
Dua hari kemudian...
Siang hari di markas accretia.
Di dalam ruangan Stasiun kerja terlihat Fiona sedang sibuk memasangkan komponen baru ke dalam tubuh Seorang remaja berambut hitam.
"fiuh.. akhirnya selesai! " ucap Fiona dengan exspresi puas.
"kerja bagus Fiona, aku puas dengan hasil kinerjamu. " ucapku sambil memeriksa koordinasi dari saraf motorik-ku, menggunakan alat yang telah di sediakan.
Aku menatap layar hologram di depanku itu, yang menampilkan data autentikasi dengan berbagai keterangan normal.
"Sama-sama... tapi lain kali, tolong bawa imbalan yang setimpal untuk menghargai karyaku" ucap Fiona sambil merangkul gelas kopinya.
"kalau kamu membutuhkan sesuatu, katakan saja pada Vita. kalau ia menolak, bilang saja itu perintah dariku" ucapku lalu melambaikan tangan dan pergi dari tempat kerja Fiona.
"Sama-sama!!," teriak Fiona dari luar pintu tempat kerjanya.
kita beralih ke dalam ruangan Armory bagian zona pengembangan.
Aku berlari dengan terburu-buru melewati lusinan prajurit raksasa baja yang ada di kanan dan kiriku, agar aku segera sampai pada tempat yang aku tuju.
aku berhenti di depan armor baja yang sedang aku buat, itu hampir selesai karena di kerjakan oleh beberapa unit Repair.
Sebuah Armor Futuristik yang terbuat dari baja Hexanium, kini berdiri kokoh di hadapanku. itu terlihat sempurna dengan paduan warna hitamnya dan tampilan gaharnya.
["beef... pekerjaan kami dalam proyek anda telah selesai... " ucap unit repair sambil menoleh ke arahku.
"apakah sekarang aku bisa menggunakan nya? " ucapku bertanya pada para unit repair.
[beff... bisa! "] ucap para unit.
"terimakasih... sekarang aku akan mencobanya!" ucapku dengan penuh semangat.
Mendengar ucapanku para unit repair langsung mengaplikasikan zirah itu ke tubuhku.
setelah nya..
Aku menatap pantulan diriku sambil berpose.
"ini lumayan ringan dan nyaman." gumamku sambil mencoba menggerakkan setiap sendi dari armor mekanikal ini.
tiba-tiba, dari arah belakang terdengar seorang gadis memanggil namaku dengan nada keras.
__ADS_1
"admiral!... ternyata di sini kamu rupanya." teriak Marinka.
"eh... ada apa?. " ucapku sambil menoleh.
"cepatlah!, seluruh anggota pasukan telah menunggu pidatomu di ruangan aula" ucap Marinka sambil menarik lenganku.
aku kemudian mengikuti Marinka sambil berjalan di sampingnya.
di ruangan aula, bangsa Accretia.
seluruh prajurit dan Unit penghancur, berbaris rapi membentuk barisan, dalam pose istirahat mereka menunggu perintah.
(By: author)"contoh..."
"cepat naik ke Podium dan ucapkan beberapa kata!" ucap Marinka, ia mengarahkan-ku lalu kembali ke dalam barisan.
Di depan podium aku mematung untuk beberapa saat, karena aku belum pernah berpidato, tapi saat itu sebuah tulisan hologram menuntunku untuk mulai berkata.
"Aku sebagai admiral hanya ingin mengucapkan terima kasih karena Kalian sudah sangat membantu dalam perkembangan markas, Kalian cantik, sukses, pemberani dan menawan. Kalian luar biasa, Kalian tidak pernah menangis dan bersedih meski banyak musuh mengintai di luar, terimakasih karena tidak pernah kehilangan senyuman kalian, dan itu merupakan pencapaian terbaik yang aku miliki saat ini dan aku berjanji akan mempertahankan senyuman yang telah kalian berikan" ucapku sambil berkata di microphone.
beberapa prajurit tersanjung oleh ucapanku, mereka tersenyum lalu menyusut air matanya.
aku melanjutkan pidatoku dengan penuh semangat.
pidato itu disusul oleh sorak sorai (dari prajurit wanita) yang terdengar menggelegar. "hidup bangsa Accretia!... hidup bangsa Accretia!..."
sorakan itu membakar semangat juang para gadis dan membangkitkan jiwa petarung mereka.
"ayo kita hancurkan mereka!!! " teriakku, dengan suara yang menggelegar.
"ayo kita tunjukkan kekuatan kita!" teriak para gadis.
"bagus!... sekarang!, siapkan senjata kalian dan bersiaga di posisi yang telah di tetapkan" ucapku dengan penuh semangat. aku membubarkan legion itu.
5 menit setelah persiapan...
seluruh pasukan siap di dalam kendaraan tempurnya, menunggu aba-aba yang telah di sepakati.
berbagai jenis unit penghancur yang telah di rakit, kini telah siap di bawah kendali Vita. mereka semua menyandang julukan yang sama yaitu DESTROYER,
Unit ini berjumlah kurang lebih 120 anggota,(termasuk 50 prajurit wanita dan 70 Unit baja) yang di bagi menjadi 3 peleton.
Peleton squad udara, squad darat, dan squad pengacau.
__ADS_1
aku saat ini memimpin Squad udara, sedangkan Marinka memimpin squad darat dan Vita mengambil peran sebagai squad pengacau.
Aku mengendarai pesawat tempur bernama : 01st black Sir. sebuah pesawat tempur buatanku.
di dalam pesawat aku di temani oleh Eva, Sasha, Erika, mereka di pilih oleh Vita untuk membantu mengontrol pesawat tempur ini.
Aku mengambil peran sebagai pemimpin di Squad udara yang beranggotakan unit-unit yang bisa terbang dan pesawat tempur.
[semuanya siap! "] ucap Vita dari microphone.
" kami siap! " ucap seluruh anggota.
["Aku akan mulai seperti yang telah kita rencanakan! "] ucap Vita.
Vita mengambil komando pada untuk suplai yang tersisa di gurun. memerintahkan mereka untuk memancing badai pasir.
Siang hari yang sangat terik di tengah padang pasir, beberapa unit suplai melesat terbang ke udara setelah mendapatkan perintah dan tanpa peduli musuh yang ada di sekelilingnya.
Unit suplai saling menabrakkan roketnya di langit, memecah hawa dingin yang terkandung di dalamnya dan memancing badai besar.
angin kencang turun dengan derasnya ke atas pasir yang sangat panas, menciptakan badai pasir yang di sebabkan oleh siklus buatan.
angin itu berderu keras, mengangkat pasir yang ada di daratan dan memunculkan kembali markas yang selama ini terkubur.
["brzz... bersiaplah! aku akan membuka penutup palka"] ucap Vita dari microphone.
(palka : gudang muatan)
"kami siap!!!. " ucap seluruh Unit sambil mengepalkan tinjunya.
Penutup palka di singkap dan debu masuk ke seluruh gudang Armory, seluruh Unit bergerak keluar dengan membawa persenjataannya dan bersiap mengikuti intruksi.
["serang!!! ] teriak vita.
Unit baja di bawah kendali Vita terlihat berlari mengikuti alunan badai yang menjerit hebat, mereka bergerak tanpa rasa takut untuk menghancurkan apa saja yang merupakan ancaman.
Unit baja bergerak mengikuti intruksi. mereka menciptakan kekacauan di titik yang telah di tentukan dan berhasil menghancurkan koordinasi, dari balon udara musuh.
Unit baja menebakkan senapan mesin dan rudal yang ada di tubuh mereka dan berhasil menjatuhkan beberapa balon udara musuh.
beberapa balon udara meledak di langit dan di sapu oleh badai pasir yang keras, mereka membuat blokade dan mengaktifkan pelindung sihir.
"admiral, aku duluan!" ucap Marinka sambil memacu kendaraannya, ia menerjang ke bawah pesawat musuh menggunakan jeep milikku yang telah di modifikasi olehnya, Marinka di ikuti oleh Squadnya yang mengendarai Ranpur.
__ADS_1
Marinka dan anggotanya mengerahkan seluruh senjata berat dan rudal balistik, ia menyusup di bawah balon udara musuh dan berhasil melancarkan serangan yang menghancurkan blokade musuh dari bawah.