Rising Isekai Apocalypse

Rising Isekai Apocalypse
chapter 42 .


__ADS_3

siang hari di atas kepala mobil..


aku terduduk diam sendiri di atas kepala truk MAZ sambil menatapi hutan dengan penuh keheningan.


aku di penuhi rasa penyesalan, rasa bersalah, rasa duka, amarah, benci, terhadap diriku sendiri, karena aku tidak bisa berbuat apa-apa.


(andai saja aku lebih kuat mungkin saja saat ini liciany masih bisa tersenym.) gumamku sambil merenung.


kenangan buruk itu kembali mengganggu ku, seakan mengingatkan berapa lemahnya diriku saat ini.


kedua gadis itu berjalan menghampiriku lalu duduk di sampingku.


"admiral, kamu sudah makan? " ucap Eva. sambil memegang mangkuk besar berisi daging BBQ. ia terlihat murung dengan ekspresi wajah bersalah.


"admiral! maafkan kami, kami tau kami bersalah" ucap Marinka. sambil memegang kedua lenganku.


"ini bukan salah kalian...ini tidak ada kaitannya dengan kalian" ucapku dengan ekspresi sedih.


"kalau begitu kenapa tidak ceritakan saja masalah yang anda alami, siapa tau kami bisa membantu. " ucap Marinka sambil berusaha tersenyum manis.


"asal kami tau!, aku terlalu lemah bahkan tidak bisa menjaga seorang putri!" ucapku dengan ekspresi tegas.


"suut!.. jangan bicara begitu, kamu tidak sepenuhnya lemah! " ucap Marinka.


"lalu apa yang bisa aku banggakan!, aku gagal dalam melindungi dia, aku gagal! " ucapku marah kemudian tersedu menangis.


"kamu tidak gagal, kamu adalah prajurit paling pemberani yang berjuang sendiri sampai akhir, dan yang gagal itu kami karena telat menjemputmu. " ucap marinka.


mendengar ucapan itu, hatiku rasanya sedikit terobati.


marinka kemudian menarik wajahku dengan tangannya yang begitu lembut, ia kemudian mengusap air mataku.


"air mata ini sungguh tidak cocok untuk anda dan siapa saja yang berani membuat anda bersedih akan kami hancurkan" ucap marinka dengan ekspresi tegas.


saat itu, rasanya aku merinding mendengar ungkapan marinka.


"admiral!, hiks.. maafkan aku, aku terlambat" ucap Eva dengan ekspresi sedih.


"Eva!, ingatlah sumpah kita!, seorang prajurit di larang untuk menangis meski di dalam pertempuran yang mematikan sekalipun" ucap Marinka.


rasanya aku terpukul oleh perkataan marinka.


" hiks!,hiks,(tersedu)maafkan aku!, aku merasa bersalah dalam kejadian ini" ucap Eva.


"admiral!.(marah) beraninya kamu menuduh saudariku, dan kamu berani membuat saudariku menangis!.., cepat minta maaf! " ucap marinka kemudian memarahiku.


("eh!!.. kenapa jadi aku yang salah") gumamku dengan ekspresi bingung.


"cepatlah minta maaf! " ucap marinka dengan ekspresi tegas.


aku kemudian minta maaf, setelah itu kami bertiga memutuskan untuk makan siang bersama.


setelah beberapa waktu berlalu...


Eva kembali ke kursi pengemudi lalu kami pergi dari hutan itu.


kini di atas mobil MAZ tinggal aku dan Marinka.


kemudian aku memulai percakapanku.


"jadi!, sampai kapan kalian akan memasangkan borgol ini" ucapku sambil mengangkat borgol di kedua lenganku.


"Sampai anda pulih sepenuhnya." ucap marinka dengan ekspresi tegas.


lalu mana senjataku!, katanya kalian akan memberikannya,.. setelah ketika kita selesai makan" ucapku, bertanya.

__ADS_1


"saat ini, anda di larang untuk bertarung karena luka yang anda derita" Ucap Marinka dengan ekspresi tegas.


" tapi bagaimana caranya aku membela diri" ucapku sambil mencoba membujuk.


" tenang saja!, kami yang akan melindungimu" ucap Marinka.


"aku tidak percaya" ucapku sambil berusaha merebut peluncur roket dari pinggang marinka.


saat itu Marinka melompat lalu dia terlihat mengejekku.


"ambilah kalau kamu bisa A-D-M-I-R-A-L" ucap marinka sambil tersenyum mengejek.


wajah marinka yang tegas dan sorot matanya yang tajam sungguh terlihat manis ketika tersenyum, melihat itu aku langsung berusaha merebut senjata dari tangannya.


mengamati pergerakan-ku marinka langsung menghindar.


"admiral!, kamu lambat" ucap Marinka.


"baiklah! " ucapku lalu berusaha kembali merebut senjata dari tangan marinka.


tapi marinka kembali menghindar dan kembali mengejek.


aku terus berusaha mengambil senjata itu tapi marinka terus menghindar hingga akhirnya aku jatuh terlentang di atas mobil.


Melihat itu marinka lalu duduk di atas betisku sambil berkata. "maaf tidak sopan tapi menyerahlah, Admiral" ucap Marinka sambil memegang lenganku.


marinka kemudian mengeluarkan sebungkus rokok yang aku kenal dari dalam sakunya, setelah itu ia menyalakannya.


aku kemudian duduk dengan ekspresi tegas lalu berkata. "ohh!, jadi kamu yang mencuri semua rokok milikku. " ucapku.


"aku tidak mencuri!,.. tapi lebih tepatnya, setiap barang yang di miliki seorang lelaki merupakan barang milik wanitanya juga. " ucap Marinka.


"ehh??," ucapku dengan ekspresi binggung ketika menanggapi perkataan Marinka.


"admiral, asal kamu tau!, Eva juga mengambil seluruh kue milikmu dan memakannya secara diam-diam... benarkan eva" ucap Marinka.


"tuh! kan, " ucap Marinka.


"oke, tak apa, tapi tolong! aku juga ingin merokok." ucapku sambil menatap marinka.


melihat itu marinka tersenyum lalu menyodorkan rokok bekas ia hisap.


"hisaplah.. " ucap Marinka sambil tersenyum.


"itu bekas, aku mau yang baru" ucap Felix.


"aku akan memberikan yang baru tapi, hisaplah yang ini dulu" ucap marinka.


"tidak!", ucapku sambil memalingkan wajah seakan pura-pura menolak.


" aku mohon sekali saja!," ucap Marinka dengan ekspresi memohon.


"tidak! " ucapku.


"baiklah!...asal kami tahu, ini merupakan hukuman dariku karena kamu kalah, kalau kamu masih tetap menolak aku akan memberikan hukuman yang lain sebagai gantinya" ucap marinka dengan ekspresi wajah seakan mendominasi.


aku merasa takut melihat ekspresi wajah marinka, dia terlihat seakan mau memakanku, aku menjadi sedikit ragu bahwa ia akan melakukan hal lain yang lebih dari ini.


"oke, kamu menang!, " ucapku dengan ekspresi takut, sambil menelan ludah.


marinka tersenyum manis kemudian menyodorkan rokok itu ke mulutku, aku lantas menghisap rokok itu,


Marinka saat terlihat sangat bahagia lalu menghisap kembali rokoknya, ia berdiri sambil tersenyum ke arahku, lalu berkata "admiral, anda mau kopi tau teh" ucap marinka.


"aku mau rokok milikku kembali!," ucapku dengan nada ketus.

__ADS_1


"oke!, satu kopi untuk dua orang akan segera datang" ucap Marinka tanpa memperdulikanku, ia kemudian pergi dengan ekspresi kegirangan.


("ada apa dengan espresinya") pikirku ketika melihat marinka yang bertingkah aneh.


marinka pergi lalu setelah beberapa menit ia kembali sambil membawa secangkir kopi moccacino.


"maaf!.. gelasnya hanya ada satu, jadi mari kita segelas bersama" ucap marinka.


aku kemudian duduk dengan ekspresi ketakutan karena aku tau bahwa marinka akan melakukan hal-hal yang lain.


" admiral!, mau pergi kemana? " ucap marinka sambil memegang pundakku.


pegangan marinka sungguh sangat kuat sehingga membuatku kesulitan ketika melepaskannya.


"ukhh" ucapku sambil berusaha untuk lepas.


"tenanglah!, aku hanya ingin agar kita ngopi berdua." ucap marinka, sambil tersenyum manis ke arahku.


"apakah ini seperti ngopi biasa? " ucapku sambil bertanya.


"iya!, bukannya kita selalu melakukan hal ini, lalu kenapa anda takut? " ucap marinka dengan wajah bingung.


"ehh, sering? " ucapku dengan wajah bingung.


"kita sering melakukan ini berdua!, apakah kamu tidak ingat?" ucap marinka, bertanya.


"maafkan aku tapi aku sungguh tidak ingat!" ucap Felix dengan ekspresi bingung.


aku melamun sendiri sambil berusaha untuk mengingat, tapi sepertinya aku tidak mengingat mereka berdua.


"admiral! apa kamu tidak ingat apa-apa? " ucap Marinka.


"iya, " ucap Felix.


"dasar(menepuk jidat) mungkin ini efek samping dari perubahan anda" ucap Marinka.


"berubah?..memangnya apa yang terjadi? " ucapku, bertanya.


"apakah anda ingat, kejadian terakhir ketika anda bertarung." ucap Marinka.


"kejadian yang mana? " ucapku, bertanya.


"kejadian ketika, sebelum kami membawamu ke dalam mobil," ucap Marinka dengan ekspresi khawatir.


"ohh aku ingat sedikit.. kalau tidak salah, saat itu aku hanya meningkatkan powerku pada batas 300%, lalu aku hilang kesadaran" ucapku dengan ekspresi lugu.


mendengar pengakuanku, Marinka tersentak, ia seakan marah bercampur dengan perasaan khawatir.


marinka memegang pundakku lalu berkata "apa kamu bodoh!!, kenapa kamu melakukan hal se_nekat itu"


" aku terpaksa!, saat itu aku begitu lemah dan terluka parah, aku tidak punya solusi lain untuk bertarung selain mengandalkan powerku" ucapku dengan ekspresi putus asa.


"kamu tau apa akibatnya!, kamu hampir membuat dirimu menjadi seorang Brutal " ucap marinka dengan ekspresi khawatir di wajahnya.


(Brutal?, bukannya itu sebuah unit yang lepas kendali ketika di pacu dengan kekuatan super, kalau aku berubah menjadi unit itu aku akan kehilangan seluruh perasaanku, dan aku akan terus bertarung dan membunuh tanpa peduli apapun, bagaikan orang gila. ) pikirku sambil mengingat kejadian kelam di markas.


"apakah kamu mengingat sesuatu " ucap Marinka.


" iya!, tentang unit Brutal." ucapku.


"bukan!,, ini tentang kami berdua" ucap Marinka.


"maaf,.. tapi aku tidak ingat apapun tentang kalian " ucapku.


"mungkin karena efek itu kamu hilang ingatan, baiklah!,,, kalau begitu kenapa kita tidak membuat ingatan yang baru" ucap marinka, ia terlihat seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"terserah apa maumu!, tapi mana rokokku" ucapku.


__ADS_2