Rising Isekai Apocalypse

Rising Isekai Apocalypse
Chapter 59. Great King VS The Supreme leader.


__ADS_3

Bendera merah dengan logo tengkorak berkibar, di atas pesawat hitam bernama Black Sir.


Di dalam badai, pesawat hitam itu perlahan menepi, menghampiri podium batu yang ber-ukiran relik khas bangsa draft.


pesawat hitam itu seakan muncul dari kegelapan, menapakkan wujudnya yang seram ke depan wajah Raja Draft yang sedang berdiri di atas podium.


Hanya penghalang sihir yang kini menjadi jarak aman mereka. Sang Raja terperangah sambil mendongak ke atas, mata bulatnya terkesima oleh sebuah penampakan pesawat tempur Hitam.


Pesawat tempur hitam itu mulai membuka penghalang kokpit. dan dari dalam cahaya terang munculah seorang Admiral berseragam armor mekanikal, Ia terlihat membuka head gear(penutup wajah). dan menatap langsung ke arah sang Raja draft,


Admiral itu menatap dingin ke arah Sang Raja sambil menghembuskan asap rokoknya. raut wajahnya seakan memberikan efek intimidasi



Dari dalam pesawat hitam itu pula terlihat seorang gadis berpakaian armor mekanikal, ia ikut keluar setelah admiral. gadis itu terlihat membawakan sesuatu semacam pengeras suara.



"Admiral, anda melupakan ini! " ucap Sasha sambil menyerahkan sebuah Microphone.


"thanks!, (menyalakan mic)... hey kamu yang di sana!, apakah kamu pemimpinnya?... yang memimpin seluruh armada balon udara dengan membawa tujuan untuk menyerang ke wilayahku! " ucapku, dengan suara yang terdengar menggelegar ke setiap ujung dari medan pertempuran.


Waktu itu, Pertempuran mendadak berhenti sejenak, seluruh pandang dan pendengaran terfokus pada pertemuan dua pemimpin tertinggi.


Raja Odes terlihat muak saat ia tau bahwa yang dia hadapi adalah Seorang anak muda, yang bahkan umurnya belum mencapai setengah dari umurnya.


Raja itu terlihat menggeram dengan wajah yang mulai merah menyala, urat di wajahnya terlihat berkedut.


"sialan!!... Berani-beraninya kalian menentang kekuasaanku!, kalian!... kalian!... kalian akan aku binasakan!!!, " teriak raja draft, ia meluapkan seluruh amarahnya ke arah felix, suaranya terdengar menggelegar karena efek pengeras suara.


"menentang?... bukannya pihak anda yang datang tanpa izin lalu memulai serangan... dan ini wilayahku, jadi kamu bukan siapa-siapa di sini!" ucapku dengan ekspresi dingin, sambil menghisap rokok, dan menyeringai seakan mengejek.


"per-setan!!!. kamu tidak tau siapa aku!... aku adalah Seorang Raja draft yang telah memenangkan banyak sekali pertempuran!, aku... aku pasti akan membawa kepalamu sebagai oleh-oleh, dan merampas seluruh hartamu" ucap Raja Odes sambil menatap ke arah Sasha yang berdiri di sampingku, Raja itu menampakkan ekspresi menjijikkan sambil menatap ke arah Sasha.


aku mengetahui niat busuk itu. aku berjalan masuk sambil berkata, "pulanglah sekarang dalam keadaan hidup!, atau aku akan mengirim-mu pulang dalam keadaan mati!," ucapku, bagai sebuah peringatan eksekusi,

__ADS_1


Mendengar peringatan itu, beberapa peleton draft terlihat kabur dengan dalih kerusakan mesin, mereka dengan sengaja mematikan mesin dan meluncur mengikuti angin.


para draft yang kabur itu adalah para tentara yang dulunya kalah dalam pertempuran melawan bangsanya sendiri, mereka berasal dari wilayah jajahan dari Raja Odes, dan kini di paksa untuk ikut berperang.


TL, buat yang masih gak paham, intinya Raja Odes ini adalah tirani yang merebut setiap wilayah bahkan bangsanya sendiri demi menguatkan kekuasaannya.


waktu itu...


Medan pertempuran kembali berkecamuk, beberapa draft kini menyerang anggotanya pasukannya sendiri, yang terlihat mencoba melarikan diri dari pertempuran dengan alasan apapun.


Vita, Marinka, dan Admiral kini kembali ke dalam formasi, tapi saat aku berjalan masuk, ada sebuah tangan batu raksasa yang mencoba menangkap Unit Black Sir.


"Admiral!,(menarik tangan) awas! " ucap Sasha sambil menarik tubuhku kedalam pesawat.


Sebuah lengan batu raksasa bergulir ke arah pesawat kami, Eva dengan sigap bermanuver menukik, meluncur ke bawah dengan kecepatan tinggi.


Saat itu Sasha berteriak karena melihat sesuatu yang akan kami tabrak.


"Awas!.. itu peledak! " teriak Sasha.


Puluhan ribu peledak di lemparkan dari lambung pesawat raksasa. itu meluncur ke arah kami dengan jutaan bubuk partikel yang pasti mengakibatkan kerusakan parah.


sfx: Brrr! ra! ta!ta! ta! ta !ta! ta! ta! ta! ta! ta!


boom! Boom! Boom! Boom! Boom! Boom!


sebuah pesawat hitam meluncur seakan keluar dari dari sisa asap ledakan, beberapa body pesawat hitam terlihat lecet namun tidak menerima kerusakan yang fatal.


Erika dan Eva terlihat mahir dalam menghadapi semua rintangan ini. mereka melaju dengan kecepatan tinggi di dalam derasnya hujan bahan peledak.


pesawat hitam itu terlihat berputar sambil menembak, kedua gadis seakan bersinergi membentuk sebuah alunan serangan.


Aku dan Sasha terbanting di atas lantai pesawat yang berputar, sambil mencoba berusaha bertahan Menggengam sesuatu di dalam pesawat.


"admiral kamu tidak apa-apa? " ucap Eva sambil fokus bermanuver.

__ADS_1


"matamu! tidak apa-apa, lihatlah admiral terbanting olehmu!" tegur Sasha sambil bergelantung di tubuh admiral.


Pesawat tempur hitam yang menghindari peledak, terlihat meluncur ke kanan dan kiri. Bermanuver dalam keadaan miring dan membuat dua orang terombang-ambing.


"Eva!, aku pusing!, " tegur Sasha sambil memegang kepala.


"Eva!, tolong stabilkan pesawat ini! " ucapku.


"baik!, tapi setelah kita melewati hujan peledak ini! " Jawab Eva sambil fokus mengemudi.


beberapa waktu kemudian...


Eva menyipitkan mata abu-abunya karena melihat sesuatu dari balik hujan peledak,


gadis itu melihat zona di belakang pesawat raksasa yang belum merilis satupun serangan, lalu dengan sigap membawa pesawat hitam itu ke arah sana.


"admiral! Sasha!, cepat kembali ke pos kalian, kita hanya punya waktu 30 detik sebelum mereka menyadari kehadiran kita!" ucap eva sambil menoleh, gadis itu melihat dua orang anggotanya sedang bergelantung, sambil menggenggam pipa ventilasi.


"oke, (melepaskan pegangan dan lari ke kursi) kerja bagus Eva" ucapku sambil mengencangkan sabuk pengaman.


"dasar!... lain kali, hati-hati dalam mengendarai pesawat!." tegur Sasha.


"siap!, sekarang kita akan menyerang balik mereka" ucap Eva sambil memberikan hormat tangan.


Eva membawa pesawat hitam itu ke atas awan, tepat di atas Markas terbang Bangsa Draft. untuk mencari celah dari markas itu.


di atas awan..


Kami berempat menemukan keanehan dari pesawat raksasa yang ada di bawah kami. karena pesawat itu kini memiliki sepasang tangan batu raksasa yang tumbuh dari pecahan reruntuhan.


di bawah terlihat kacau, pesawat raksasa Draft terlihat saling membalas serangan dengan anggota Squadku yang ada di dekatnya, pandangan kami tertutupi Abu merah (pancaran ledakan) dan aku tidak yakin dengan kondisi mereka.


"[srrkk..] admiral!, di mana anda sekarang" suara gemerisik dari beberapa anggota Squadku di headphone, mereka terdengar khawatir dengan keadaanku.


"kami baik-baik saja!... saat ini kami berada di atas, lalu bagaimana keadaan kalian di bawah?"

__ADS_1


"(wost..boom!!). kami bersyukur anda Baik-baik saja... tapi kami memiliki beberapa kabar baik dan buruk!" ucap anggota squadku.


........


__ADS_2