
Di dalam kelamnya badai pasir, sebuah tangan terlihat menangkapku dari kegelapan.
Tangan dari seorang gadis ber-rambut pink terurai yang indah, Ia terlihat memelukku dari samping kanan. ekspresi wajahnya mengatakan bahwa ia sangat cemas.
" Erika!," ucapku.
"admiral!, aku akan menolongmu! " ucap Erika, ia kemudian menggenggam tangan admiral yang hancur.
"syukurlah anda selamat! " ucap Erika sambil mengamati kerusakan di tanganku, ia kemudian membawa tubuhku terbang menggunakan jetpack-nya.
dari arah lain, terlihat seorang gadis yang juga ikut menyusul menggunakan jetpack miliknya.
Seorang gadis berambut blonde pendek terlihat melesat ke arahku. Raut wajahnya terlihat gelisah.
"admiral!, kamu membuat kami semua khawatir tau! " ucap Sasha sambil ikut menarik tubuhku terbang.
"tenanglah... aku baik-baik saja" ucapku dengan ekspresi tersenyum.
"siapa yang bisa tenang setelah melihat tubuhmu yang meledak dan meluncur kebawah!... lalu kenapa kamu tidak menggunakan jetpack di punggungmu" ucap Sasha.
"maaf, aku sepertinya kehabisan daya" ucapku sambil tersenyum.
"jangan tersenyum karena ini tidak lucu!... asal kamu tau, kamu akan jatuh bila kami tidak menyusul" ucap Sasha, ia terlihat marah.
"yah!, tapi ini merupakan kesalahanmu juga, sebab kamu yang memberikanku senjata kimia yang berbahaya" ucapku.
mendengar kalimatku, Erika langsung menatap tajam ke arah wajah Sasha.
"ohh, jadi ini karena ulahmu! " ucap Erika sambil mengerutkan dahinya dan menahan amarah.
"Aku tidak ada maksud untuk memaksa anda menggunakan senjata itu, tapi kita tidak memiliki pilih lain, selain menggunakannya" jawab Sasha sambil mengeles.
"Sasha!... aku heran, kenapa benda se-berbahaya itu ada di dalam kopermu" ucap Erika dengan nada kesal.
"itu!...(mencari alasan) aku hanya ingin memperbaiki kekurangan senjata kimia itu, makanya aku membawanya di koperku" Jawab Sasha.
obrolan itu berubah menjadi sebuah pertikaian dan terus berlangsung hingga aku mendarat di atas pasir.
pada waktu itu, sebuah konvoi kendaraan lapis baja terlihat mendatangi ketiga orang yang baru mendarat.
dari dalam sebuah kendaraan tempur yang aku kenal, aku melihat seorang gadis yang menjadi pemimpin dari konvoi itu, Ia melambaikan tangan ke arah kami bertiga.
konvoi itu telah sampai di depan kami bertiga. Marinka terlihat keluar dari mobil dengan ekspresi wajah kesal
"Dasar admiral ceroboh!, kerjaanmu cuma membuat kami khawatir saja!" Ucap Marinka dengan nada yang terdengar marah.
"tapi rencanaku berhasil!, kan" ucapku.
Marinka melihatku dengan tatapan kagum meski di balik ekspresi tegasnya, dan ia juga tidak bisa menyembunyikan rasa kagum itu sepenuhnya.
" tentu!, tapi itu juga merupakan tugasmu sebagai seorang admiral yang musti bertanggung jawab dan melindungi kita" ucap Marinka.
" sekarang naiklah" ucap Marinka dengan wajah yang mulai tersipu, lalu ia dengan tegas mengajak kami untuk ikut.
"thanks" ucapku.
"baiklah" ucap Sasha.
kemudian kami menaiki kendaraan tempur itu.
__ADS_1
"sister, ayo berangkat" ucap Erika sambil berseru kepada kakaknya.
Saat itu Marinka memberikan perintah kepada para bawahan yang ada di regunya, ia berkata untuk memburu sisa musuh sedangkan ia akan pergi ke markas untuk mengantarkan admiral yang mengalami kerusakan.
2 menit kemudian..
"Kalian Semua sudah mengerti" ucap Marinka setelah memberi perintah.
"ya, tentu saja! " ucap mereka sambil tersenyum.
"sekarang kalian pergilah!," ucap Marinka.
"siap!. tapi jangan bermesraan tanpa kami oke" jawab mereka sambil bercanda.
Squad darat lalu pergi meninggalkan kami berempat.
Marinka lalu memarkirkan mobilnya dan melaju ke arah berlawanan.
Marinka membawa mobilnya di atas padang pasir yang gersang. ia melaju kencang di antara tumpukan pesawat tempur dan balon udara yang hancur, berserakan.
Waktu itu, aku melihat sebuah mimpi buruk yang nyata.
gurun pasir yang indah ini kini berubah menjadi kuburan pesawat yang karam, menghitam, bagaikan sebuah lukisan kelam.
bangkai pesawat berhamburan di atas padang pasir yang gersang, sisa konflik masih terasa di lingkungan ini,
konflik yang bermula dengan ketidak jelasan dan memakan banyak korban jiwa.
Besi berceceran dan bau terbakar yang tercium cukup mengganggu-ku. ini pasti akan membuat siapapun yang melihatnya menjadi putus asa.
perasaan bersalah mulai merasuki pikiranku.
"admiral, kenapa gelisah" ucap Erika, ia memandang ke arah wajahku dengan ekspresi khawatir.
" i, i, itu, aku hanya sedikit capek" ucapku karena aku tidak ingin terlihat lemah di depan anak buahku.
" aku harap anda tidak menyesal, sebab inilah yang di namakan perang" ucap Sasha sambil meraih cerutu di saku jaketku, ia sepertinya bisa memprediksi apa yang aku pikirkan.
perkataan Sasha itu cukup membuatku menjadi makin bersalah.
Secara reflek aku meminta maaf kepada mereka.
"maafkan aku...ini salahku... karena ketidak mampuanku ini yang menyebabkan beberapa anggota harus kehilangan nyawanya" ucapku sambil menundukkan kepala.
" ehh!! siapa yang kamu maksud? " teriak mereka dengan nada yang kompak.
Obrolan itu terhenti karena mereka tidak mengerti dengan apa yang admiral rasakan.
aku memilih untuk tutup mulut dan tidak ingin menonjolkan sikap lemahku.
-----> setelah 8 menit di perjalanan.
tak perlu waktu lama untuk kendaraan sampai pada tujuan.
Gerbang palka terbuka dari sebuah markas milik bangsa accretia.
Di luar markas terlihat begitu sunyi(tanpa kehadiran manusia) dan hanya terdengar suara rudal atau peluru yang di luncurkan.
Marinka langsung membawa kendaraannya memasuki pintu palka.
Dari dalam pintu terlihat masa yang membeludak, menghalangi jalan dan membentuk keramaian.
__ADS_1
"selamat atas kemenangannya admiral!!!" teriak puluhan gadis. mereka menyambut kedatangan kami.
"hentikan keramaian yang tidak di perlukan ini... sekarang bukan saatnya untuk bersenang-senang!... kalian buka jalan untuk admiral karena ia kehabisan energi!. dan jangan mengganggunya cukup lama karena ia kehabisan energi, dan ini berbahaya untuk hardwarenya" ucap Marinka sambil menunjukkan sikap over protective.
Setelah mendengar perkataan Marinka, kumpulan orang itu langsung membuka jalan agar kami bisa lewat, dan secepat kilat, aku di bawa ke dalam ruangan medis yang ada di markas, di sini aku di pasangi beberapa alat canggih di tubuhku.
" serahkan sisanya padaku, Anda cukup istirahat saja... sekarang kalian bertiga ayo ikut aku! " ucap Marinka sambil menarik tangan Erika dan Sasha.
"Padahal aku ingin sekali menemani admiral " ucap Erika sambil menatap wajah kakaknya, ia menatap dengan ekspresi memelas.
"pokoknya ikut aku! " ucap Marinka sambil menarik tangan dari kedua gadis itu.
keduanya pergi dengan raut wajah terpaksa.
tingkah lucu keduanya cukup membuatku tersenyum.
kemudian aku merebahkan tubuhku di atas ranjang rumah sakit yang empuk.
tapi saat aku hendak membaringkan kepalaku di atas bantal, beberapa orang yang aku kenal terlihat menyapaku.
"selamat atas kemenangan anda, admiral!" ucap beberapa gadis yang ikut di rawat di dalam ruangan.
aku menoleh ke arah suara dan melihat wajah yang tidak asing bagiku.
Wajah dari beberapa orang yang aku anggap telah meninggal ternyata berkumpul di sini.
para pasukan udara yang telah kehilangan pesawat tempur mereka dan sekarang terpaksa di rawat karena cidera.
"ehh!, kalian.. " ucapku.
" yah. ini kami, anggota squad udara". ucap mereka.
"hehehe, syukurlah" ucapku sambil tersenyum puas, sebab mereka semua telah selamat.
"kenapa anda tersenyum?... apa anda menertawakan kami karena kami lemah?" ucap mereka.
"maaf bila tersinggung. tapi asal kalian tau, aku juga lemah sampai harus di rawat di sini" ucapku sambil tersenyum ke arah mereka.
"pembohong!.. " ucap mereka dengan nada kompak.
"Anda menghancurkan iblis raksasa itu hanya dalam dua serangan, dan sungguh tidak etis bila menyebut anda lemah" ucap seorang wanita dari squad udara.
"aku setuju... anda terlihat sangat luar bisa!!!, " ucap seorang gadis yang lain.
"anda juga terlihat sangat keren ketika menyampaikan pidato! " ucap seorang wanita sambil berjalan menghampiri tubuhku.
Waktu itu beberapa gadis dari squad udara terlihat berjalan ke arahku dan merapatkan ranjangnya.
"anda punya rokok? " ucap seorang dari mereka.
"tentu saja" jawabku sambil mengeluarkan beberapa cerutu.
"yey!... ayok kita ngobrol sambil ngopi" ucap seorang gadis dengan nada ceria.
"Ehh... bukannya kalian masih sakit?" jawabku.
"asal anda tau!. kami itu sakit karena cidera dan bukan sakit karena masalah lain. " jawab mereka.
"terserah kalian saja" ucapku membalas alasan mereka, aku kemudian duduk dan meyalakan rokok.
kemudian kami mulai berbincang satu sama lain.
__ADS_1
---->>