuntuan" ucapku.


"buntu?.. memangnya apa yang terjadi." ucap marinka bertanya.


Aku kemudian menjelaskan masalah yang terjadi kepada marinka, ia terlihat mendengarkan dengan seksama lalu berkata.


"ohh itu masalah mudah" ucap marinka.


mudah?.. apa kamu yakin dengan ucapanmu" ucap Felix.


"yah.. itu adalah bidangku... sini aku jelaskan" ucap Marinka.


marinka lalu menjelaskan tentang pendapatnya, ia terlihat menyimpulkan puluhan skema dan membuat sebuah rencana.


beberapa waktu setelahnya.


"beruntung-nya aku memiliki anggota sepertimu" ucapku sambil mengusap rambut marinka, dengan penuh rasa terimakasih.


"hehehe, maka, per-bolehkan-lah aku untuk selalu ada di sampingmu."ucap Marinka.

__ADS_1


" yah, selama kamu mau" ucapku.


"admiral!, aku juga ingin di elus" ucap Eva.


”baiklah!.. kemari" ucapku sambil mengelus rambut abu-abu Eva.


"trimakasih" ucap eva sambil tersenyum.


melihat tingkahku yang bahagia, beberapa elf menatapku dengan tatapan bingung, lalu sang kapten bertanya.


"hey, felixian. berhentilah bermesraan di saat seperti ini" ucap kapten elf.


"maaf, tapi sepertinya aku memiliki pendapat. " ucapku.


"pendapat?. apa yang mau kamu sampaikan? " kapten elf.


"aku punya rencana, apakah kamu mau mendengarnya? " ucap Felix.


"baiklah. selama rencana-mu masuk akal" ucap kapten.


kemudian aku menjelaskan rencana yang telah Marinka buat, kepada seluruh anggota.


kelompok elf itu menanggapi dengan serius setiap penjelasan yang aku berikan. Mereka menganggukan kepala tanda mengerti.


"sampai sini, kalian paham!" ucapku.


"yah... Sungguh rencana bagus untuk menarik mereka, agar menjauh" ucap kapten elf.


"lalu, apakah ini akan berhasil? " ucap seorang warga elf yang ikut serta.


"baiklah,.. kita tidak memiliki cara lain" ucap kapten elf.


"oke, kami akan berusaha semaksimal mungkin" ucap beberapa warga elf"


"Marinka. sepertinya mereka setuju dengan rencanamu " ucapku.


"baiklah... sekarang ambil penyembur api ini" ucap marinka sambil menyerahkan penyembur api miliknya ke pada felix.


setelah itu, rencana kami di mulai.


beberapa orang pergi ke posnya masing-masing.


aku bersama sekelompok warga, bertugas di atas mobil maz, sambil menjaga tower penembak.


aku memerintahkan kapten elf dan para bawahan-nya agar menyiapkannya senjata terbaik mereka, lalu memerintahkan para pengintai agar memberi support dari atas pohon.


aku juga memerintahkan marinka agar berkolaborasi dengan serangan elf, dan memerintahkan ia agar bersiap sepenuhnya, bila mana ada hal buruk terjadi.


setelah beberapa menit, rencana kami di mulai.


Marinka terlihat menggenggam bom rakitan buatannya. ia menaiki mobil jeep dan melesat pergi menuju gua.


marinka masuk ke dalam mulut gua sambil menabrak beberapa serigala. ia melesat di dalam gua yang sempit lalu melemparkan bom rakitan ke tengah sarang monster.


Marinka memutar kendaraannya lalu keluar secepat mungkin.


seorang gadis berambut merah itu melompat dengan kendaraannya.

__ADS_1


ia keluar dan di susul oleh suara ledakan yang nyaring.


"booommmmmm!!!!" suara ledakan keras itu menggetarkan tanah di sekitarnya, seorang gadis terlihat gagah sambil keluar dari ledakan.


"let's go!!. " ucap Marinka. ia keluar sambil di ikuti oleh ratusan serigala di belakangnya.


"serang!!! ” ucapku memberi aba-aba untuk menyerang.


kami menembak dan memanah gerombolan serigala yang keluar,


gerombolan serigala yang keluar itu seperti tidak ada hentinya. sampai-sampai memenuhi jalur hutan. kami pergi dari tempat itu menggunakan kendaraan yang kami punya, sambil di buntuti dari belakang.


gerombolan serigala itu bagaikan mimpi buruk yang memenuhi jalan. mereka sangat banyak dan ada beberapa spesies yang sulit untuk mati.


kami melaju sambil terus menyerang kawanan mereka. aku menembakkan penyembur api ke arah kawanan serigala yang mencoba mendekati tower penembak.


sebuah menyembur api, menciptakan lintas minyak yang menyala. api itu membakar setiap apa yang bisa ia jangkau.


ratusan serigala berlari dengan tubuh yang terbakar, kemudian jatuh meringkuk karena api yang memenuhi tubuhnya.


"admiral!.. ini seru! " ucap marinka sambil mengebom kawanan serigala, dari dalam mobil jeep.


"terserah kau!, ucapku sambil membakar beberapa serigala yang mendekat.


kami melaju membuat formasi panah. tiga elf mengendarai raptor di samping kananku dan Marinka di kiriku, Marinka menggunakannya peluncur roket untuk memecah kawanan, dan di bantu oleh elf pengendara raptor, yang mengeluarkan sihir ledakan, dan racun.


"kalian!, jagalah tower penembak ini dan jangan sampai jatuh," ucapku karena kalau sampai mereka jatuh ke tanah, mereka akan berakhir menjadi makanan serigala.


beberapa warga terlihat menelan ludah dengan ekspresi ketakutan. tapi saat ini, mereka tidak bisa mundur.


dua tower penembak terdengar berderu nyaring tanpa henti. memuntahkannya lusinan amunisi dan menumbangkan puluhan serigala.


Dua orang kesatria elf yang memiliki job summoner dan druid itu terlihat menunjukan kemampuannya. seorang summoner terlihat mengeluarkannya roh api sedangkan seorang druid terlihat menebarkan benih ke udara.


roh api itu membakar kawanan serigala yang mendekat, membuat jalur yang di lalui serigala itu, di penuhi api.


puluhan benih yang di tebar elf druid, jatuh ke tanah lalu tumbuh menjadi monster tanaman yang memakan kawanan serigala.


pertarungan ini berlangsung sesuai dengan apa yang kami harapkan. kawanan serigala itu terlihat mulai makin menipis. dan tersisa puluhan dari mereka.


tapi dari sekian banyak serigala yang kami serang, ada lima serigala yang sangat sulit kami jatuhkan.


kelima serigala itu terlihat berbeda dari yang lain. mereka memiliki tubuh setinggi 3 meter. dengan puluhan taring panjang yang memenuhi rongga mulut mereka. lalu kulit tubuh yang merah, yang jarang tertutup bulu.


Marinka terlihat membekukan tubuh dari serigala itu. tapi serigala itu terlihat menggigit seekor kawanannya lalu kembali sembuh.


"kapten!. serigala jenis apa itu? " ucapku sambil menunjuk.


kapten elf itu mengamati dengan seksama lalu berteriak " itu chupacabra" ucap kapten elf.


marinka kembali menembaki serigala itu tapi monster itu kembali sembuh.


kapten elf itu, lalu ia berkata padaku untuk memperingatkan marinka.


"felixian!, perintahkan wanitamu untuk berhenti, karena itu percuma... monster itu hanya bisa di bunuh ketika kawanannya habis" ucap kapten elf.


mendengar penjelasan itu aku langsung berteriak . " Marinka!, hentikan itu.. ia tidak bisa di bunuh kalau kawanannya belum habis" ucapku.

__ADS_1


__ADS_2