Rising Isekai Apocalypse

Rising Isekai Apocalypse
Chapter 66. Pertemuan dan Seorang Elf yang misterius.


__ADS_3

___Di depan balai desa RedWood___


Kami bertiga duduk di depan jamuan makanan yang telah di sediakan para penduduk.


di sebuah meja panjang yang ada di hadapan kami berderet makanan khas yang terbuat dari buah-buahan yang di petik dari daerah setempat.


"kalian sudah sarapan?... kalau belum, makan saja, karena ini sengaja disediakan untuk kita" ucapku, sambil meraih rokok di dalam saku dan menyalakan-nya.


"tentu!.. dan anda juga harus ikut sarapan" ucap Eva. Gadis itu mengambil beberapa buah dan melahapnya.


"baiklah, tapi aku mau memberitahu bahwa tidak baik bila kita makan dan mendahului tuan rumah" ucap Marinka sambil menghisap pipa rokok miliknya.


Di tengah obrolan kami, aku mendengar beberapa Elf yang ada di dalam bangunan.


mereka berkata 'Dia telah datang!' dan terdengar, 'persiapkan semuanya dengan sempurna'.


("nampaknya aku datang di waktu yang tidak tepat") gumamku, sambil terus menguping pembicaraan.


Tak lama suara pintu terbuka,


Dari balik pintu kayu aku melihat Arlen yang keluar bersama beberapa Elf di sampingnya.


Di dalam kumpulan Elf, aku melihat seseorang yang paling menonjol di antara mereka, Ia terlihat seperti seorang pemuda Elf ber-rambut hitam panjang. pakaiannya seperti seorang bangsawan kaya dan beberapa penjaga di sekeliling-nya.


Pemuda itu menatapku sejenak, sebelum akhirnya kami semua saling memberi hormat dan duduk berhadapan.


"Selamat datang di wilayah Kami Felixian... sepertinya Kamu melewatkan pesta," ucap Arlen sambil tersenyum,


"sebenarnya aku ingin hadir di acara pestamu tapi, aku memiliki sedikit masalah dengan wilayahku" ucapku, menolak dengan perkataan halus.


"permasalahan memang tidak bisa di prediksi" (Arlen menundukkan kepala sedikit dan menggelengkan kepala) "tapi bagaimana hasilnya?, apakah kamu datang kesini untuk meminta bantuan?... kami pasti akan membantumu semampu kami", ucap Arlen.


" Kami tidak ingin merepotkan-mu"


(menghisap rokok)"karena kami sendiri telah berhasil mengusir mereka". ucapku.


"Syukurlah..." ucap Arlen, menghela napas.


Di lain sisi. beberapa Elf terlihat menunjukkan sikap waspada yang tercermin dari ekspresi mereka.


("sudah sewajarnya mereka waspada denganku, sebab kita baru bertemu") pikirku sambil kembali menghisap rokok.


Arlen lalu melanjutkan ucapannya.


" lalu apakah kamu hendak mengambil imbalan?... tapi maaf, kami belum bisa membayarmu, karena tabungan kami habis untuk perbaikan desa" ucap Arlen sambil meminta maaf,


"tak apa kawan, aku mengerti dengan keadaan kalian sekarang" ucapku sambil tersenyum ramah.


"lalu, apakah ada yang bisa kami tukar?... sebagai ucapan rasa Terima kasih kami" ucap Arlen, Ia menawarkan komoditi(barang) yang ada di wilayahnya.


"tentu, tapi kami ingin membelinya darimu" ucapku.


setelah beberapa waktu berbincang...

__ADS_1


Kedua belah pihak akhirnya telah sampai pada sebuah kesepakatan.


Pihak Elf yaitu Arlen, ketua desa, dan Seorang Bangsawan bernama Edgar telah membuat kesepakatan dalam kertas sihir sebagai surat izin awal perniagaan(perdagangan).


Sebuah surat dari kulit kayu yang di buat untuk sementara, dan di terbitkan di wilayah RedWood. surat ini juga dapat di perpanjangan atau di buat versi paten sesuai kontribusi aku di wilayah Elf.


Surat ini memberiku izin untuk membeli sumber daya, meski ada beberapa barang yang tidak bisa aku beli, seperti senjata dan alat sihir.


('ini langkah awal yang bagus,)gumamku sambil membaca surat itu.


kemudian aku membacakan isi surat itu untuk kedua gadis yang ada di sampingku.


Aku menerjemahkan-nya ke bahasa yang mereka mengerti.


keduanya mengeluarkan pendapat masing-masing, dan pada akhirnya kami bertiga membuat proposal tawaran.


Pihak kami menawarkan beberapa jasa kepada para Elf, seperti Jasa pengawal atau tentara bayaran, jasa membangun, dan mengangkut barang.


Kami menawarkan jasa karena tidak ada barang yang bisa kami tawarkan.


"admiral, apakah mereka mau menerima Emas kita?" ucap Eva


"ya, Emas merupakan mata uang di sini" ucapku.


"syukurlah.... kalau begitu aku yang akan ambilkan-nya " ucap Marinka.


Marinka kembali ke dalam kendaraan untuk mengambil beberapa koin emas,


Tak lupa, Ia juga mengecek kembali seluruh perlengkapan yang ada di dalam bagasi truk.


#bam!!! bam!!! dua tembakan di lontarkan ke arah koper itu, koper besar secara spontan terbuka dan sebuah siluet melesat ke udara.


Sebuah siluet dari gadis berambut blonde pendek. Ia memegang tameng sambil menahan kerasnya lontaran peluru dari pistol Marinka,


" dasar bede-bah kecil!... bukannya sudah aku katakan agar kamu tetap tinggal di markas dan membantu Erika!" ucap Marinka sambil memarahi gadis pirang itu.


"Maaf!... tapi aku sepertinya ketiduran ketika menjaga harta jarahan" ucap Sasha kemudian mendarat di tanah dengan pose anggun.


"alasanmu tidak masuk akal!" ucap Marinka, ia kembali mengarahkan kedua pistolnya ke depan wajah Sasha.


"Maaf , apakah salah kalau aku mau ikut?" ucap Sasha, ia kini memasang pose bertahan.


#bam!! bam!! peluru kembali di lontarkan, Sasha dengan kalang kabut berlari ke arah admiral.


"Admiral! tolong aku!"


aku secara spontan berdiri dari tempat duduk dan berlari ke arah keributan, lalu berteriak "Ada apa ini!!"


Melihat kedatanganku, Marinka dengan nada marah berteriak


"admiral!, awas!, jangan menghalangi ku"


#Bam!! bam!! tembakan kembali di lontarkan.

__ADS_1


"admiral!, hentikan perawan gila itu!," ucap Sasha sambil meledek Marinka.


"beraninya kamu mengejekku rubah kuning!, aku! AKU AKAN SERIUS MULAI SEKARANG!" ucap Marinka dengan ekspresi yang benar-benar marah.


"kalian berdua! mentikan!!!!" teriakku


# "BAM!,BAM! BAM! BAM! BAM!"


Marinka kembali memberondongkan peluru ke arah Sasha yang ada di dekat para Elf.


Saat itu aku dengan sigap mengeluarkan tamengku dan meghalau puluhan peluru yang datang.


#brakk!!. asap mengepul dari lubang bekas peluru yang ada di tameng.


Waktu itu beberapa elf terlihat ketakutan kecuali Bangsawan Edgar yang mengaktifkan pelindung Sihir.


Moment ini terasa kacau dengan keributan yang tiba-tiba terjadi pada mereka berdua.


(ini membuatku malu) pikirku.


aku dengan sigap melirik mereka dengan pandangan dingin lalu dengan nada marah berkata " kalian berdua!, pulanglah sekarang juga!"


saat itu keduanya terlihat pasrah, dan sadar akan perbuatan mereka,


"Admiral maafkan saya!", ucap Sasha dengan nada sedih.


" Admiral maafkan aku" ucap Marinka dengan nada lirih


"ini salah Sasha!" ucap Marinka.


"tidak, ini salahmu Marinka! karena kamu menembak duluan" ucap Sasha.


keduanya kembali berseteru tapi dengan kata-kata.


Waktu itu, aku dengan marah menghentikan mereka, aku meyumpal mulut mereka dengan makanan dan memaksa mereka untuk diam,


"Kalau kalian mau ikut denganku maka dengarkan ucapanku dan tidak boleh ada perkelahian di antara teman.. kalian paham!,.. kalau tidak aku tidak akan mengajak kalian lagi" Ucapku sambil mengancam mereka berdua.


Waktu itu keduanya mengangguk tanpa kata.


para Elf yang ada di sana terlihat bingung dengan apa yang telah terjadi, tapi Eva dengan sigap bertempuk tangan seakan mencairkan suasana yang kacau.


"Admiral, bilang kepada mereka bahwa ini adalah pertunjukan" Ucap Eva.


"tapi" (ucapanku terpotong)


"bilang saja" ucap Eva sambil terus bertepuk tangan.


" Baiklah (aku menoleh ke arah para Elf lalu berkata) "maaf ini hanya sebuah pertunjukan" ucapku sambil menggaruk kepada karena malu.


Para Elf yang binggung dan takut langsung tertawa sedikit lalu mereka ikut bertepuk tangan dan berkata, "ini pertunjukan yang menarik dan cukup mendebarkan".


("untung nya Eva cukup pintar ubah membaca situasi") pikirku.

__ADS_1


Saat itu Egdar menatapku sambil tersenyum dengan senyuman yang cukup misterius.


__ADS_2